by

Apa Kata Ulama Wahabi tentang Imam Mahdi

Syekh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad, ulama kota Madinah al-Munawarah, Saudi Arabia, memberikan materi kuliah berjudul Aqīdah Ahl as-Sunnah wa al-Atsar fī al-Mahdiy al-Muntazhar (Akidah Ahlus Sunnah dan Riwayat Seputar al-Mahdi al-Muntazhar) di Universitas Islam Madinah. Materi kuliah ini kemudian dimuat dalam majalah kampus tersebut pada edisi ke-3 tahun 1388 H dan diunggah pada laman resmi beliau sendiri.

Menurut Syekh al-Abbad, Rasulullah Saw telah mengabarkan umatnya tentang umat-umat terdahulu yang harus diimani dan hal itu terjadi sesuai dengan yang telah beliau Saw kabarkan. Demikian pula dengan nubuat di masa mendatang juga harus diimani oleh umatnya. Keyakinan tentang nubuat pasti akan terjadi sesuai dengan yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw.

Secara ringkas kami sajikan tulisan pengajar di Masjid Nabawi dan Universitas Islam Madinah ini sebagai berikut:

Baca juga: IMAM MAHDI VS THE MATRIX

Di antara nubuat yang akan terjadi di akhir zaman bersamaan dengan turunnya Isa bin Maryam a.s. adalah keluarnya seorang Ahlulbait Nabi dari putra Ali bin Abi Thalib yang namanya seperti nama Rasulullah Saw atau dikenal sebagai al-Mahdi. Dia akan memimpin kaum Muslimin, dan Isa bin Maryam a.s. akan salat di belakangnya. Semua ini bersumber dari hadis-hadis yang berasal dari Rasulullah Saw yang diterima oleh umat dan diyakini secara pasti kecuali oleh orang-orang yang ragu.

Secara umum tulisan ini akan membahas dua hal:

Pertama, bahwa hadis-hadis seputar al-Mahdi tidak terdapat dalam Shahīhayn (Bukhari dan Muslim) secara terperinci, melainkan hanya secara garis besar. Sementara yang terdapat dalam selain keduanya (Bukhari dan Muslim), sebagai penjelas hadis-hadis tersebut. Kaum skeptis menganggap hal itu (tidak adanya di Bukhari dan Muslim) menegasikan kedudukannya (hadis-hadis tersebut). Asumsi demikian merupakan kesalahan yang nyata. Hadis sahih bahkan sekadar hasan pada selain Shahīhayn itu dapat diterima dan diandalkan menurut para pakar hadis.

Kedua, sebagian para penulis hadis kontemporer secara lancang mencela hadis-hadis seputar al-Mahdi tanpa pengetahuan, bahkan kepandiran, atau taklid kepada seseorang yang bukan pakar di bidang hadis. Sungguh saya telah meninjau komentar Abdul Rahman Muhammad Utsman terhadap kitab Tuhfah al-Ahwadziy yang dicetak belakangan ini di Mesir, jilid 6, bab tentang Khulafa. Dia berkomentar, “Mayoritas ulama memandang bahwa seluruh hadis seputar al-Mahdi hanyalah topik yang meragukan. Sesungguhnya hadis-hadis tersebut tidak benar-benar berasal dari Rasulullah Saw, melainkan bersumber dari Syiah.”

Baca juga: Keadaan Pemuda sebelum Kemunculan Imam Mahdi Afs.

Komentator juga menyatakan tentang al-Mahdi pada jilid yang sama tentang “Dekatnya Akhir Zaman dan Pendek Angan-angan”, “Mayoritas ulama terpercaya dan kuat hafalannya memandang bahwa hadis-hadis seputar al-Mahdi hanyalah berasal dari kaum Bathiniyah, Syiah dan sejenisnya. Sesungguhnya hadis-hadis tersebut tidak layak dinisbatkan kepada Rasulullah Saw.”

Lebih dari itu, sebagian dari mereka juga lebih lancang. Sebut saja, Muhyiddin Abdul Hamid dalam komentarnya atas kitab al-Hāwī lil Fatāwī karya as-Suyuthi. Dia menyatakan pada jilid kedua halaman 166, “Sebagian peneliti memandang bahwa seluruh riwayat seputar al-Mahdi dan Dajjal itu termasuk Israiliyat (bersumber dari Yahudi yang pura-pura masuk Islam – pent).”

Dan yang paling berbahaya dari itu semua adalah pernyataan Muhammad Abu ‘Ubayah al-Masri pada pengantar kitab an-Nihāyah karya Ibnu Katsir, cetakan Beirut, “Bahwa kemunculan al-Mahdi dan turunnya Isa putra Maryam itu sekadar dua simbol menangnya kebaikan atas keburukan. Bahwa Dajjal itu sekadar simbol kesesatan pada masa tertentu, kemudian pondasi-pondasinya dihancurkan dan penopang-penopangnya dilenyapkan dengan izin Allah.”

Karena itu, saya akan membahas beberapa hal seputar riwayat Imam Mahdi tersebut:

Para sahabat yang meriwayatkan hadis-hadis al-Mahdi dari Rasulullah Saw

Para sahabat yang meriwayatkannya berjumlah 25 orang: ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, ‘Abdul Rahman bin ‘Auf, al-Husein bin ‘Ali, Ummu Salamah, Ummu Habibah, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin ‘Amr, Abu Sa’id al-Khudari, Jabir bin ‘Abdullah, Abu Hurairah, Anas bin Malik, ‘Ammar bin Yasir, ‘Auf bin Malik, Tsauban Maula Rasulillah, Qurrah bin Iyas, ‘Ali al-Hilali, Hudzaifah bin al-Yaman, ‘Abdullah bin al-Harits, ‘Imran bin Hushain, Abu at-Thufail, dan Jabir as-Shadafi serta sahabat lainnya.

Para imam hadis yang mengumpulkan hadis-hadis seputar al-Mahdi dalam kitab-kitab mereka

Mereka berjumlah 36 orang: Abu Dawud dalam Sunan-nya, Turmudzi dalam Jāmi-nya, Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Nasa-i dalam Sunan al-Kubrā dan Sunan al-Sughrā, Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu Hibban dalam Sahīh-nya, al-Hakim dalam al-Mustadrak, Abu Bakr bin Abi Syaibah dalam Mushannaf, Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i dalam Kitāb al-Fitan, al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbihani dalam kitab al-Mahdi  (40 hadis tentang Imam Mahdi – pent) dan Hilyah al-Awliyā, at-Thabarani dalam al-Mujam al-Kabir, al-Awsath dan al-Shagir, Daruquthni dalam al-Afrad, al-Bawardi dalam kitab Mujam as-Shahabah, Abu Ya’la al-Mawshili dalam Musnad­-nya, al-Bazzar dalam Musnad-nya, al-Harits bin Abi Usamah dalam Musnad-nya, al-Khathib al-Baghdadi dalam Talkhish al-Mutasyabih dan al-Muttafaq wal Muftaraq, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh­-nya, Ibnu Mandah dalam Tarikh Ashbihan, Abul Hasan al-Harbi dalam al-Awwal min al-Harbiyyat, Tamam ar-Razi dalam Fawaid, Ibnu Jarir dalam Tahdzib al-Atsar, Abu Bakr bin al-Muqri’ dalam Mujam-nya, Abu ‘Amr ad-Dani dalam Sunan-nya, Abu Ghanam al-Kufi dalam kitab al-Fitan, ad-Daylami dalam Musnad al-Firdaws, Abul Husein bin al-Munadi dalam kitab al-Malahim, al-Bayhaqi dalam Dala-il an-Nubuwwah, Ibnu al-Jauzi dalam Tarikh­-nya, Yahya bin Abd al-Hamid al-Hamani dalam Musnad-nya, ar-Rawyani dalam Musnad-nya, Ibnu Sa’d dalam at-Thabaqat, Ibnu Khuzaimah, al-Hasan bin Sufyan, ‘Umar bin Syibh, dan Abu ‘Awanah yang dikutip oleh as-Suyuthi dalam kitabnya al-Urf al-Wardiy.

Para ulama yang secara khusus menulis tentang al-Mahdi

Sebagaimana halnya para ulama memperhatikan seluruh hadis yang berasal dari Nabi Muhammad Saw beserta penjelasannya, maka hadis-hadis seputar al-Mahdi juga ditulis dalam jumlah besar sebagai bentuk perhatian mereka. Hal ini turut melestarikan warisan agama ini dan peletak dasar bagi kaum Muslimin. Di antara mereka adalah berjumlah 10 orang:

  1. Abu Bakr bin Abi Khaitsamah. Ibnu Khaldun menyatakan dalam Muqaddimah-nya, “Abu Bakr bin Abi Khaitsamah sangat mendalami hadis-hadis seputar al-Mahdi yang ia nukil dari as-Suhayli lalu dikumpulkannya dalam satu kitab.”
  1. al-Hafizh Abu Nu’aim. As-Suyuthi menyebut namanya dalam al-Jami as-Shaghir dan al-Urf al-Wardiy. Bahkan ia meringkas hadis-hadis yang dikumpulkan oleh Abu Nu’aim seputar al-Mahdi dalam kitabnya al-Urf al-Wardiy, lalu melengkapinya dengan riwayat yang melimpah.
  1. As-Suyuthi. Sebagaimana disebutkan di atas, kitabnya al-Urf al-Wardiy fi Akhbar al-Mahdi adalah satu bagian khusus dari kitab al-Hawi lil Fatawi, volume 2, yang mencapai 40 hadis berasal dari al-Hafizh Abu Nu’aim lalu ia melengkapinya lebih dari 200. Di antaranya adalah dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Al-Mahdi berasal dari itrahku dari putra Fatimah.”
  1. al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitabnya al-Fitan wa al-Malāhim
  1. Ibnu Hajar al-Makki dengan judul al-Qawl al-Mukhtashar fī‘Alāmāt al-Mahdiy al-Muntazhar. Kitab ini disebutkan oleh al-Barzanji dalam al-Isyā’ah dan as-Saffariniy dalam Lawāmi’ al-Anwār al-Bahiyyah serta selain keduanya.
  1. ‘Ali al-Muttaqi al-Hindi penulis kitab Kanz al-‘Ummal. Ia menulis sebuah risalah seputar al-Mahdi.
  1. Mulla ‘Ali Qari dalam kitabnya al-Masyrab al-Wardiy fi Madzhab al-Mahdi.
  1. Mar’iy bin Yusuf al-Hanbali yang wafat tahun 1033 H, dalam kitabnya Fawa-id al-Fikr fi Zhuhur al-Mahdi al-Muntazhar.
  1. Al-Qadhi Muhammad bin ‘Ali as-Syawkani dalam kitabnya, at-Tawdhih fi Tawatur ma Ja-a fi al-Mahdi al-Muntazhar wa ad-Dajjal wa al-Masih.
  1. Muhammad bin Isma’il as-Shan’aniy penulis kitab Subul as-Salam (w. 1182 H). Siddiq Hasan menyatakan dalam al-Idzaah, “Sayid Muhammad bin Isma’il telah mengumpulkan hadis-hadis seputar munculnya al-Mahdi.”

Para pakar yang menyatakan mutawatirnya hadis-hadis tentang al-Mahdi

Setidaknya ada 6 pakar hadis yang menyatakan bahwa hadis-hadis seputar al-Mahdi bersifat mutawatir (diriwayatkan oleh sejumlah besar dalam tiap rangkaian masa periwayatan).

  1. al-Hafizh Abul Husein Muhammad bin al-Husein al-Abiri as-Sijzi penulis kitab Manaqib as-Syafii (w. 363 H). Ibnu al-Qayyim mengutip salah satu hadis darinya dalam kitabnya, al-Manar al-Munif. Ibnu Hajar juga mengutip hadis darinya dalam Tahdzib at-Tahdzib pada biografi Muhammad bin Khalid al-Jundi dan dalam Fath al-Bari pada bab turunnya Nabi Isa.
  1. Muhammad al-Barzanji (w. 1103 H) penulis kitab al-Isyaah li Asyrath as-Saah.
  1. Syekh Muhammad as-Saffariniy (w. 1188 H) dalam kitabnya Lawami al-Anwar al-Bahiyyah, “Sungguh banyak riwayat seputar munculnya, yaitu al-Mahdi, sehingga mencapai derajat kandungannya mutawatir. Hal itu dianggap sebagai keyakinan para ulama as-Sunnah…, maka mengimani munculnya al-Mahdi wajib sebagaimana ditetapkan oleh para pakar ilmu dan penyusun akidah Ahlussunnah wal Jama’ah.
  1. Al-Qadhi Muhammad bin ‘Ali as-Syawkani (w. 1250 H), penulis tafsir Nayl al-Awthar, menyatakan dalam kitabnya at-Tawdhih fi Tawatur ma Ja-a fi al-Mahdi al-Muntazhar wa ad-Dajjal, “Hadis-hadis Nabi seputar al-Mahdi yang dapat dijadikan sandaran setidaknya ada 50 buah. Ada yang sahih, hasan dan daif namun baik. Semuanya berstatus mutawatir tanpa keraguan. Sementara riwayat dari sahabat yang menerangkan tentang al-Mahdi sangat banyak. Tidak ada upaya yang sedemikian rupa dalam tema selain itu.”
  1. Syekh Siddiq Hasan al-Qanuji (w. 1307 H) menyatakan dalam kitabnya, al-Idzaah lima Kana wa ma Yakunu bayn Yaday as-Saah, “Hadis-hadis Nabi seputar al-Mahdi sangat banyak meski terdapat perbedaan periwayatannya sehingga mencapai tingkat mutawatir… Sudah pasti al-Mahdi akan muncul di akhir zaman tanpa menyebutkan bulan dan tahun karena derajat hadis yang mutawatir itu dan disepakati oleh jumhur ulama dulu dan kini.”
  1. Syekh Muhammad bin Ja’far al-Kattani (w. 1345 H) berkata dalam kitabnya Nazhm al-Mutanatsir min al-Hadits al-Mutawatir, “Mereka menyebutkan bahwa turunnya Sayyidina ‘Isa a.s. pasti dalam Alqur’an, Sunnah dan Ijma’… Hadis-hadis Nabi seputar al-Mahdi al-Muntazhar bersifat mutawatir sebagaimana halnya tentang Dajjal, dan turunnya Sayyidina ‘Isa putra Maryam a.s.”

Sebagian hadis tentang al-Mahdi dalam Shahihayn

  1. Bukhari mencatat dalam Shahih-nya pada bagian tentang turunnya ‘Isa putra Maryam, riwayat dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Bagaimanakah kalian jika Putra Maryam turun kepada kalian dan imam kalian dari kalian (?)”
  1. Muslim mencatat dalam Shahih-nya juga dari Abu Hurairah seperti hadis riwayat Bukhari di atas.
  1. Riwayat lain dalam Shahih Muslim berasal dari Jabir yang mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Sekelompok umatku berperang atas kebenaran hingga hari Kiamat, maka ‘Isa putra Maryam turun dan berkata kepada Pemimpin mereka, ‘Marilah salat untuk kami (menjadi Imam). Ia menjawab, ‘Tidak, sungguh sebagian dari kalian adalah para pemimpin sebagai pemuliaan Allah atas umat ini.’”

Hadis ini mengindikasikan 2 hal: Pertama, saat ‘Isa putra Maryam a.s. turun dari langit, ada seorang yang menjadi pemimpin kaum Muslimin. Kedua, kehadiran pemimpin mereka dalam salat bersama kaum Muslimin dan permintaan ‘Isa a.s. kepada pemimpin tersebut untuk mengimami salat saat turun mengindikasikan otoritas sang Pemimpin tersebut. Sekalipun tidak ada lafal yang jelas sebagai al-Mahdi, hal itu sungguh mengindikasikan sifatnya yang saleh sebagai imam kaum Muslimin kala itu. Sementara itu hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab Sunan, Musnad dan lainnya adalah sebagai penjelas hadis-hadis dalam Shahihayn tersebut yang menjadi dalil bahwa orang tersebut bernama Muhammad bin Abdullah yang dijuluki sebagai al-Mahdi. Sunnah saling menafsirkan satu sama lain. Sebagai contoh adalah hadis riwayat al-Harits bin Usamah dalam Musnad-nya yang berasal dari Jabir r.a., Rasulullah Saw bersabda, “’Isa putra Maryam turun dan berkata kepada pemimpin mereka al-Mahdi, ‘Marilah salat bersama kami (menjadi Imam)….’” Syekh Shiddiq Hasan dalam kitabnya al-Idzaah menyatakan, “Meskipun penyebutan al-Mahdi tidak ada di dalamnya (Sahih Muslim), namun tidak ada sosok yang sebanding dengannya selain al-Mahdi al-Muntazhar sebagaimana ditunjukkan oleh pelbagai riwayat yang berjumlah banyak.”

Sebagian hadis tentang al-Mahdi dalam kitab-kitab selain Shahihayn

  1. Ahmad bin Hanbal mencatat riwayat yang berasal dari Abu Sa’id al-Khudri bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Aku beritakan kabar gembira kepada kalian dengan datangnya al-Mahdi. Ia kelak diutus saat terjadi perselisihan di antara manusia dan aneka gempa. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan….” Al-Haitsami berkata dalam Majma as-Zawa-id, “Ahmad meriwayatkan dengan pelbagai jalur sanad dan Abu Ya’la meringkasnya dengan hadis yang banyak. Para perawinya adalah orang-orang tepercaya.”
  1. Abu Dawud mencatat dalam Sunan-nya sejumlah 13 hadis seputar al-Mahdi dan memulainya dengan hadis dari Jabir bin Samurah, Rasulullah Saw bersabda, “Agama ini senantiasa berdiri sehingga genap atas kalian 12 khalifah.”

As-Suyuthi berkata dalam al-Urf al-Wardiy, “Sesungguhnya hadis tersebut adalah isyarat sebagaimana yang disampaikan para ulama bahwa al-Mahdi adalah salah satu dari 12.”

Riwayat dari Jabir bin Samurah ini juga dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat 12 surah al-Ma-idah. Hanya saja ada perbedaan redaksi karena berasal dari Shahihayn, “Urusan manusia senantiasa berjalan sehingga mereka dipimpin oleh 12 orang.”[i]

Sementara sekelompok ulama yang di antaranya adalah pensyarah at-Tahawiyah bahwa 12 orang yang dimaksud adalah 4 Khulafa’ Rasyidun dan 8 dari Bani Umayah.

  1. Abu Dawud juga mencatat riwayat dari jalur ‘Ashim bin Abi Najud, dari Zirr, dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Andaikan dunia tersisa hanya sehari, niscaya Allah akan memperpanjang hari itu sehingga mengutus seseorang dariku atau dari Ahlulbait-ku, namanya adalah namaku, nama ayahnya adalah nama ayahku. Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman dan kejahatan.” Ibnu Taimiyah menyahihkannya dalam kitab Minhaj as-Sunnah dan al-Albani menyatakan sanad-sanadnya hasan.

Sebagian ulama yang menjadikan hadis-hadis tentang al-Mahdi sebagai hujah dan meyakini sebagai hal yang pasti.

  1. Abu Ja’far al-‘Uqaili (w. 322 H) menyatakan, “Sesungguhnya hadis-hadis seputar al-Mahdi telah memenuhi standar jayid[ii].
  1. Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan dalam kitabnya, Tahdzib at-Tahdzib, pada biografi Ali bin Nufail an-Nahdi, “al-‘Uqaili menyatakan dalam kitabnya bahwa hadisnya (Ali an-Nahdi) perihal al-Mahdi tidak memiliki bukti lain selain miliknya, padahal seputar al-Mahdi, banyak hadis jayid dengan redaksi berbeda.”
  1. Ibnu Hibban al-Busti memandang bahwa hadis-hadis seputar al-Mahdi adalah penjelas hadis riwayat Anas, “Masa-masa setelah kalian tidak datang melainkan lebih buruk dari sebelumnya.” Kemudian Ibnu Hibban menyebutkan salah satu hadis dalam Shahih­-nya, “Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan setelah dipenuhi dengan kezaliman.”
  1. al-Khattabi (w. 388 H) saat menjelaskan hadis Anas seputar hari akhir zaman menyatakan, “Hal itu akan terjadi pada masa al-Mahdi, ‘Isa a.s. atau keduanya.”
  1. Mulla ‘Ali Qari juga menyatakan hal yang sama, “Yang paling jelas adalah kemunculan Dajjal pada masa keduanya (al-Mahdi dan ‘Isa).” Demikian halnya dengan pernyataan al-Mubarakfuri.
  1. al-Baihaqi (w. 458 H) mendaifkan hadis, “Tiada al-Mahdi melainkan ‘Isa putra Maryam,” lalu menyatakan, “Hadis-hadis yang menyatakan kemunculan al-Mahdi paling sahih secara sanad.”
  1. al-Qadhi ‘Iyadh (w. 544 H) dalam kitabnya as-Syifa menyebutkan sebuah bab khusus tentang Mukjizat Rasulullah Saw yang terdiri dari 30 bagian. Ia menuangkan sejumlah besar aneka perkara di masa depan yang dikabarkan oleh Rasulullah Saw sebagai Nabi yang tidak berbicara dari hawa nafsunya yang di antaranya adalah perkara kemunculan al-Mahdi.
  1. Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi (w. 671 H) penulis tafsir terkenal juga mendaifkan hadis “Tiada al-Mahdi selain ‘Isa putra Maryam,” lalu menyatakan, “Sanad-sanadnya daif. Sedangkan hadis-hadis dari Nabi Saw seputar munculnya al-Mahdi dari keturunannya, putra Fatimah adalah kuat dan lebih sahih dari hadis ini.
  1. Ibnu Taimiyah (w. 728 H) dalam Minhaj as-Sunnah saat membantah Syiah dan Qadariah menyebutkan beberapa hadis sahih seputar al-Mahdi, misalnya, “Al-Mahdi dari itrahku putra Fatimah,” kemudian menyimpulkan bahwa al-Mahdi bernama Muhammad bin Abdullah dari keturunan al-Hasan dan berbeda dengan klaim Syiah.
  1. Syekh ‘Abdurrauf al-Manawi penulis Faidh al-Qadir menyatakan, “Riwayat seputar al-Mahdi banyak dan terkenal.”
  1. Syekh as-Saffarini menyatakan, “Sebagaimana telah diriwayatkan oleh para sahabat dengan sejumlah riwayat yang berlimpah, begitu pula dari kalangan tabi’in sehingga mencapai pengetahuan yang pasti, maka mengimani kemunculan al-Mahdi adalah wajib seperti keputusan para ulama dan penyusun akidah Ahlussunnah wal jamaah.”

Para ulama yang membantah para pengingkar atau meragukan hadis-hadis seputar al-Mahdi

Sedikitnya ada 2 tokoh yang perlu disebutkan di sini, yang mengingkari hadis-hadis seputar al-Mahdi, yaitu: Muhammad bin al-Walid al-Baghdadi dan yang meragukannya, yaitu: Ibnu Khaldun.

  1. Muhammad bin al-Walid al-Baghdadi mengingkarinya hanya berdasar kepada hadis, “Tiada al-Mahdi selain ‘Isa putra Maryam.” Bantahan terhadap hadis tersebut telah dibahas sebelumnya.
  1. Abdurrahman bin Khaldun al-Maghribi, sejarawan masyhur, yang mendaifkan hadis-hadis al-Mahdi. Syekh Ahmad Syakir pernah menyatakan, “Ibnu Khaldun telah membelakangi sesuatu yang ia tidak memahaminya, dan menerobos batas yang ia bukan ahlinya.”

Ibnu Khaldun sendiri menyatakan, “Ketahuilah bahwa yang masyhur di kalangan seluruh ulama Islam sepanjang masa adalah kemunculan seseorang dari Ahlulbait yang akan menegakkan agama pada akhir zaman…. “ Jika demikian masyhurnya di kalangan para ulama Islam mengapa ia meragukannya? Apakah mereka semua bersepakat atas kesalahan? Padahal hal itu bukanlah ijtihad melainkan perkara gaib yang mencukupinya dengan dalil Alqur’an dan sunnah Nabi-Nya.

Penutup: Tidak ada kaitan antara akidah Ahlussunnah dengan Syiah dalam hal al-Mahdi

Hadis-hadis seputar al-Mahdi yang dicatat dan dibukukan melimpah dan dituturkan secara berantai (mutawatir) oleh banyak kelompok. Kepastiannya diyakini oleh Ahlussunnah wal Jamaah. Hal ini menunjukkan kenyataan yang kuat tanpa keraguan yang akan terjadi pada akhir zaman. Sama sekali tak ada kaitannya dengan akidah Syiah.

Yang diyakini oleh Syiah adalah kemunculan Mahdi Muntazhar yang bernama Muhammad bin al-Hasan al-‘Askari dari keturunan al-Husein a.s. Keyakinan ini tidak ada kenyataannya dan sumbernya. Akidah mereka tentang al-Mahdi mereka adalah akidah yang bersifat imajinatif. Demikian halnya imamah para imam sebelumnya menurut mereka adalah imamah ilusi yang tidak ada kenyataannya, kecuali Imam Ali bin Abi Thalib dan putranya al-Hasan. Keduanya berlepas tangan dari mereka dan keyakinan mereka tanpa keraguan. Sementara keyakinan Ahlussunnah tentang masa lalu adalah kenyataan yang ada. Para imam menurut mereka adalah Khulafa’ Rasyidun.

Hadis-hadis seputar al-Mahdi dengan pelbagai jalur dan bukti kuat di dalam buku-buku Ahlussunnah sulit untuk dimungkiri kecuali orang-orang pandir, sombong atau orang yang tidak memerhatikan jalur dan sanad-sanadnya. Mereka tidak bersandar kepada pernyataan para ulama yang kokoh.

Setiap hal yang memiliki bukti kuat dalam periwayatan termasuk yang akan terjadi di masa depan pastilah akan terjadi sesuai dengan riwayat tersebut, seperti riwayat turunnya ‘Isa a.s. pada akhir zaman, kemunculan al-Mahdi, Dajjal dan riwayat lainnya. Mengingkari hadis-hadis seputar al-Mahdi atau meragukannya adalah sesuatu yang berbahaya. Kita memohon keselamatan, kesehatan dan kemantapan di atas kebenaran hingga kematian. Ya Allah hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang menerima petunjuk. Doa penutup kami segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Demikianlah kalimat penutup dari dosen Universitas Islam Madinah ini, Syekh Abdul Muhsin al-‘Abbad. Meskipun terdapat beberapa perbedaan seputar pemahaman tentang Imam Mahdi dalam akidah Ahlussunnah dan Syiah, kiranya artikelnya dapat menjadi titik temu di antara kedua sayap Islam untuk menyongsong kehadiran Imam Zaman yang dinanti-nantikan oleh para Nabi ‘alayhimussalam.

[i] Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, j. 3, h. 65, cet. 2, Dar Thibah, Saudi Arabia, 1999.

[ii] Menurut ulama periode awal, hadis jayid merujuk kepada hadis yang sahih secara umum. Sedangkan menurut ulama periode belakangan hadis jayid merujuk kepada hadis berkedudukan sedang, mereka meragukannya antara sahih dan hasan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed