by

Memahami Teks-teks Agama

Seruan menuntut ilmu yang menunjukkan arti wajib bagi setiap muslim, tujuannya ialah agar dia mengetahui taklif atau tugas syar’i atau kewajiban-kewajibannya -untuk dia laksanakan. Selain itu, agama juga menyerukan agar di antara umat Islam ada orang-orang yang melakukan pengkajian dan penelitian serta pendalaman tentang teks-teks yang terdapat di dalam Alquran dan hadis yang memuat pesan-pesan keagamaan (QS: at-Taubah 122).

Islam memerlukan mereka itu. Yakni, orang-orang yang memiliki kepakaran dalam agama. Mereka menjadi ulama atau para pemuka agama, yang telah dibesarkan oleh Islam dan diangkat kedudukan mereka menjadi pewaris para nabi –demikian yang disabdakan Rasulullah saw. Tanpa mereka, wajah agama akan memudar oleh zaman. Ajaran-ajarannya yang murni dahulu tersampaikan dalam penyimpangan atau kesamaran, dan tangan-tangan jahil akan menjamah agama yang suci ini.

Dengan kedudukan yang mulia itu mereka membawa tugas yang berat, seperti menjadi rujukan dan tauladan bagi umat dalam keagamaan dan keberagamaan. Mereka selalu ditanya soal agama dan dalam urusan-urusan kehidupan, sebagaimana umat diserukan oleh Alquran agar bertanya kepada mereka yang ahlinya. Firman Allah: “maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS: an-Nahl 43)

Artikel terkait: Peran Agama Dan Akal Dalam Tradisi Dan Budaya Leluhur. Al-Baqarah : 170

Ulama itulah yang melaksanakan seruan QS: at-Taubah 122, ialah menuntut ilmu-ilmu agama dan mendalaminya, untuk kemudian mereka menjadi rujukan umat. Mereka telah meluangkan banyak waktu dan menghabiskan umurnya dalam pengkajian dan penelitian ilmu-ilmu agama.

 

Dua Dasar Pemikiran dalam Memahami Teks-teks Keagamaan

Mereka melakukan itu untuk memahami pesan-pesan agama di dalam Alquran dan hadis. Syaikh Ali Rabbani Golpaygani dalam bukunya “al-Hermeneutiqa wa Manteq Fahmid Din”, bab II, menjelaskan dasar-dasar memahami agama. Ia mengatakan, “Memahami konsep-konsep umum agama di dalam teks-teks samawi, bersandar pada dua macam dasar pemikiran dan pengetahuan berikut ini:

1-Penisbatan agama kepada Syari’ (pembawa atau pembuat syariat), sehingga memungkinkan konsep-konsep dan ajaran-ajaran Islam dipahami sebagai ilmu pengetahuan dan hukum Islam. Hal ini direalisasikan oleh prinsip-prinsip rasional dan pengetahuan yang bersifat teologis. Prinsip atau dasar ini diistilahkan dengan prinsip kesanadan (sanadiyah atau shuduriyah; penisbatan kepada Syari’).

2-Setelah dikukuhkan penisbatan itu, langkah berikutnya ialah (upaya mencapai) pemahaman dan pengetahuan yang berkaitan dengan konsep-konsep keagamaan yang dinisbatkan kepada Syari’. Hal ini pun direalisasikan oleh prinsip-prinsip pengetahuan dan pemikiran yang bersifat rasional, yang berujung pada prinsip-prinsip keyakinan. Prinsip atau dasar ini diistilahkan dengan prinsip kema’rifatan atau dilâliyah (indikatif).

Dua prinsip itulah yang sejak dahulu dikaji oleh para pemikir Islam. Khusus dalam masalah ini, Syaikh Thusi dalam kitabnya “‘Uddatul Ushul”, halaman 174-175, mengungkapkan: “Ketahuilah bahwa pengetahuan maksud pesan Tuhan atau kalam ilahi adalah perkara yang tidak mungkin, kecuali setelah mengetahui beberapa hal berikut ini:

1-Pesan itu adalah firman Allah. Selama kita tidak mengetahui bahwa itu adalah pesan-Nya, kita tidak dapat mengangkatnya sebagai perantara untuk memahami maksudnya.

2-Tak mungkin bagi Allah swt dalam firman-Nya tiada maksud memahamkan maknanya.

3-Tak mungkin bagi Allah swt menggunakan kalam-Nya dengan cara yang tak dapat diterima (akal), misalnya –naudzubillah- menyuruh berdusta, atau pada saat yang sama menyuruh sesuatu yang diutamakan, atau melarang sesuatu yang utama.

4-Tak mungkin bagi Allah menggunakan kalam-Nya dalam makna-makna di luar penggunaan kata-kata padanya tanpa sebuah indikasi (qarinah).

Bila perkara-perkara yang menjadi syarat tersebut dipenuhi, memungkinkan berargumen dengan firman Allah atas maksudnya. Jika tidak terpenuhi semua perkara itu atau sebagiannya, maka tidak memungkinkan demikian itu.

Alquran Terpelihara dari Kesalahan

Poin pertama yang disampaikan Syaikh Thusi terkait dengan prinsip sanadiyah dalam kalam ilahi, dan semua poin tersebut terkait dengan prinsip dilaliyah.

Alquran adalah sumber utama ilmu pengetahuan (ma’arif) dan hukum Islam. Kemudian Sunnah, -menurut Syiah– adalah ucapan, perbuatan dan prilaku seorang ma’shum (Rasulullah saw dan Ahlulbaitnya), sebagai sumber yang kedua dalam prinsip-prinsip syariat dan cabang-cabangnya. Namun demikian tak berarti menolak peran akal sebagai sebuah sumber yang menyingkap tentang teks-teks keagamaan.

Artikel terkait: Arbain Imam Husain as, antara Ritual Agama dan Wisata

Atas dasar tersebut prinsip kesanadan Islam terbagi dua macam:

1-Prinsip-prinsip shuduriyah (penisbatan perkataan kepada Allah swt) terkait dengan Alquran.

2-Prinsip-prinsip kesanadan terkait dengan Sunnah.

Kaum muslimin meyakini bahwa Alquran -isi, lafaz dan susunannya- adalah yang diwahyukan kepada Nabi saw melalui Jibril as yang disebut “ar-Ruhul amin” dalam QS: asyu-Syu’ara 192-195, Ruhul qudus dalam QS: an-Nahl 102, dan Rasul karim dalam QS: at-Takwir 19-21.

Nama malaikat penyampai wahyu ini disebut dalam ayat lainnya (QS: al-Baqarah 97), firman Allah:

Katakanlah, “Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah; membenarkan kitab-kitab (samawi yang telah diturunkan) sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Artikel terkait: Allamah Thabathabai: Makna Kehidupan, Komitmen Menjalankan Ajaran Agama Dan Menjaga Akhlak

Alkisah –tentang sebab turunnya ayat ini, Yahudi kala itu memusuhi Jibril, karena ia turun dengan membawa hukum terkait dengan tugas-tugas yang berat. Konon mereka menyukai malaikat Mikail, karena yang dia bawa adalah masalah-masalah yang mudah dan berkaitan dengan kesenangan. Karena itu mereka berkata Nabi saw: “Sekiranya Jibril tidak datang membawa Alquran, niscaya kami beriman kepadamu.” Lalu turunlah ayat itu membalas perkataan mereka ini.

Referensi: – al-Hermeneutiqa wa Manteq Fahmid Din/Syaikh Ali Rabbani Golpaygani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed