by

Narasi Konsep Kesucian (1) (Bagian 2)

Kesucian Nabi saw. di Dalam Alquran

Lebih jauh, kesucian memiliki empat level. Alquran menjelaskan empat tingkat tersebut sehubungan dengan para nabi secara umum, dan Nabi saw. secara khusus. Kita akan merincinya disertai argumentasi Qurani (pada seri artikel berikutnya).

Bila Alquran adalah yang pertama kali menyajikan konsep kesucian ini, dengan semua jenjang dan argumentasinya, maka bagaimana mungkin dapat dibenarkan menisbahkannya kepada kelompok tertentu, seperti Syiah misalnya, dengan asumsi bahwa mereka adalah sumber gagasan permasalahan ini?

Jika Anda meragukan penjelasan ini, silakan perhatikan diksi yang dipilih Allah swt. mengenai hak Nabi saw. Alquran menyifati ucapannya yang agung, dengan firman indah:

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS.an-Najm[53]:3-4).

Baca juga: Mengapa Mazhab Ahlulbait? [3/3]

Kita dapat melihat, dua ayat di atas mengisyaratkan dengan tegas, bahwa Nabi saw. tidak pernah berbicara berdasarkan tendensi psikologis. Segala yang diucapkan adalah wahyu yang dibenamkan ke dalam jiwa dan hatinya. Barangsiapa tidak pernah berbicara berdasarkan tendensi kejiwaan dan ucapannya selalu didasarkan pada wahyu, maka tentu dia terpelihara dari kesalahan dalam dua fase: fase pengambilan dan penerimaan, serta fase penyampaian dan pernyataan.

Bagaimanapun, ayat-ayat Alquran dengan tegas menyifati hati dan mata Nabi saw. dengan narasi, “bahwa hati dan matanya tidak pernah berdusta, menyimpang dan sewenang-wenang,” Sebagaimana firman Allah swt:

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya. Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.” (QS. an-Najm[53]:11-17).

Dengan demikian, tak ada lagi alasan memercayai klaim orientalis Yahudi atau Nasrani. Konsep kesucian adalah identitas Islam, bukan hasil adopsi ideologi.

Baca juga: Inilah Riwayat Keutamaan Azzahra Yang Kalian Harus Tahu

“Sejak waktu disapih, Allah telah menempatkan seorang malaikat yang kuat bersama beliau untuk membawanya sepanjang jalan akhlak yang luhur dan perilaku yang baik, siang dan malam..” [1] Demikian kesaksian Ali bin Abi Thalib dalam sebuah ceramahnya, mengenai kesucian diri Nabi saw.

Ini adalah Isyarat “tingkat tinggi” atas kesucian Nabi saw. Karena seseorang yang diasuh oleh malaikat agung semenjak disapih, hingga akhir kehidupannya, akan senantiasa terjaga dari penyimpangan dan kekeliruan. Bagaimana mungkin dia tergelincir, sementara malaikat berjalan bersamanya di jalan akhlak yang luhur, serta mendidiknya perilaku yang baik, siang dan malam.[2] [LK]

Artikel sebelumnya: Narasi Konsep Kesucian (1)  (Bagian 1)

 

[1] Nahju al-Balaghah, Khutbah al-Qashi’ah 189.

[2] Subhani, Mafahim Alquran,vol.5, hlm 7-12.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed