by

Apakah Hakikat Bai’at itu? Dan apakah Perbedaannya dengan Pemilihan Umum?

Bai’at adalah satu jenis perjanjian dan kontrak antara Pemberi bai’at dari satu sisi, dan penerima bai’at dari sisi lain. Muatan bai’at ini adalah ketaatan, mengikuti, menolong, dan membela orang yang dibai’at. Dan sesuai dengan syarat yang disebutkan dalam bai’at, bai’at memiliki tingkatan.

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadis, bai’at mempakan sejenis kontrak yang mengikat (‘aqd lazim) dari sisi pemberi bai’at. Ia wajib mengamalkan apa yang telah diikrarkannya dalam bai’at tersebut. Dengan demikian, hal ini termasuk bagian dari kaidah umum; “Aufu bil ‘uqud (penuhilah aqad-aqad itu)” (QS.Al-Maidah [5]:1)

Baca juga: Pandangan Sunni dan Syiah tentang Fikih dan Ijtihad [2/7]

Oleh karena itu, orang yang memberikan bai’at tidak berhak untuk meninggalkan bai’at-nya. Akan tetapi, apabila menurut penerima bai’at tidak baik, ia dapat mencabut dan meninggalkan bai’at tersebut. Ketika itulah pemberi bai’at baru terbebas dari keharusan menaati janji yang diikrarkannya.l

Sebagian orang beranggapan bahwa bai’at itu ibarat pemilihan atau sejenisnya. Padahal pemilihan persis kebalikan dari bai’at. Maksudnya, esensi pemilihan hanya mewujudkan satu jenis tugas, tanggung jawab, dan kedudukan bagi orang-orang yang dipilih. Dengan kata lain, pemilihan mempakan satu jenis perwakilan dan representasi dalam menunaikan sebuah pekerjaan. Sementara pemilih dalam pemilihan ini memiliki tugas-tugas, (seperti seluruh representasi), bai’at tidak demikian adanya.

Dengan ungkapan lain, pemilihan adalah pemberian kedudukan, dan sebagaiamana yang telah kami sebutkan, seperti perwakilan dan representasi, sementara bai’at adalah pergikatan ikrar untuk taat.

Baca juga: 12 Imam Setelah Rasulullah Saaw Dalam Riwayat Ahlussunnah [1/2]

Pada sebagajan efeknya, mungkin kedua kategori ini memiliki kesamaan. Akan tetapi, kesamaan ini tidak berarti kesatuan esensi. Maka, dalam masalah bai’at, pemberi bai’at tidak dapat untuk meninggalkan bai’at-nya, sementara, dalam urusan pemilihan, dalam banyak kasus, para pemilih memiliki hak untuk menanggalkan pemilihan sehingga mereka dapat mendepat secara kolektif orang yang dipilih. (Perhatikan baik-baik).1

Catatan kaki:
1.Pada tragedi Karbala disebutkan bahwa Imam Husain a.s. pada malam Asyura membaca doa sembari menyatakan apreasi dan respek terhadap para sahabat dan penolongnya. Imam Husain a.s menarik bai’at mereka, sehingga mereka bebas ke mana pun mereka hendak pergi. (Akan tetapi, mereka temp setia kepada Imam Husain a.s.). Silakan rujuk Al-Kamil. karya Ibn Atsir, jilid 4, hal. 57.

2. Tafsir Nemuneh, jilid 22, hal. 71.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed