by

Pandangan Sunni dan Syiah tentang Fikih dan Ijtihad [2/7]

Mujtahid yang tak Tertandingi; Mu‘âwiyah bin Abu Sufyân dan ‘Amr bin ‘Âsh Mu‘âwiyah

Dalam Al-Fashl-nya, Ibn Hazm berkata—yang ringkasnya: “Sesungguhnya Mu‘âwiyah dan orang-orang yang bersamanya telah bersalah, berijtihad, dan berhak mendapatkan satu pahala.” [Al-Fashl fî Al-Milal wa Al-Ahwâ’ wa An-Nihal., karya Au Muhammad Ali bin Hazm Al-Andalûsî Azh-Zhâhirî (wafat 456 H.), cet. Mesir Ahmad Nâjî Al-Jamâlî dan Muhammad Amîn Al-Khânijî, tahun 1321 H. dan di dalam catatan kakinya terdapat Al-Milal wa An-Nihal., karya Asy-Syahrastanî. Silakan Anda rujuk Al-Fashl, jil. 4, hal. 1]

Pembahasan sebelumnya Pandangan Sunni dan Syiah tentang Fikih dan Ijtihad [1/7]

Ia berkata: “Mu‘âwiyah—semoga Allah meridainya—telah bersalah dan mendapatkan satu pahala, karena ia telah berijtihad.” [Al-Fashl, karya Ibn Hazm, jil. 4, hal. 89]

Pada suatu kesempatan yang lain, ia menjelaskan tentang Mu‘âwiyah dan ‘Am bin ‘Âsh seraya berkata: “Mereka berijtihad dalam masalah darah sebagaimana para mufti berijtihad. Di antara mereka ada yang berpen-dapat bahwa seorang penyihir harus dibunuh dan di antara mereka juga ada orang yang tidak berpendapat demikian. Dengan demikian, apakah ada perbedaan antara seluruh ijtihad (para mufti) tersebut dan ijtihad yang telah dilakukan oleh Mu‘âwiyah, ‘Amr, dan selain mereka seandainya bukan karena kebodohan, kebutaan, dan pencampuradukan tanpa pengetahuan (yang melihat perbedaan di antara kedua jenis ijtihad itu)?!” [Ibid., hal. 160]

Ibn Taimiyah telah mencarikan alasan untuk Mu‘âwiyah atas segala tindakan yang telah dilakukan bahwa ia telah berijtihad. Ia berkata: “Dalam hal ini, ia tidak berbeda dengan Ali bin Abi Thalib.” [Minhâj As-Sunah, jil. 3, hal. 261, 275-276, 284, dan 288-289]

Baca Ijtihad Menurut Imam Baqir as

Ibn Katsîr berkata: “Mu‘âwiyah adalah seorang mujtahid yang berhak mendapatkan pahala, insyâ-Allah.” [Târîkh Ibn Katsîr, jil. 7, hal. 279]

Setelah memaparkan kisah arbitrasi (tahkîm) antara ‘Amr dan Abu Mûsâ, ia berkata: “’Amr bin ‘Âsh menetapkan Mu‘âwiyah (sebagai khalifah) lantaran tuntutan kemaslahatan yang diyakininya, dan ijtihad bisa salah dan bisa juga benar.” [Ibid., hal. 283]

Di dalam Ash-Shawâ‘iq-nya, Ibn Hajar Al-Haitsmî berkata: “Dan di antara keyakinan Ahli Sunah wal Jamaah juga adalah, bahwa Mu‘âwiyah bukanlah seorang khalifah (muslimin) pada masa Ali berkuasa. Ia hanyalah seorang raja, dan karena ijtihadnya ia berhak mendapatkan satu pahala. Adapun Ali, ia berhak mendapatkan dua pahala; satu pahala karenaijtihadnya dan satu pahala lagi lantaran kebenaran ijtihadnya tersebut …….” [Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, karya Ibn Hajar, hal. 216]

Dalam bukunya yang lain, Tathhîr Al-Jinân wa Al-Lisân ‘an Al-Khuthûr wa At-Tafawwuh bi Tsalbi Sayidinâ Mu‘âwiyah bin Abi Sufyân, Ibn Hajar berkata: “Mu‘âwiyah berhak mendapatkan pahala karena ijtihadnya lantaran hadis yang menegaskan, ‘Jika seorang mujtahid berijtihad dan ia benar dalam ijtihadnya itu, maka ia berhak mendapatkan dua pahala, dan jika ia berijtihad dan salah dalam ijtihadnya itu, maka ia berhak mendapatkan satu pahala.’ Dan Mu‘âwiyah—tidak diragukan lagi—adalah seorang mujtahid.

Jika ia salah dalam seluruh ijtihadnya itu, maka ia masih berhak mendapatkan pahala, dan kesalahan itu bukanlah sebuah kekurangan baginya.” [Tathhîr Al-Jinân, karya Ibn Hajar, hal. 15]

Setelah itu, ia membuka sebuah bab yang panjang demi mem-buktikanijtihad Mu‘âwiyah. [Ibid., hal. 19-22] Ketika menakwilkan arti Al-bâghî (pembangkang, orang yang lalim) di dalam Ash-Shawâ‘iq-nya, ia berkata: “Dalam buku Al-Anwâr, salah satu buku para imam kita yang hidup pada masa sekarang ini disebutkan bahwa Albâghûn (para pembangkang, orang-orang lalim) tidak fasik dan tidak juga Al-Kâfîr. Akan tetapi, mereka adalah orang-orang yang bersalah dalam tindakan yang telah dilakukan dan dalam keyakinan yang telah dianut, dan tidak boleh kita mencela Mu‘âwiyah, karena ia adalah salah seorang sahabat besar.” [Ash-Shawâ‘iq Al-Muhriqah, karya Ibn Hajar, hal. 221]

Di dalam catatannya atas buku Tathhîr Al-Jinân, setelah menukil dari kitab Dirâsât Al-Labîb bahwa banyak sahabat yang menentang Mu‘âwiyah berkenaan dengan hal-hal baru (bid‘ah) yang telah dilakukan olehnya, Syaikh Abdul Wahhâb Abdul Lathîf berkomentar: “Sebagai contoh atas itu semua, peristiwa dan fatwa-fatwa yang sangat banyak yang sumber utamanya adalah perbedaan pendapat yang biasa terjadi di kalangan para mujtahid atau ketidaktahuan tentang adanya nas. Dan hal-hal yang serupa dengan ini juga terjadi di kalangan sahabat dan selain mereka. Oleh karena itu, kesalahan-kesalahan itu tidak mengeluarkan Mu‘âwiyah dari barisan para mujtahid.” [1 Syaikh Abdul Wahhâb adalah seorang dosen di Fakultas Syariah di Kairo. Kami menukil catatannya atas Tathhîr Al-Jinân, hal. 18. Ia telah menukil pendapat tersebut dari buku Dirâsât Al-Labîb fî Al-Uswah Al-Hasanah li Al-Habîb, karya Mu‘în bin Amîn, pelajaran kedua]

Abul Ghâdiyat, Si Pembunuh ‘Ammâr

Di dalam Al-Fashl-nya, Ibn Hazm berkata: “Dan ‘Ammâr telah dibunuh oleh Abul Ghâdiyat Yasâr bin Sabu‘ As-Sullamî. Ia pernah mengikuti baiat Ridhwân. Ia adalah salah seorang saksi Allah lantaran Dia mengetahui segala yang ada di kalbunya, menurunkan ketenangan atasnya, dan rida atasnya. Adapun Abul Ghâdiyat, ia telah melakukan takwil, berijtihad, salah dalam ijtihadnya, berbuat kezaliman atasnya, dan masih berhak mendapatkan satu pahala. Dan hal ini tidak sama dengan para pembunuh Utsman, karena bukan pada tempatnya mereka berijtihad untuk membunuhnya ….” [Al-Fashl, jil. 4, hal. 161]

Ibn Hajar juga berkomentar demikian ketika ia memaparkan biografinya di dalam Al-Ishâbah dan menganggapnya ke dalam barisan para mujtahid dari kalangan sahabat, sebagaimana akan dijelaskan nanti.

Dikutip dari Syiah dan Ahli Sunnah Jilid II, Sayyid Murtadhâ Al-‘Askarî

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed