by

Narasi Konsep Kesucian (1)  (Bagian 1)

Hampiran Alquran

“Agama Islam adalah agama suci, dari Tuhan Mahasuci, dibawa oleh Nabi yang suci, serta dijabarkan dalam Kitab suci.”

Kesucian adalah tema sensitif di lingkungan perbandingan mazhab. Beberapa kelompok mengklaim, konsep ini sebenarnya diadopsi dari luar Islam. Syiah, sebagai kelompok yang memegang tradisi ini pun, dianggap telah menginfiltrasi ajaran luhur Nabi Muhammad saw dengan susupan ajaran agama lain.

Kajian ini ingin menyajikan kepada pembaca, bahwa konsep indah ini justru mempertemukan dua arus utama khazanah Islam, Sunah dan Syiah.

Asal Muasal

Istilah “kesucian” diterjemah dari Bahasa Arab, ismah. Terdapat tiga belas penggunaan kata ini di dalam Alquran, dengan berbagai bentuknya. Semuanya merujuk kepada satu makna, yaitu ‘menahan’ dan ‘mencegah’, kendati digunakan untuk beberapa konteks berbeda.

Baca juga: Jawaban Atas Tuduhan Syiah Buatan Yahudi

Menurut Ibnu Faris, “Ashama adalah satu pokok kata yang menunjuk makna menahan dan pencegahan. Ishmah bermakna, Allah swt. melindungi hamba-Nya dari melakukan keburukan.”[1]

Berikut ini dua contoh ayat Alquran. Pertama, Allah swt. memerintahkan kaum Mukminin untuk berpegang teguh terhadap temali Allah, sebagaimana dalam firman-Nya:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali( agama )Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran[03]:103)

Ayat ini menyeru agar kita berpegang teguh dan mengambil temali Allah swt. dengan segenap kekuatan dan kemampuan.

Kedua, Allah swt. mengisahkan ungkapan Zulaikha:

“…dan sesungguhnya aku telah menggoda dia untuk menundukkan dirinya (kepadaku) akan tetapi dia menolak.” (QS. Yusuf[12]:32).

Penggunaan kata ismah pada ayat pertama bermakna ‘menahan’ dan ‘menjaga’, pada ayat kedua bermakna ‘pencegahan’ dan ‘penolakan’. Seluruhnya merujuk kepada satu makna yang sama. Kita juga mendapati, orang Arab menamakan temali yang digunakan mengikat pelana dengan sebutan isam, karena mencegahnya dari terjatuh.

Baca juga: 12 Imam Setelah Rasulullah Saaw Dalam Riwayat Ahlussunnah [1/2]

Dengan demikian, ismah dari Allah harus dimaknai sebagai bimbingan yang menyelamatkan seseorang dari hal yang membinasakan. Hampir sama, seperti kita memberi temali untuk dipegang seseorang yang akan tenggelam, lalu ia menjadi selamat. Temali yang dipegang itu disebut ismah. [2]

Merujuk kepada makna-makna di atas, kesucian adalah terpeliharanya manusia dari kesalahan dan pembangkangan. Keterpeliharaan ini menjangkau ruang pemikiran dan rencana. Seorang Maksum mutlak tidak pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, tidak mendurhakai Allah swt. sepanjang hidup, serta tidak pernah memiliki kehendak untuk melakukan kedurhakaan dan tidak pula memikirkannya.

Awal Mula Kemunculan Konsep Kesucian

Jelas, konsep kesucian tidak akan dilahirkan dari tradisi Yahudi. Seperti kita ketahui, Kitab Perjanjian Lama masih menisbahkan kemaksiatan kepada nabi-nabi mereka. Bukan pula bersumber dari ajaran Nasrani. Mereka menyucikan Nabi Isa as, bukan sebagai utusan Tuhan untuk membimbing manusia dan menyelamatkan mereka. Menurut mayoritas mereka, al-Masih adalah ‘Tuhan yang Menjelma’.

Terlepas dari penyandang sifat kesucian, Alquran telah mengenalkan prototype ‘keterpeliharaan dari kesalahan dan pembangkangan’. Allah swt. berfirman, menyifati para malaikat yang ditugasi menjaga Neraka:

 “…penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrim[66]:05).

Kita tidak akan menemukan kata yang lebih tegas dari firman Allah swt, ‘yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,’ untuk mendefinisikan hakikat kesucian, juga realitasnya. Inilah asal mula konsep kesucian.

Alquran juga mendeskripsikan kesucian dirinya, sebagaimana dalam dua ayat berikut:

“Yang tidak datang kepadanya (Alquran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fusshilat[41]:42).

Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin…” (QS. al-Isra’[17]:09).

Penyifatan dan deskripsi ini menegaskan keterpeliharaan Alquran dari segala bentuk kesalahan dan kesesatan.

Baca juga: Syiah antara Fitnah dan Fakta: Nikah Mut’ah

Atas dasar ini, maka konsep kesucian dengan pengertiannya yang luas, telah disajikan oleh Alquran dan menyatukan pandangan kaum Muslimin tentangnya. Ulama kaum Muslimin tak perlu menyadur pemikiran ini dari para rahib dan pendeta.

Iya. Meskipun secara tekstual, objek-objek yang disifati ‘suci’ dalam ayat-ayat ini adalah malaikat dan Alquran, namun menurut pakar teologi, yang dituju adalah kesucian para nabi. Apapun bentuk perselisihan di internal Islam tentang sesiapa yang layak disifati, tidak memengaruhi fakta, bahwa Alquran adalah penggagas pemikiran kesucian ini. Sebab yang paling penting, mengetahui sumber terciptanya pemikiran ini, lalu membaca perkembangannya di tangan para teolog Muslim. Kiranya, cukup menjadi bukti, bahwa Alquran telah menyajikan permasalahan kesucian ini berkaitan dengan hak para malaikat dan Alquran.

 

[1] Ibnu Faris, Maqayis al-Lughah,4/331.

[2] Syekh Mufid, Awail al-Maqalat,11.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed