by

Mengharap syafaat termasuk syirik?

Apakah mengharap syafaat termasuk syirik ?

Beberapa orang menganggap perilaku kaum Syiah yang mengharap belas kasih dan syafaat dari para imam, termasuk per buatan syirik dan bertentangan dengan konsep tauhid. Benarkah demikian dan bagaimana menurut Al-Quran?

Jawab:

Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu dipahami bahwa syafaat merupakan hak milik Allah, seperti dinyatakan dalam Al-Quran:

Katakanlah, “Hanya kepunyaan Allah, syafaat itu semuanya.” (QS. Az-Zumar, 39: 44)

Dari ayat ini, beberapa orang memahami bahwa mengharap syafaat dari selain Allah berarti sama dengan menyembah selain Allah. Pengharapan syafaat hendaknya semata- mata ditujukan kepada Allah, jika ditujukan kepada selain Allah berarti syirik dan tidak sesuai dengan konsep tauhid.

Baca juga: Rahasia dan Falsafah Salat

Penjelasan:

Yang dimaksud syirik di sini bukanlah syirik kepada dzat Allah, syirik penciptaan atau syirik pengaturan, tetapi syirik ibadah atau syirik penyembahan kepada-Nya. Penyelesaian masalah ini berkaitan erat dengan pengertian ibadah atau penyembahan.

Sebenarnya pengertian ibadah sangat kabur, sehingga sering terjadi kesalahpahaman bahwa setiap bentuk kerendah• an atau ketundukan di hadapan makhluk, atau segala bentuk penghambaan sesama makhluk, merupakan ibadah atau penyembahan.

Al-Quran menjelaskan bahwa para malaikat bersujud dihadapan Nabi Adam (as) dalam ayat berikut.

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh-Ku, hendaklah kalian tunduk bersujud kepadanya.” Lalu bersujudlah para malaikat semuanya, serentak. (QS. Shad, 38: 72-73)

Tindakan sujud ini adalah perintah Allah, tetapi bukan untuk menyembah Nabi Adam (as). Demikian juga ketika Nabi Yaqub (as) bersama anak-anaknva bersujud di hadapan Nabi Yusuf (as):

Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya bersujud. (Q5. Yusuf, 12: 100)

Baca juga: Mengapa Orang-orang Syiah Bersujud di Atas Turbah ?

Apabila kejadian ini dipahami sebagai aksi penyembahan Nabi Yusuf (as), maka Nabi Yaqub (as) bukanlah nabi yang layak mendapat predikat maksum, terlebih beliau juga rela anak-anaknya melakukan hal yang sama. Padahal tidak Ada sikap ketundukan yang lebih tinggi selain bersujud. Oleh karenanya, arti ketundukan (tunduk) atau berharap dari selain Allah, harus dibedakan dari arti penyembahan.

Penyembahan berarti ketika seseo rang sadar akan wujud (eksistensi) dan berpikir wujud tersebut adalah Tuhan, lantas melakukan penyembahan kepadanya; atau sadar akan eksistensi makhluk tetapi berpikir bahwa segala pekerjaan ketuhanan seperti mengatur alam, mengampuni dosa-dosa dsb., diambil sepenuhnya oleh makhluk tersebut.

Sedangkan tunduknya seseorang yang tidak disertai anggapan bahwa wujud tersebut adalah Tuhan atau pekerjaan-pekerjaan Tuhan tidak diambil alih oleh makhluk-Nya, maka tunduk di sini berarti tidak lebih dari penghormatan semata, seperti halnya penghormatan para malaikat kepada Nabi Adam (as) dan penghormatan Nabi Yaqub (as) bersama anak-anaknya kepada Nabi Yusuf (as).

Sehubungan dengan pertanyaan di awal pembahasan, harus disadari ketika seseorang memahami bahwa otoritas syafaat diberikan sepenuhnya tanpa suatu sebab atau suatu alasan kepada para pemberi syafaat, maka keyakinan semacam ini termasuk perbuatan syirik kepada Allah. Dikarenakan orang itu berharap kepada selain Tuhan akan pekerjaan Tuhan atau hal-hal yang hanva dilakukan Tuhan.

Baca juga: Apa Hukum Berzina dengan Wanita Bersuami? Adakah Jalan untuk Bertaubat bagi Pelakunya?

Hal ini menjadi berbeda ketika seseorang menyadari adanya sekelompok manusia suci, mereka bukanlah pemilik syafaat namun memperoleh izin dari Allah dengan syarat-syarat tertentu untuk memberi syafaat kepada para pendosa, dan syarat yang paling penting adalah izin Allah dalam memberi svafaat.

Jelas bahwa mengharap syafaat dari manusia suci sama sekali tidak bermakna menganggap Tuhan atas mereka atau mengambil alih pekerjaan Tuhan atas mereka, tetapi mengharap pekerjaan dari manusia suci yang sudah mendapat ridha dari Allah dan pekerjaan tersebut – yakni memberi syafaat adalah sudah menjadi semestinya.

Pada zaman Rasul (saaw), telah datang para pendosa mengharap ampunan dari beliau, dan Rasulullah (saaw) sama sekali tidak mengatakan bahwa mereka telah melakukan perbuatan syirik. Dalam kitab Sunan Ibnu Majah, diriwayatkan bahwa Rasulullah (saaw) bersabda:

“Tahukah kalian bahwa malam ini Allah memintaku untuk meminta sesuatu?” Kami menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasul (saaw) bersabda, ” Allah memintaku untuk memilih antara setengah umatku masuk surga dan syafaat, maka aku memilih syafaat.” Kami berkata, “Wahai Rasulullah! Doakan kepada Allah agar kami layak mendapat syafaat.” Rasu• lullah menjawab, “Syafaat berlaku untuk setiap muslim.” (Sunan lbnu Majah, juz 2 h. 586, bab Dzikru As Suafa’ah)

Jelas dalam hadis ini, para sahabat mengharap syafaat dari Rasulullah dengan mengatakan, “Doakan kepada Allah…”

Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa, 4: 64)

Bac juga: Menuduh Syi‘ah Ghuluw Sama Seperti Menuduh Sunni Ghuluw

Al-Quran menukil dari anak-anak Nabi Yaqub (as):

Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Mintakan ampun bagi kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).” (OS. Yusuf, 12: 97)

Nabi Yaqub (as) pun berjanji akan memberikan ampunan, beliau sama sekali tidak menuduh mereka telah melakukan perbuatan svirik.

Yaqub berkata, “Aku akan memintakan ampun bagi kalian kepada Tuhanku Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf, 12: 98)

Alireza Alatas, Biarkan Syiah Menjawab 2

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed