by

Fathimah dalam Alquran

 

Ayat Kekerabatan

“Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kecintaan kepada keluargaku.’ Dan siapa yang mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan baginya kebaikan atas kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (Q.S. asy Syura: 23).

Ayat ini adalah perintah tegas dari Allah kepada Nabi-Nya yang mulia. Seakan Dia berkata, “Katakan, wahai Muhammad, kepada kaummu, ‘Tidak ada balasan apa pun yang kuminta atas risalah Islam, kecuali kecintaan kepada keluargaku.”

Bulat disepakati bahwa ‘keluarga’ yang disebut dalarn ayat ini adalah Ahlulbait. Ada banyak hadis yang bukan hanya menetapkan makna ‘keluarga’ yang disebutkan di dalam ayat ini, namun juga menyatakan nama-nama mereka. Di antaranya adalah: “Ketika ayat ini diturunkan, seseorang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah keluarga Anda yang wajib bagi kami untuk mencintainya?’ Nabi saw. menjawab, ‘Ali, Fathimah, dan kedua putranya (Imam Hasan dan Imam Husain).”

Riwayat ini telah disampaikan oleh para ulama benikut:

l. Ibnu Hajar dalam As Sawa’iqul Muhriqah.
2. Ats Tsa’labi.
3. As Suyuthi dalam Ad Durr al Manstur.
4. Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya.
5. Al Hamawaini asy Syafi’i dalam Fara’id as Simthain.

Riwayat lain yang serupa dengan yang di atas dituturkan oleh Ath Thabani dan Ibnu Hajar; menurut riwayat ini, Rasulullah saw. berkata, “Sungguh, Allah telah mewajbkan kalian untuk mencintai keluargaku,
dan aku akan bertanya kepada kalian tentang mereka di akhirat.”

Baca juga: Jika Ada Nabi Dari Kalangan Perempuan, Dialah Sayyidah Fathimah Zahra, Posisinya Seperti Rasulullah SAW.

Lebih lagi, para Imam Ahlulbait membacakan ayat ini sebagai bukti bahwa mencintai Ahlulbait itu adalah sebuah kewajiban agama.

  1. Dalam As Sawaiqul Muhriqah karya Ibnu Hajar, dikatakan bahwa Imam Ali berkata, “Dinyatakan di dalam (surah Alquran) Ha Mim bahwa tak seorang pun merawat cinta kepada kami kecuali Mukminin.” Imam Ali lalu membacakan Q.S. asy Syura: 23.
  2. Juga dituturkan dalam kitab yang sama bahwa Imam Hasan dalam khotbahnya berkata, “Sungguh, kami termasuk Ahlulbait yang cinta dan dukungan terhadap mereka dijadikan wajib (atas Mukminin) oleh Allah Ta’ala. Dia SWT berfirman,… (Q.S. asy Syura: 23).”
  3. Imam Ali as Sajjad menjawab seorang Suriah yang mengatakan kepadanya selagi ia menjadi tawanan bani Umayyah di Damaskus, “Terpujilah Allah Yang membunuh kalian ….” Lalu Imam berkata, ‘Tidakkah engkau membaca ayat… (Q.S. asy Syura: 23)?”
  4. Jabir bin Abdullah berkata, “Seorang Arab Badui menemui Nabi saw. dan berkata, ‘Muhammad, sampaikan Islam kepadaku.’ Nabi menjawab, ‘Bersaksilah bahwa tiada Tuhan selain Allah, Yang tiada sekutu baginya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasulullah.’ Orang Badui itu berkata, ‘Apakah engkau meminta balasan dariku (karena menyampaikan Islam kepadaku)?’ Nabi saw. menjawab, ‘Tidak, kecuali kecintaan kepada keluarga.’ Si Badui lalu bertanya, ‘Keluargaku atau keluargamu?’ Nabi saw. berkata, Keluargaku.’ Si Badui berkata, ‘Izinkan aku menunjukkan kesetiaanku padamu, dan semoga kutukan Allah menimpa mereka yang tidak mengasihimu clan keluargamu.’ Maka, Nabi saw. pun berkata, ‘Amin.”

Baca juga:  Fathimah Jelmaan Kasih Sayang

Riwayat ini dituturkan oleh Al Kinji dalam Kifayah ath Thalib (hal. 31).
Syekh Amini mendaftarkan 45 sumber dalam Al Ghadir (j1lid 3) yang rrienyatakan bahwa ayat ini (QS. asy Syura: 23) diturunkan menyangkut Ali, Fathimah, Al Hasan, clan Al Husain. Mereka adalah: Imam Ahmad, Ibnu al Mundir, Ibnu Abu Hatim, Ath Thabari, Ibnu Mardawaih, Ats Tsalabi, Abu Abdullah al Mula, Abu Syekh an Nisa’i, Al Wahicli, Abu Nu’aim, Al Baghawi, Al Bazaz, Ibnu Maghazili, Al Hasakani, Muhibuddin, Al Zamakhsyari, Ibnu Asakir, Abu al Faraj, Al Hamwini, An Nisyaburi, Ibnu Talhi, Ar Razi, Abu al Saud, Abu Hayyan, Ibnu Abu al Hadid, Al Baidhawi, An Nasfi, Al Haitsami, Ibnu Sabagh, Al Ganji, Al Manawi, Al Qastalani, Al Zarandi, Al Khazin, Al Zarghani, Ibnu Hajar, As Samhudi, As Suyuthi, Ash Shafuri, As Saban, Syab Lanji, Al Handzrami, dan An Nabhawi.

Ayat Mubahalah

“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkanmu), maka katakanlah (kepadanya), ‘Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri kalian; kemudian mari kita ber• mubhalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta” (Q.S. Ali ‘Imran: 6D).
Peristiwa ini masyhur dan dikenal semua Muslim. Para ulama Islam sepakat bahwa ayat ini diwahyukan berkaitan dengan utusan kaum Nasrani yang datang dari Najran untuk berdebat tentang masalah Nabi Isa as. dengan Nabi saw. Dalam Al Bihar (jilid 6), Imam Ali menyebutkan peristiwa itu sebagai berikut:

Utusan kaum Nasrani Najran yang dipimpin oleh tiga orang terkemuka, Al Aqib, Muhsin, dan seorang uskup agung; mereka bersama dengan dua orang Yahudi terkemuka menemui Nabi saw. Mereka bermaksud mendebat beliau; sang uskup memulai, “Abul Qasim (Nabi saw.), siapakah ayah Musa?” Nabi menjawab, “Imran.” Sang uskup lalu bertanya, “Siapakah ayah Yusuf?” Nabi menjawab, “Ya’qub.”

Sang uskup melanjutkan, “Semoga aku menjadi penebus bagi Anda; siapakah ayah Anda?” Nabi menjawab, “Abdullah bin Abdul Muththalb.”

Baca juga:  Doa Sayyidah Fathimah as. untuk Keperluan Dunia dan Akhirat

Uskup bertanya, “Siapakah ayah Isa?” Nabi saw. menunggu sejenak sementara Jibril mewahyukan yang berikut kepada beliau, “(Katakan) ia roh Allah dan kalimat-Nya.”

Sang uskup lalu beranya, “Dapatkah ia menjadi roh tanpa memiliki tubuh?” Lagi-lagi sebuah wahyu disampaikan kepada Nabi saw. clan wahyu itu berbunyi, “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, ‘Jadilah’ (seorang manusia), maka
jadilah dia.”

Mendengar hal ini, sang uskup agung mengajukan keberatan kepada Nabi yang mengatakan bahwa Isa as. diciptakan dari tanah; ia berkata, “Muhammad, kami tidak menemukan ini ada di dalam Taurat, Injil, ataupun Zabur. Engkaulah orang pertama yang mengatakan hal ini.”

Pada saat itulah,ayat mubhalah diwahyukan.
Setelah mendengar ayat ini, para utusan itu mengatakan, “Tetapkanlah bagi kita sebuah rapat yang khidmat (di mana setiap pihak bermohon kepada Allah untuk mengutuk pihak yang lain jika mereka pendusta).” Jawaban Nabi atas hal ini adalah, “Esok pagi, insya Allah.”

Esok paginya, Nabi menunaikan salat Subuh clan menyuruh Ali mengikuti beliau clan Fathimah, yang pada gilirannya, menggamit Al Hasan dan Al Husain agar mengikuti Ali. Nabi lalu memerintahkan mereka, “Ketika aku berdoa, kalian harus mengatakan, ‘Amin.”

Baca juga:  20 Tujuan Syariat Islam ; Menurut Saayidah Fathimah a.s.

Ketika melihat keluarga suci Nabi dan bahwa beliau saw. telah membentangkan selembar tkar bagi diri dan keluarganya, para utusan tersebut berkata satu sama lain, “Demi Allah, ia nabi sejati; dan jika ia mengutuk kita, niscaya Allah akan menjawab doanya dan menghancurkan kita. Satu-satunya yang dapat menyelamatkan kita adalah memohon kepadanya agar melepaskan kita dari rapat ini.”

Fakhrur Razi dalam tafsirnya menyatakan, “Uskup agung berkata,
‘Wahai kaum Nasrani, sungguh aku melihat wajah-wajah manusia, yang jika mereka meminta Allah menggerakkan gunung, Dia pasti akan melakukannya. Jangan adakan rapat ini, atau kalian akan dihancurkan dan tiada orang Nasrani akan tinggal di bumi hingga Hari Kebangkitan.’ Utusan itu menghadap Nabi dan berkata, “Abul Qasim, bebaskan kami (dar) rapat yang khidmat ini.’ Nabi menjawab, ‘Sungguh, akan kulakukan; Dia Yang mengirimku dengan kebenaran adalah Saksiku, dan jika saja aku mengutukmu, Allah tidak akan menyisakan seorang Nasrani pun di muka bumi.”

Begitulah ringkasan kisahnya. Yang menjadi masalah bagi kita di sini adalah firman Allah: “istri-istri kami dan istri-istri kalian. “ Namun segenap Muslim sepakat bahwa Nabi clan Ali mewakili “diri kami,” Al Hasan dan Al Husain mewakili “anak-anak kami,” dan Fathimah az Zahra mewakili “istri-istri kami.” Kenyataannya memang beliau saw. tidak diiringi perempuan lain, termasuk para istrinya, para bibinya, atau perempuan Muslimah mana pun.

Ini membuktikan bahwa tidak ada seorang perempuan pun yang seistimewa, seagung, dan sesuci Fathimah. Nabi hanya memanggil Fathimah untuk bergabung dengan beliau, karena ia satu-satunya perempuan yang mampu memenuhi persyaratan-persyaratan ayat itu.

Surah al Insan

“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya air kafur, (yait) mata air (di surgayang darinya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan scbaik-baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka mengatakan,) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah demi mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan darimu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang• orang bermuka masam penuh kesusahan.’ Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberi mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati. Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra, di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (terik) matahari dan tidak pula dingin yang mencekam. Dan naungan (pohon-pohon surga. itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan dipetik semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala bening dari kaca, (yaitu) kaca dari perak yang telah mereka ukur dengan sebaik-baiknya (sesuai dengan keinginan mereka). Di dalam surga itu, mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya jahe, (yang didatangkan dari) sebuah mata air yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka mutiara yang bertaburan. Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka mengenakan pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal, dan dipakaikan kepada mereka gelang dari perak, dan Tuhan memberi kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya inilah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)” (Q.S. al Insan: 5-22).

Ayat-ayat ini diwahyukan setelah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain memberi sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan; kisah ini termaktub dalam kitab Al Kasyafkarya Al Zamakhsyari; ceritanya adalah sebagai berikut;
Ibnu Abbas mengatakan, “Sekali waktu Al Hasan dan Al Husain sakit, Rasulullah dan sekelompok orang menjenguk mereka. Para tamu menganjurkan kepada Imam Ali agar bernazar kepada Allah, jika Allah menyembuhkan mereka, ia akan melakukan sejumlah kebajikan. Karena itu, Imam Ali bersama dengan Fathimah clan pelayan mereka, Fidhdhah, bemazar kepada Allah bahwa mereka akan berpuasa selama tiga hari jika Allah menyembuhkan Al Hasan clan Al Husain.

Baca juga: Ayatullah Behjat : Tentang Sayyidah Fathimah

Ketika Allah memulihkan mereka, Imam Ali meminjam tiga sha’ (kira-kira satu kilogram) barli (sejenis gandum) dari seorang Yahudi bemama Simon. Fathimah menggiling satu sha’ barli dan memanggang lima lembar roti untuk makanan keluarganya di petang hari. Ketika magrib menjelang, seorang miskin mengetuk pintu clan berkata,
‘Assal~mu’alaikum, wahai keluarga Muhammad. Aku orang yang miskin
di antara kaum Muslim, berilah aku makan, semoga Allah memberi kalian makan dengan makanan dari surga.’ Keluarga suci ini mendahulukan si orang miskin itu daripada diri mereka sendiri dan melewatkan malam tanpa apa pun di perut mereka kecuali air.

Mereka berpuasa di hari kedua, dan lag-lagi pada waktu magrib, saat menunggu makanan mereka, seorang anak yatim meminta bantuan mereka dan mereka lagi-lagi mendahulukan anak itu daripada diri mereka sendiri. Petang ketiga, seorang tawanan (perang) meminta bantuan mereka dan mereka mengulangi pengutamaan bagi yang membutuhkan daripada diri mereka sendiri.

Pagi berikutnya, Imam Ali membawa Al Hasan clan Al Husain kepada Rasulullah yang mengatakan yang berikut ini ketika melihat mereka gemetar seperti anak ayam karena lapar. Nabi berkata, ‘Kami sungguh sedih melihat kalian dalam keadaan begini.’ Beliau lalu berangkat bersama mereka, sebab beliau ingin menengok Fathimah. Ketika mereka tiba, Fathimah berada di mihrab (tempat salat), dan keadaannya sedemikian sehingga Nabi saw. makin merasa sedih. Saat itulah, Jibril turun dan berkata, ‘Bawalah surah ini, wahai Muhammad Allah sungguh mengucapkan selamat bagimu karena memiliki keluarga ini.”

Baca juga: Tidak Indah Pujian Kecuali Tentang Fathimah

Patutlah dikatakan bahwa orang-orang bajik yang disebutkan di sini adalah Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain; yang berhak atas surga karena tindakan mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan.

Hal lain yang perlu dicatat di sini adalah bahwa sekalipun uraian tentang surga diberikan secara terperinci dalam ayat-ayat ini, Allah Ta’ala tidak menyebutkan para bidadari. Ini merupakan wujud penghormatan dan pemuliaan atas Fathimah, istri Imam Ali, dan ibunda Al Hasan dan Al Husain.[]

Abu Muhammad Ordoni, Buah Cinta Rasulullah Saw Sosok Sempurna Wanita Surga

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed