Home / Hadits / Al-Ghadir dalam Persepsi Ibn Taimiyah

Al-Ghadir dalam Persepsi Ibn Taimiyah

Hadist Al-Ghadir adalah hadist mutawatir yang diakui oleh sunnah maupun Syiah. Bahkan Syamsuddin Al-Dzahabi sang pelopor ilmu rijal Ahlu Sunnah atau dikenal dengan Imam Ilm Rijal wa Tadil menulis didalam kitabnya, Seir A’lam nubala sebagai kitab sakral Ahlu sunnah dalam ilmu rijal berkata pada bab Tarjamah Muhammad bin jarir thabari,

جمع طرق حديث غدير خم في أربعة أجزاء رأيت شطره فبهرني سعة رواياته وجزمت بوقوع ذلك
“Muhammad Jarir Thabari telah mengumpulkan hadist Ghadir khum sampai terkumpul dalam empat jilid kitab. Saya buka sebagian dari kitab tersebut dan melihat keluasan jalur-jalur riwayatnya yang menjadikan diriku sangat yakin sekali bahwa Al-Ghadir benar-benar terjadi ketika itu.”(Al-Dzahabi, Seir A’lam nubala, juz.14, hal.277, peneliti Syuaib Ar nauth, cetakan penerbit Al-Risalah, Beirut, Cetakan ke-9, 1413 H)

Jika para peneliti ingin melihat kemutawatiran Hadist Al-Ghadir, saya sarankan untuk membuka kitab Seir A’lam Nubala Al-Dzahabi didalam Tarjamah Muhammad Jarir Thabari, karena didalamnya terdapat pendapat-pendapat ulama kaliber Ahlu Sunnah yang menekankan ke-mutawatiran hadist Al-Ghadir.

Ibn Taimiyah yang digelari Syeikh Islam oleh kaum Wahabi adalah satu-satunya yang mengaku “Ulama Kaliber” dan mengingkari hadist Al-Ghadir. Ia berkata didalam kitabnya, Minhaj Sunnah:
و قال الرافضي :
الخبر المتواتر عن النبي صلي الله عليه و آله و سلم أنه لما نزل قوله تعالي: «يا أيها الرسول بلغ ما أنزل إليك من ربك»، خطب الناس في غدير خم و قال للجمع كله: أيه الناس! ألست أولي منكم بأنفسكم؟ قالوا: بلي، قال: فمن كنت مولاه فهذا علي مولاه کذب.

Rafidhi (Allamah Al-Hilli) berkata:

“Kabar Mutawatir yang diriwayatkan Nabi Muhammad saww ketika turun ayat, “ Wahai Rasul! Sampaikanlah apa-apa yang turun kepadamu dari sisi tuhanmu.” Berkhutbah didepan manusia ketika itu di telaga khum dan berkata kepada semuanya, “ Wahai Manusia! Apakah aku lebih utama dari diri-diri kalian?” Mereka berkata, “ Ya.” Rasulullah saww berkata, “ Barang siapa yang menjadikan diriku lebih utama, maka hendaknya menjadikan Ali pula lebih utama. (Dari diri kalian) adalah KEDUSTAAN (Hoax) YANG NYATA.” (Minhaj Sunnah, Juz.7 hal.313-315)

Setelah itu di juz yang sama hal. 324 Ia berkata tentang Hadist Mutawatir Al-Ghadir seperti perkataan Jonru di ILC

إن لم يكن النبي قاله فلا كلام، فإن قاله فلم يرد به قطعا الخلافة بعده، اذ ليس في اللفظ ما يدل عليه.
“Jika Rasulullah saww terkait hadist Al-Ghadir tidak berkata apa-apa, maka tidak ada perdebatan. Namun jika Nabi Muhammad saww berkata perkataan terkenal beliau di Ghadir Khum, maka itu tidak menunjukan kepemimpinan Ali, karena lafadz (Man Kuntu maula, fahadza aliyun Maula) tidak menunjukan kekalifahan Ali sama sekali.”

Disinilah saya merasa heran ketika membaca kitab Minhaj Sunnah Ibn Taimiyah, banyak hal yang shahih dan bahkan Mutawatir ia Dustakan dan lemahkan. Membaca Minhaj IT seperti membaca status-status dan perkataan Jonru yang menyerang President tanpa mempedulikan bahwa berita tersebut Shahih atau Mutawatir. Intinya adalah Ibn Taimiyah membenci Ali dan apapun berkenaan dengan Ali, walaupun itu shahih atau mutawatir ia akan cari alasan untuk menulis ujaran Hate speech didalam kitabnya, Minhaj Sunnah.

Ibn Taimiyah tidak akan mempedulikan perkataan ulama-ulama kaliber yang menulis orang-orang yang hadir di Ghadir Khum berkisar 90 ribu hingga 124 ribu. Bahkan banyak ulama-ulama kaliber tidak saja meriwayatkan, bahkan menulis secara khusus kejadian Ghadir Khum seperti Muhammad Jarir Thabari, misalnya.

Jika kita teliti perkataan Ibn Taimiyah memiliki dua kandungan:
1. Mendustakan esensi Hadist Al-Ghadir secara keseluruhan
2. Jikapun Al-Ghadir bukan Hoax, Hadist tersebut tidak menunjukan kekalifahan Ali sama sekali.

Disinilah Ibn Taimiyah bermain dengan pikiran masyarakat awwam. Pertama ia dustakan Al-Ghadir sebagai pembuka yang harus tertanam dipikiran objek. Setelah itu ia mengambil kemungkinan terburuk, jikapun shahih, tidak menunjukan kekhalifahan Ali sama sekali.

Artinya, jikapun benar Al-Ghadir itu adalah realita no Hoax, kalimat maula yang dikatakan Nabi kepada Ali tidak memiliki makna Aula. (Kepemimpinan) Maka, solusi utama kita adalah membongkar perkataan para ulama bahasa kaliber berkenaan Maula.

Al-Farra sebagai Bapak dan pendiri sastra Arab yang dijelaskan oleh Khatib Baghdadi didalam kitabnya, Tarikh Baghdad, Juz.14, hal.154 mengenai keagungan Farra,
لو لا الفرّاء لما كانت عربية
“Kalau bukan karena Al-Farra, maka tidak akan ada ilmu bahasa arab.”

Al-Farra bapaknya sastra Arab dengan tegas dan lugas berkata bahwa makna Maula adalah Aula. Untuk itu dalam konteks perkataan Nabi di Ghadir Khum jelas makna maula memiliki makna Aula yaitu Kepemimpinan, karena Nabi tidak akan mengatakan kata-kata tidak bermakna, naudzubillah mindzalik.

Setelah Al-Farra sang pendiri sastra Arab, Imam Bahasa Arab, Akhfash seperti digambarkan Yafi’i didalam kitabnya Miratul Jinan, Juz.2 hal. 61 berkata mengenai keagungan Akhfash:
اخفش امام العربیة
“Akfash adalah Imamnya bahasa Arab.”

Imamnya bahasa Arab sependapat dengan Al-Farra bahwa Maula memiliki makna Aula. (Kepemimpinan)

Begitupula Imam-imam bahasa arab lainnya seperti: Zujaj dan Abu Ubaidah memiliki keyakinan bahwa makna Maula adalah makna Aula. (Kepemimpinan)

Disini saya tulis adalah Ulama-ulama Bahasa kaliber yang hidup di abad kedua dan ketiga Hijriyah, bukan ulama “uka-uka.”

Fakhrurazi menafsirkan surat Al-Hadid ayat 15 didalam tafsirnya, Al-Kabir,
مأواكم النار هي مولاكم ای و هي أولي بكم
“Tempat tinggal kamu ialah neraka, nerakalah yang paling layak/utama untukmu.”

Tafsir surat Al-Hadid ayat 15 dengan tafsiran Lebih utama/layak, tidak hanya Fakhrurazi, bahkan Thabari dalam Tafsirnya, juz. 27 hal.296, Samarqandi dalam tafsirnya, juz.3 hal.383, Ibn Jauzi didalam Zadul maad, juz.7 hal.304, Sam’ani dan Ibn Kastir dalam tafsir mereka menafsirkan Maula dengan Aula.

Jika kita menilik perkataan Nabi Muhammad saww di hari Ghadir dengan prolog,
ألست أولي منكم بأنفسكم؟ قالو بلی
“Apakah aku lebih utama/layak dari diri-diri kalian? Mereka berkata, Iya wahai Rasulullah saww.”

Setelah itu disambung dengan barang siapa yang menjadikan aku lebih utama dari dirinya, maka jadikanlah pula Ali lebih utama. (Dari diri kalian setelah aku) maka tidak ada keraguan sedikitpun bahwa Maula yang dinisbahkan kepada Imam Ali as adalah Paling layak dan paling utama setelah Rasulullah saww. Dalam hal apa? Dalam segala hal dari tugas-tugas setelah kenabian, yaitu keimamahan.

Karena Syariat telah sempurna. Dan karena syariat telah sempurna menyebabkan Kenabian ditutup. Kenabian ditutup bukan berati umat dibebaskan oleh Allah swt untuk mengotak atik AD-ART Ilahi, Maka Allah swt memerintahkan NabiNya untuk menjelaskan ERA baru setelah kenabian yaitu era Imamah.

Tujuan era Imamah adalah Menjaga Syariat tetap Original dan menjelaskan Syariat Original yang di Inginkan Allah swt kepada manusia. Karena harus sesuai keinginan Allah swt, maka penunjukannya harus dari Allah swt, bukan manusia. Disitulah harus ada pelantikan yang dilakukan di Ghadir Khum.

Allah swt sudah menekan NabiNya untuk pelantikan tersebut. Allah swt berfirman didalam surat Al-Maidah ayat 56:
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan, maka kamu seperti tidak menyampaikan risalah Allah swt sama sekali.”

Jika Nabi tidak melantik Imam Ali as dan menjelaskan era baru, Imamah, maka Syariat yang turun selama ini sehingga sampai taraf kesempurnaan akan menjadi sia-sia.

Mengapa? Karena harus ada sosok sesuai kualifikasi tuhan, menjaga syariat dan menjelaskan syariat agar tetap dalam keoriginalannya.

Dan disanalah ada Ghadir Khum sebagai hari kasih sayang tuhan kepada makhluknya dengan melantik seseorang yang sempurna setelah Rasulullah saww, sehingga dengan syariat sempurna, bisa membawa kita kepada kesempurnaan

 

oleh : Abu Syirin Al Hasan (FB, 8/9/17)

About Admin SM

Check Also

Hadis tentang Sahur Puasa Bulan Ramadhan

Hadits tentang sunnahnya makan sahur orang yang berpuasa dibulan Ramadhan Semua tentu sudah tahu tentang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *