by

Muharram, Bulan Duka

Muharram, bulan duka, setelah berabad-abad, nama Husein bin Ali as tetap dikenang oleh umat Islam dan pecinta kebebasan di dunia, karena kebangkitan Imam Husein berlandaskan prinsip-prinsip yang diterima oleh manusia di setiap zaman dan tempat. Seluruh fase kebangkitan suci Imam Husein berporos pada keadilan dan anti kezaliman. Citra suci pengorbanan, keimanan, makrifat, dan kesempurnaan maknawi di kebangkitan ini mengindikasikan bahwa gerakan tersebut memiliki ideologi transendental.

Kita saat ini berada di awal bulan Muharram tahun 1442 H. Muharram, bulan awal di kalender Hijriah Qamariah yang bahkan dihormati oleh bangsa Arab sebelum Islam. Di bulan ini, perang dan pertumpahan darah diharamkan. Larangan perang di bulan Muharram merupakan salah satu solusi untuk mengakhiri bentrokan berkepanjangan bangsa Arab dan sarana untuk menyeru perdamaian dan ketenangan.

Baca juga Mengapa Asyura Diperingati Setiap Tahun?

Di era jahiliyah, tradisi ini masih tetap kuat hingga munculnya Islam. Agama Samawi ini juga membenarkan tradisi tersebut dan secara legal menjadikannya sebagai sebuah ketentuan bagi seluruh umat Muslim. Namun di tahun 61 H, penguasa lalim dan bodoh Bani Umayah telah merusak kehormatan keluarga Nabi di bulan Muharram serta membantai cucu Rasulullah Saw, Husein bin Ali as berserta anak dan pengikutnya di Padang Karbala.

Sejak saat itu, bulan Muharram senantiasa identik dengan Husein bin Ali serta mengingatkan keberanian dan pengorbanan manusia yang bangkit untuk menebarkan amar makruf nahi munkar serta menghidupkan kembali nilai-nilai agama yang dibawa Rasulullah Saw. Di hari kesepuluh bulan Muharram tahun 61 H, sejarah menyaksikan tragedi yang tetap abadi sepanjang masa dan menjadi insiprasi di setiap zaman serta menembus batasan geografi dan sejarah.

Menyimak gerakan Imam Husein di bulan Muharram tahun 61 H, terkuak realita bahwa tujuan mendasar dan utama serta ideologi cucu Rasulullah ini di kebangkitannya adalah menjalankan taklif (kewajiban). Manusia yang merasa bangga sebagai hamba Tuhan, hanya berpikir untuk menjalankan kewajiban Ilahi dan meraih keridhaan-Nya.

Baca juga Filosofi Azadari (Ratapan Duka Cita)

Faktor yang mendorong Imam Husein bangkit melawan ketidaknormalan di zamannya yakni penyimpangan pemerintah Bani Umayah dan masyarakat saat itu dari nilai-nilai utama agama Islam. Realita pahit ini secara perlahan terbentuk selama 50 tahun pasca wafatnya Rasulullah Saw. Terlupakannya wasiat Rasululllah dan pengucilan keluarga Nabi (Ahlul Bait) mendorong peluang musnahnya spiritualitas di masyarakat Islam, penimbunan kekayaan oleh penguasa, maraknya bid’ah, dan penyelewengan. Hal-hal tersebut telah membuka peluang munculnya kembali era jahiliyah.

Saat itu, dekadensi masyarakat sampai pada titik nasib umat Islam berada di tangan penguasa fasik dan kriminal seperti Yazid serta kehormatan umat Muslim tercoreng. Masyarakat yang pernah mengalami kepemimpinan Nabi, kini menyaksikan berkuasanya seorang pemimpin fasiq seperti Yazid. Yazid, sosok pemimpin Bani Umayah yang mengabaikan prinsip-prinsip Islam dan bergelimang dengan kefasikan serta dosa.

Sementara Imam Husein dari satu sisi menghadapi pemerintahan yang hanya memikirkan kepentingan ilegalnya dan tak segan-segan menyesatkan ajaran agama, menebar kezaliman dan menyerang warga hanya demi menjamin kepentingannya tersebut. Di sisi lain, Imam Husein menyaksikan kelesuan dan kekacauan di tengah masyarakat Islam dan dari masyarakat seperti ini muncul individu-individu yang acuh tak acuh dan tidak memiliki kehendak. Individu seperti ini meski mampu mengidentifikasi kebenaran, namun cenderung memilih sisi duniawi dan kepentingan pribadinya.

Baca juga Musim Duka, Hari-Hari Fatimiyah Sudah Dimulai

Bagi Yazid dan antek-anteknya sangat penting mengambil baiat dari sosok besar seperti Imam Husein. Wajar jika Imam Husein tidak akan pernah bersedia membaiat Yazid, karena bait terhadap Yazid sama halnya dengan melegalkan pemerintahan fasiknya. Imam Husein dengan memahami ancaman dan dampak buruk dari berkuasanya pribadi makar yang berpura-pura Islam, berusaha menciptakan gelombang kesadaran dan wawasan agama, sosial dan politik di tengah masyarakat Islam.

Imam Husein saat mensifati kelompok ini mengatakan, “Agama sekedar pemanis bibir mereka. Mereka menginginkan agama ketika agama menyediakan kepentingan duniawinya. Dan betapa sedikitnya hamba sejati ketika mereka diuji dan menghadapi bencana.”

Bani Umayah menjadikan agama sebagai sarana politiknya dan berusaha merusak ajaran agama dari dalam. Imam Husein yang menyadari realita ini, bangkit melawan penguasa dan aktif menjelaskan kondisi sosial dan politik masyarakat saat itu. Beliau pun menolak membaiat Yazid.

Penolakan baiat oleh Imam Husein membuat walikota Madinah bersikap keras kepada imam. Di kondisi seperti ini Imam Husein memutuskan untuk meninggalkan Madinah. Imam Husein mencari peluang tepat untuk mengorganisir pergerakannya. Saat itu, kota Mekah menjadi pilihan terbaik untuk melanjutkan aktivitas Imam. Khususnya hari pelaksanaan manasik haji kian dekat dan konferensi agung haji menjadi peluang paling tepat bagi Imam Husein.

Imam Husein as ketika keluar dari Madinah mengatakan, “Aku keluar dari Madinah untuk memperbaiki dan menghidupkan umat. Aku ingin melakukan amar makruf dan nahi munkar.”

Ketika Imam Husein memasuki Mekah, beliau berusaha keras memulai persiapan kebangkitannya. Saat itu, mayoritas penduduk Kufah dan berbagai wilayah lain ingin membaiat Imam Husein dan dalam suratnya, mereka mengundang Imam Husein ke kota Kufah. Tapi ketika penguasa saat ini bersikap keras, mereka mulai ketakutan dan menarik baiatnya. Sebagian lainnya disuap, tertipu dan menolak membantu Imam.

Mereka yang telinga dan matanya tuli serta dibutakan oleh dunia menyadari sepenuhnya bahwa Husein bin Ali adalah cucu Rasulullah, namun begitu mereka masih tega meninggalkan Imam sendirian. Imam Husein yang meninggalkan Mekah dan tidak menyempurnakan ibadah hajinya, bersama keluarga dan pengikutnya bergerak ke Kufah. Sebelum sampai ke Kufah, rombongan manusia suci ini dikepung di padang Karbala oleh tentara Yazid bin Muawiyah. Tapi begitu kelompok kecil ini tidak menyerah. Akhirnya hari kesepuluh bulan Muharram, yang juga dikenal dengan Asyura, Imam Husein bersama sahabatnya secara zalim gugur di Karbala.

Kebangkitan Imam Husein memiliki beragam dampak di bidang politik dan sosial. Hari ini, setelah berabad-abad berlalu, nama Husein bin Ali tetap melekat di hati umat manusia. Kebangkitan Imam Husein adalah sebuah kebangkitan yang tidak terbatas pada zaman dan lokasi tertentu. Perjuangan ini tetap abadi hingga kini dan dikenang sepanjang masa. Para pecinta kebebasan meneladai Imam Husein dan menjadikannya panutan. Tak hanya umat Islam, Husein bin Ali juga menjadi idola pengikut agama lain dan mereka yang mencintai kebebasan.

Niat dan tujuan Imam Husein sangat tulus dan tidak dicemari dengan haus kekuasaan dan keserakahan. Yang ada dikebangkitan Imam Husein adalah manifestasi dari keutamaan dan kebaikan bagi umat manusia. Oleh karena itu, kebangkitan ini senantiasa menjadi teladan dan motivasi. Seperti Revolusi Islam Iran juga terbentuk dengan meneladani nilai-nilai kebangkitan Imam Husein as dan sampai kini Revolusi Islam masih tetap jaya dan melanjutkan tujuan mulianya melawan para penindas.

Baca juga Ali Akbar, Teladan Para Pemuda Islam

Pastinya kehendak Tuhan berkaitan dengan hal ini bahwa dunia wilayah kebaikan dan keutamaan. Ketika sebuah gerakan tidak selaras dengan tujuan mulia ini, maka hamba-hamba saleh akan bangkit melawan dan siap mengorbankan jiwanya untuk membebaskan manusia.

Asyura bukan peristiwa yang terjadi dalam sehari, tapi sebuah slogan yang pengaruhnya abadi. Oleh karena itu, dewasa ini para pemuda yang belajar di bawah ajaran-ajaran mulai Imam Husein, dengan wawasan dan makrifatnya terhadap kebenaran berhasil menghancurkan kekuatan semu kelompok teroris Daesh dan dengan kesyahidannya kembali membangkitkan hari-hari Asyura sehingga hati-hati yang mati kembali hidup.

Tak diragukan lagi pelajaran bulan Muharram tahun 61 H, khususnya hari Asyura masih akan tetap berlanjut sepanjang masa, karena konfrontasi antara penyeru kebenaran dan keadilan dengan para penindas dan pezalim terus berlangsung dan tidak ada batasnya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed