by

Tidak Ada Balasan untuk Kebaikan kecuali Kebaikan

oleh: Ust. Husein Alkaff

Dua hari yang lalu terjadi aksi pemukulan dan pengeroyokan yang dilakukan kelompok intoleran dan radikal terhadap dua orang pengikut Ahlulbait (Syiah) di kota Solo, Jawa Tengah, yang mengakibatkan dua orang korban itu harus dirawat di rumah sakit. Tidak lama kemudian, muncul reaksi atas peristiwa yang tidak manusiawi itu, reaksi positif yang ditunjukan oleh beberapa elemen masyarakat.

GP ANSOR, Jaringan GUSDURian, Majlis Taklim Ar-Raudhah pimpinan Habib Novel Alaydrus dan mungkin banyak lagi pihak lainnya menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk kekerasan dan radikalisme serta mendesak pihak berwajib untuk menangkap para pelaku pengeroyokan dan pemukulan itu.

Baca juga:  Titik Temu Sunnah dan Syiah: Ritual Salat Salman di Bulan Rajab

Sebagai kelompok yang menjadi korban sekaligus mendapatkan simpati dan empati dari peristiwa tersebut, kita harus bijak memosisikan diri kita pada tempat yang benar juga tepat di antara dua kondisi itu.

Kita harus menyatakan kecaman yang tegas dan terbuka terhadap pengeroyokan dan pemukulan itu. Kecaman semacam ini harus dinyatakan juga pada saat terjadi persekusi dan sejenisnya terhadap kelompok lain.

Dengan sikap itu, maka tidak akan muncul kesan sebagai sikap ambigu yang mungkin dituduhkan kepada kita; bahwa kita mengecam tindakan persekusi ketika kita menjadi korbannya, tetapi kita diam seribu bahasa ketika yang menjadi korban, kelompok lain.

Baca juga:  Syiah Tidak Akan Disentuh Api Neraka?

Tentu, kecaman harus dinyatakan dengan terukur, hati-hati serta dengan berbagai pertimbangan matang, bukan sekadar luapan emosi yang tidak terkendali dan bahkan bisa melahirkan pernyataan radikal dan intoleran juga.

Kemudian, menurut saya, yang tidak kalah penting dari kecaman terhadap persekusi dan sejenisnya adalah memberikan apresiasi yang tinggi kepada pihak yang bersimpati dan berempati kepada kita. Memberikan apresiasi kepada mereka tidak bersifat temporer dan sporadis, tapi harus berkelanjutan dan berjangka panjang.

Bnyak cara yang bisa dilakukan dalam memberikan apresiasi kepada mereka, di antaranya dengan menghormati pandangan dan tradisi mereka atau, minimal, tidak mengusik pandangan dan tradisi mereka.

Baca juga:  Memahami Syiah

Setahu saya, yang menyatakan simpati dan empati kepada kita sekaitan dengan peristiwa di atas adalah GP ANSOR, GUSDURian dan Habib Novel Alaydrus. GP ANSOR dan GUSDURian mempunyai basis massa dari kalangan NU dan kelompok-kelompok pluralis-sekuler, sedangkan Habib Novel Alaydrus, meskipun bukan seorang habib senior, tapi dia seorang da’i muda yang aktif, produktif dan memiliki jaringan cukup luas dengan para ulama dan habaib, dan masing-masing dari mereka mempunyai pandangan, tradisi dan simbol-simbol keagamaan yang mereka hormati.

Sebagai bentuk apresiasi kepada mereka, bahkan ini merupakan perintah dari para Imam dan ulama kita, maka kita harus menyudahi segala ucapan dan tulisan yang menyinggung mereka, termasuk menghina tokoh terhormat mereka dewasa ini, khususnya di medsos yang terbuka seperti Facebook dan Twitter. Jika di antara mereka terdapat perbedaan pilihan dan sikap politik atau pandangan sosial, sebaiknya kita tidak terlibat dan bersikap menahan diri.

Baca juga:  Salahkah Menjadi Muslim Syiah?

Saya pikir, sudah saatnya setiap dari kita, baik lembaga maupun perorangan, memberikan apresiasi seperti disebutkan di atas kepada mereka sebagai bentuk pengamalan dari ayat, “Tidak ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan.”

Komisi Bimbingan dan Dakwah (KBD) Dewan Syura ABI

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed