by

Salahkah Menjadi Muslim Syiah?

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diberi kebebasan ( ikhtiyar) dalam menentukan pilihannya dalam segala urusan ikhtiyari-nya, termasuk keyakinannya; agama dan mazhab. Seseorang bisa memilih Islam atau Kristen atau Yahudi atau agama lainnya. Sebagaimana dia juga bisa memilih Syiah atau Sunni atau pecahan-pecahan dari keduanya. Benar bahwa meskipun semua itu adalah pilihan-pilihan tapi banyak faktor eksternal yang mempengaruhinya untuk menentukan pilihannya. Muslim Formalitas.

Untuk menjadi seorang yang beragama, maka seseorang pasti (bukan harus) meyakini adanya Tuhan Pencipta alam semesta dan adanya hari akhir. Dan untuk menjadi Muslim, selain dua keyakinan tadi dia harus meyakini kerasulan Nabi Muhammad saw. dengan semua yang diterima (Qur’an) dan dibawa (Sunnah) olehnya. Kemudian ke-islamannya diformalitaskan dan diformulakan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan solat lima kali dalam sehari, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat bagi yang memiliki harta lebih dan melakukan umroh dan haji bagi yang mampu.

Baca Juga: Fakta tentang Eksistensi Syiah

Dengan demikian, dia telah resmi menjadi seorang Muslim dan dia harus diperlakukan sebagai seorang Muslim; haram (ditumpahkan) darahnya, boleh dinikahi, harus disolati jenazahnya dan hal lainnya yang dijelaskan dalam kitab-kitab Fiqih.Semua ketentuan itu diyakini dan dijalankan oleh seorang penganut Syiah. Dengan kata lain, orang Syiah meyakini Allah sebagai Pencipta alam semesta dan hari akhirat, serta meyakini Nabi Muhammad saw. sebagai nabi akhir zaman dengan semua yang diterima (Qur’an) dan dibawa (Sunnah) olehnya. Dia juga mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan salat lima kali dalam sehari, menunaikan zakat dan melakukan umroh dan haji. Karena itu, Syiah adalah Muslim secara formalitas, dan harus diperlakukan sebagai Muslim.

Ajaran dan Perbuatan Muslim Syiah yang benar adanya adalah meyakini bahwa sumber agama setelah Kitabullah dan Sunnah Nabi adalah Ahlul Bait. Ahlul Bait, dalam keyakinan mereka, merupakan penerus fungsi dan peranan Nabi saw. dalam menyampaikan dan menjaga kemurnian agama Islam, dan mereka adalah orang-orang yang suci (maksum). Karena itu, dalam membangun agama Islam serta menjalankan ajaran-ajaran Islam, mereka mengikuti Kitabullah, Sunnah Nabi dan Sunnah Ahlul Bait. Dalam hal ini, boleh saja kelompok Islam lain tidak sependapat dengan mereka. Namun, baik yang meyakini ajaran ini atau tidak meyakininya tetap berada dalam batas-batas (wilayah) ke-islaman, dan tetap dihukumi sebagai Muslim dengan segala konsekuensinya.

Baca juga: Pandangan Sunni dan Syiah tentang Fikih dan Ijtihad [2/7]

Termasuk ajaran Syiah yang benar adanya dalam ranah fiqih (furuiyyah) adalah nikah mut’ah. Kelompok ini menyatakan bahwa nikah mut’ah adalah halal selama dilakukan sesuai aturan fiqih yang berlaku, dan bukan untuk mengumbar nafsu birahi. Nikah ini sama dengan nikah biasa dengan perbedaan bahwa nikah ini dibatasi waktu yang disepakati oleh dua belah pihak. Menerima atau menolak ajaran mut’ah tidak mengurangi atau menambah ke-islaman seseorang, dan masing-masing mempunyai dalil tersendiri. Ajaran Syiah yang tidak benar adanya, tapi hanya fitnah belaka seperti meyakini Ali sebagai nabi.

Keyakinan ini jelas bertentangan dangan ayat Qur’an yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi akhir zaman (khatam al nabiyyin), dan kelompok Muslim Syiah, sebagaimana telah dijelaskan, meyakini semua yang diterima dan dibawa olehnya, termasuk bahwa beliau adalah Nabi yang terakhir. Contoh lain dari ajaran yang tidak benar adanya  adalah meyakini adanya Kitabullah yang berbeda dengan Kitabullah yang diyakini kelompok Muslim lainnya. Dari dahulu sampai saat ini serta selanjutnya tidak akan ditemukan di tengah kelompok Syiah sebuah naskah dari kitab itu. Selain itu, dunia Islam telah menyaksikan ratusan qari’ dan hafidz ( penghafal) Qur’an dari kelompok Syiah.

Baca juga: Pandangan Sunni dan Syiah tentang Fikih dan Ijtihad [1/7]

Mereka ikut serta dalam perlombaan tilawatul Qur’an (MTQ) di pelbagai belahan dunia. Dua ajaran itu jelas bukan ajaran yang diyakini oleh kelompok Syiah, dua ajaran itu hanya fitnah dan tuduhan belaka, dan sama sekali tidak berdasar. Fitnah dan tuduhan itu muncul karena kebencian dan permusuhan dari pihak-pihak tertentu dari zaman dahulu hingga saat ini demi kepentingan tertentu. Selain ajaran, kelompok Syiah dianggap bukan Muslim oleh sebagian kalangan karena beberapa tindakan mereka, seperti mencaci maki sahabat Nabi Muhammad saw. Caci maki bukan ajaran Islam.  Perbuatan ini tidak dibenarkan dalam Islam.

Qur’an sendiri melarang umat Islam mencaci maki kaum Musyrikin (lihat al An’am 108). Siapapun dari kaum Muslimin yang mencaci maki manusia, kelompok, mazhab, agama dan lain sebagainya berarti dia telah melakukan sebuah kesalahan. Meski demikian, dia tetap masih sebagai Muslim dan tidak dianggap keluar dari Islam karena kesalahannya itu. Karena itu, orang Syiah yang mencaci maki sahabat Nabi saw. adalah orang Syiah yang melakukan kesalahan besar, tapi dia tetap sebagai Muslim dan tidak keluar dari Islam. Secara spesifik para ulama Syiah mengharamkan perbuatan itu.

Contoh lain dari perbuatan orang Syiah adalah melukai diri sendiri dalam memperingati Asyura’. Melukai diri sendiri jelas dilarang dalam agama Islam. Orang Syiah yang melakukannya berarti telah melakukan perbuatan yang terlarang, tapi sekali lagi melakukan perbuatan itu tidak menyebabkan dia keluar dari agama Islam.

Kesimpulan
Salahkah menjadi Muslim Syiah ? Jawabannya adalah dia tidak bersalah hanya karena meyakini Ahlul Bait sebagai penerus Nabi Muhammad saw. dan menerima ajaran mut’ah. Dia bersalah jika mencaci maki sahabat Nabi saw.atau melukai diri sendiri. Kesalahannya terletak pada perbuatannya bukan pada ajarannya. Kesalahan juga dilakukan oleh Muslim Sunni ketika dia melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Islam seperti memfitnah, mensesatkan dan membunuh kelompok Muslim. Dengan demikian, Muslim Syiah dan Muslim Sunni tetap berada dalam wilayah Islam selama mereka meyakini Allah, Hari Akhirat dan Nabi Muhammad saw. sebagai nabi terakhir serta mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan solat lima kali dalam sehari dan seterusnya. Dan mereka semuanya bisa saja melakukan pelanggaran dan kesalahan. Karena itu, mereka harus berlomba-lomba dalam kebaikan dan meninggalkan keburukan. (Husein Alkaff)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed