by

Selamat Jalan Kang Jalal

Cendekiawan Muslim Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, MSc senja hari Senin (15/2) tutup usia. Pria yang akrab disapa Kang Jalal ini berpulang ke rahmat Allah Swt pada usia 72 tahun di Rumah Sakit Santosa, Bandung.

Selain sebagai cendekiawan, Kang Jalal juga dikenal sebagai mubaligh, tokoh pemikir Islam nasional, serta pakar komunikasi dan pendidikan. Pria yang selalu ramah dan menebar senyum di mana pun berada itu juga terbilang produktif menulis sejumlah buku dalam berbagai tema dan disiplin ilmu. Di antaranya tassawuf, kajian al-Quran dan Hadits, sosial, komunikasi, fikih, dan lain-lain.

Kang Jalal lahir di Bandung pada 29 Agustus 1949, dari ibu yang merupakan aktivis Islam dan ayah yang seorang kyai sekaligus lurah di desanya. Pria yang biasa menggunakan iket atau totopong (ikat kepala khas Sunda) ini sejak kecil sebenarnya bercita-cita menjadi pilot. Namun, Jalal kecil sudah terlanjur akrab dengan agama di lingkungan keluarganya.

Baca juga: Dr. Jalaluddin Rakhmat : Renungan Akhir Tahun, Bayangan Kematian

Menempuh pendidikan formal Sekolah Dasar (SD) di kampungnya, Kang Jalal kemudian melanjutkan studinya ke SMP Muslimin III Bandung. Lulus dari sekolah menengah pertama, Kang Jalal langsung melanjutkan sekolahnya ke SMA II Bandung. Berbekal ijazah SMA, ia menempuh studi di Fakultas Publisistik Universitas Padjajaran (UNPAD), Bandung. Sekarang, fakultas itu telah berganti menjadi Fakultas Ilmu Komunikasi.

Pada masa berikutnya, Kang Jalal diangkat sebagai dosen di universitas yang sama. Saat itulah ia memperoleh beasiswa Fullbright untuk melanjutkan studinya ke Universitas Iowa, AS. Di sana, ia mengambil jurusan komunikasi dan psikologi.

Berkat kecerdasannya, ia lulus dengan predikat magna cum laude, dengan nilai 4.0 grade point average, sehingga terpilih menjadi anggota Phi Kappa Phi dan Sigma Delta Chi. Ia juga pernah mengenyam pendidikan di Qum, Iran untuk belajar Irfan dan filsafat Islam. Lalu ia melanjutkan studinya di ANU (Australian National University) Australia dengan kekhususan pada perubahan politik dan hubungan internasional. Di Universitas terakhir ini ia menyabet gelar doktor.

Pada 2003, bersama Cak Nur, Dr. Muwahidin, dan Dr. Haidar Bagir, ia mendirikan ICAS Paramadina. Bersamaan dengan itu, Kang Jalal bersama Dr. Haidar Bagir dan Dr. Umar Shahab (kini Ketua Dewan Syura Ahlulbait Indonesia) dipercaya sebagai dewan pendiri Islamic Cultural Center (ICC).

Baca juga: Kang Jalal Bicara Toleransi – Intoleransi

Setahun kemudian, tepatnya pada 2004, Kang Jalal mendirikan sekaligus memimpin forum kajian tasawuf bernama Kajian Kang Jalal (KKJ) yang sempat bermarkas di Gedung Bidakara. Sampai sekarang, KKJ masih rutin dilaksanakan di Universitas Paramadina, Mampang, Jakarta Selatan, setiap bulan.

Kang Jalal juga membidani lahirnya organisasi kemasyarakatan Ikatan Jamaah Ahlubait Indonesia (IJABI) pada tahun 2001. Dalam ormas itu, ia terpilih sebagai Ketua Dewan Syura IJABI yang dijabatnya hingga wafat.

Sebagai sarjana Muslim, Kang Jalal meninggalkan banyak warisan ilmu yang tertuang dalam sejumlah karya tulisnya, baik berupa artikel maupun buku. Berikur adalah beberapa karya tulisnya dalam bentuk buku:

  1. Psikologi Komunikasi (1985)
  2. Islam Alternatif (1986)
  3. Islam Aktual (1991)
  4. Renungan-renungan Sufistik (1991)
  5. Retorika M oderen (1992)
  6. Catatan Kang Jalal (1997)
  7. Reformasi Sufistik (1998)
  8. Jalaluddin Rakhmat Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer (1998)
  9. Meraih Cinta Ilahi: Pencerahan Sufistik (1999)
  10. Tafsir Sufi al-Fâtihah (1999)
  11. Rekayasa Sosial: Reformasi Atau Revolusi? (1999)
  12. Rindu Rasul (2001)
  13. Dahulukan Akhlak di Atas Fikih (2002)
  14. Psikologi Agama (2003)
  15. Meraih Kebahagiaan (2004)
  16. Belajar Cerdas Berbasiskan Otak (2005)
  17. Memaknai Kematian (2006)
  18. Islam dan Pluralisme, Akhlak al-Quran dalam Menyikapi Perbedaan (2006)

Baca juga: Jalaluddin Rakhmat : Sifat Basyariyyah Rasulullah saw

Wafatnya Kang Jalal merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia dan umat Islam pada umumnya. Kang Jalal adalah sosok langka yang dirinya menjadi kombinasi seorang guru, aktivis, pemikir, politisi, sahabat, juru dakwah, sekaligus orangtua bagi keluarganya. Ya, Kang Jalal kini memang telah berpulang ke haribaan Ilahi. Namun bangsa Indonesia akan selalu mengenang nama dan kepribadiannya yang ramah lewat senyumannya yang selalu hangat bagi semua orang. Teriring doa dan harapan akan rahmat dan ampunan Allah Swt untuknya, mari kita sama-sama mengucapkan, “Selamat jalan Kang Jalal.”

Sumber: ahlulbaitindonesia.or.id

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 comment

News Feed