Home / Sirah / Biografi Imam Ali as (3); Sifat-sifat Imam Ali bin Abi Thalib AS.

Biografi Imam Ali as (3); Sifat-sifat Imam Ali bin Abi Thalib AS.

kubah ali

Sifat-sifat Imam Ali bin Abi Thalib AS.

            Imam Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang yang terkumpul padanya sifat-sifat mulia. Bersamanya fitrah yang suci dan jiwa mardhiyah (yang direlai) yang tidak dimiliki oleh orang lain yang unik dari sekian tokoh-tokoh yang ada.

            Nasab dan keturunannya adalah yang terbaik dan termulia. Ayahnya adalah Abu Thalib tokoh penting Quraisy. Kakeknya adalah Abdul Mutthalib pemimpin kota Mekkah. Sebelum itu pun ia merupakan tokoh penting Bani Hasyim.[1]

            Keturunannya lebih bermakna dengan kedekatan nasabnya dengan Nabi Muhammad saw. Nabi adalah anak paman, mertuanya sekaligus orang yang paling dicintai Nabi dari sekalian keluarganya. Ali bin Abi Thalib juga adalah penulis wahyu yang turun pada Nabi. Ali bin Abi Thalib adalah yang paling menyerupai Nabi dalam kefasihan dan sastra Arab. Ia juga termasuk yang paling menghafal sabda-sabda Nabi dan yang paling memahami keluasan maknanya.

            Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang mengikrarkan keislamannya di hadapan Nabi tanpa pernah tersentuh akidah Arab Jahiliah sebelumnya. Sebelum akalnya dirusaki oleh kesyirikan. Ia selalu bersama Nabi di masa-masa sulit maupun senang begitu juga pada masa perang maupun damai. Kebersamaannya dengan Nabi membuatnya senantiasa berakhlak dengan akhlak Nabi sebagai panutannya. Ia memahami agama dari Nabi dan mempelajari apa yang diturunkan Jibril kepada Nabi. Ali bin Abi Thalib akhirnya terkenal sebagai sahabat yang paling paham agama, paling layak untuk menghakimi dengan aturan-aturan syariat, yang paling menjaga agama, yang paling layak mendakwahi orang lain, paling teliti dalam memberikan pandangan dalam masalah agama dan yang paling mendekati kebenaran. Kelebihan-kelebihan ini mengharuskan Umar untuk berkata,’Bila ada Abul Hasan (Ali bin Abi Thalib) tidak akan ada masalah yang tersisa pasti ia dapat menyelesaikannya.[2]

            Ali bin Abi Thalib adalah yang paling berilmu, lebih berpengalaman, bijaksana dan pengkritik yang sangat paham. Perasaannya sangat halus, jiwanya suci dan bersih, emosinya terkontrol, pandangannya tajam, jalan yang dicarinya adalah yang terbaik, pemahamannya sangat cepat, ingatannya luar biasa dan mengenal benar apa yang penting.[3]

Ibadah dan ketakwaan

            Ali bin Abi Thalib terkenal dengan ketakwaannya. Ketakwaannya menjadi penyebab bagi perilaku-perilaku baik dengan diri, keluarga dan masyarakat. Ibadah dalam pandangan mayoritas terkadang diartikan sebagai kembalinya kelemahan pada diri. Terkadang juga diartikan sebagai pelarian dari persoalan-persoalan kehidupan. Di sisi lain, diartikan sebagai bentuk kegelisahan yang diwariskan kemudian diperkuat oleh kebingungan baru yang sumbernya adalah pengkudusan manusia dan masyarakat bagi semua warisan di banyak kondisi.

            Ketakwaan yang dimiliki oleh Imam Ali bin Abi Thalib merupakan sumber semua potensi kekuatan yang dimilikinya sekaligus penyambung seluruh lingkaran moral yang menguat dan berlanjut hingga hari kiamat. Ketakwaan juga memberikan makna jihad di jalur yang menghubungkan kehidupan dengan segala nilai-nilai kebaikan. Bagaimanapun juga, Ketakwaan yang ada pada diri Imam Ali bin Abi Thalib adalah semangat pembangkangan terhadap fasad dan kemungkaran yang senantiasa diperanginya dari segala sisi. Pembangkangan terhadap kemunafikan, semangat mengeksploitasi sesama manusia dan pembunuhan karena manfaat pribadi. Pembangkangan terhadap kenistaan,  kemiskinan, kemelaratan dan kelemahan. Pembangkangan terhadap semua predikat-predikat yang melekat pada kondisi yang rusuh dan riuh di masa hidupnya.

            Siapa saja yang menyaksikan ibadah Imam Ali bin Abi Thalib akan jelas baginya bahwa terlihat ia sangat serius sehingga terkesan berlebih-lebihan dalam ibadah dan takwanya. Hal yang sama, ia sangat serius mengikuti metodenya dalam politik dan memerintah. Dalam masalah ibadah, penyair akan terpana terhenti pada kebesaran wujud yang luas, kejernihan jiwa dan hati yang penuh dengan kecintaan sehingga bila tersingkap baginya keindahan alam niscaya segalanya saling melengkapi dengan apa yang ada dalam wujudnya baik itu bayang-bayang kenikmatan yang menaungi atau keseimbangan. Tanda-tanda yang agung ini dapat dilihat dari penjelasan puncak ketakwaan seorang yang merdeka dan jiwa-jiwa yang besar dan gagah. ‘Sebagian manusia menyembah Allah karena mengharapkan sesuatu. Ibadah seperti ini adalah penghambaan seorang pedagang. Sebagian manusia menyembah karena ketakutan. Ibadah ini adalah penghambaan seorang budak. Sebagian manusia menyembah Allah karena merupakan sebuah bentuk terima kasih dan syukur. Ibadah dengan bentuk yang seperti ini adalah penghambaan seorang merdeka.’[4]

            Ibadah Imam Ali bin Abi Thalib AS. bukan elemen pengantar untuk meraih keuntungan atau alat untuk dapat lari dari Allah swt karena ketakutan sebagaimana ibadah yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Ibadah dengan makna semacam ini memiliki muatan negatif. Ibadah Ali bin Abi Thalib adalah ibadah yang berbeda. Ibadahnya memiliki muatan positif. Ibadah yang muncul dari manusia agung yang muncul dari kesadaran akan dirinya dan alam berdasarkan eksperimen-eksperimen yang telah nyata berhasil, rasio yang bijaksana dan hati yang sensitif.

            Makna takwa yang didefinisikan dan didemonstrasikan Ali bin Abi Thalib membuatnya mampu mengarahkan manusia untuk bertakwa kepada Allah di jalur kebaikan kemanusiaan universal. Atau katakanlah: Di jalan urusan yang lebih mulia dari keinginan seorang pedagang yang beribadah untuk meraih kenikmatan akhirat. Jalur yang dirintis oleh Imam Ali bin Abi Thalib mampu mengarahkan manusia dalam bertakwa agar perbuatan mereka dapat mencerminkan keadilan dan meredam kemazluman dari seorang zalim. Ali bin Abi Thalib berkata, seyogianya kalian bertakwa kepada Allah. Dan dengan berbuat dan menjaga keadilan terhadap teman akrab dan musuh’.[5] Dalam bertakwa, menurut Ali, kebaikan sebuah takwa akan muncul di mana ia mampu melindungimu untuk tidak menerima kebenaran begitu saja tanpa bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Takwa yang baik akan menahanmu untuk berbuat zalim kepada orang yang engkau benci dan menahanmu untuk tidak berbuat dosa. Kehidupan, dengan makna takwa yang didefinisikan Ali, tidak diharapkan karena kenikmatannya sedikit dan kelezatannya yang bakal lenyap.

Kezuhudan

            Ali bin Abi Thalib telah menunjukkan bahwa selama hidupnya adalah orang yang zuhud. Yang lebih penting lagi adalah ia jujur dalam kezuhudannya. Hal yang sama ketika ia jujur dalam semua apa yang dilakukan atau yang terlintas dalam hatinya bahkan yang diucapkannya. Ia mempraktekkan hidup zuhud dari dunia, gemerlapan negara dan kekuatan seorang penguasa serta hal-hal apa saja yang menurut orang lain dapat mengangkat derajat mereka. Sesuatu yang dilihat oleh mereka sebagai inti keberadaan. Ali bin Abi Thalib hidup di sebuah rumah yang sederhana bersama anak-anaknya sementara kekhalifahan berlindung padanya bukan kerajaan. Ia makan dari gandum yang digiling sendiri oleh istrinya dengan tangannya sementara pembantu-pembantu serta gubernur-gubernurnya hidup dalam gemerlap duniawi di Syam, hidup dalam kekayaan di Mesir dan hidup dalam kenikmatan di Irak. Ali bin Abi Thalib memakan roti kering dan keras yang ketika hendak dimakan di patahkan dengan lututnya. Bila musim dingin tiba dan hawa dingin menggigilkan semua orang, Ali tidak mempergunakan beberapa selimut untuk menghangatkan badannya untuk mengusir rasa dingin yang menghantamnya. Ali bin Abi Thalib mencukupkan dirinya dengan pakaian hangat yang tidak terlalu tebal sebagai petanda akan kehalusan ruh yang dimilikinya.

            Harun bin ‘Antarah meriwayatkan dari ayahnya, ‘Aku menemui Ali bin Abi Thalib di daerah Khuznaq. Pada waktu itu musim dingin. Ali bin Abi Thalib memakai pakaian beludru sementara badannya terlihat menggigil. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai Amir Mukminin! Allah telah memberikan kepadamu dan keluargamu bagian di harta ini (baitul mal). Engkau dapat memanfaatkannya untuk dirimu’. Ali menjawab, ‘Demi Allah! Aku menganggap apa yang kalian lihat selama ini kecil. Aku merasa cukup dengan pakaian beludru ini yang kubawa dari Madinah’.[6]

            Salah seorang mendatangi Ali bin Abi Thalib sambil membawakan makanan manis yang berharga mahal yang disebut Al-Faludzaj (kue yang dibuat dari tepung, susu dan madu). Ali tidak memakannya. Sambil melihat makanan tersebut sambil berkata, ‘Demi Allah! Engkau adalah makanan yang berbau wangi, warnamu sangat menarik dan tepat untuk dimakan. Sayangnya, aku tidak akan membiasakan diriku dengan sesuatu yang tidak menjadi kebiasaanku’.[7]

            Sungguh, kezuhudan Ali bin Abi Thalib adalah makna gabungan dari kekesatriaan walaupun, menurut sebagian orang bahwa kezuhudan dan kekesatriaan dua makna yang berbeda.

            Kehidupan Umar bin Abdul Aziz yang indah patut menjadi contoh. Ia mengatakan, ‘Manusia yang paling zuhud adalah Ali bin Abi Thalib’.[8] Sementara keluarganya Bani Umayyah begitu membenci Ali bin Abi Thalib. Mereka memperkenalkan keburukan Ali bin Abi Thalib di hadapan masyarakat bahkan mencaci-makinya di atas mimbar salat Jumat.

            Semua mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib tidak tinggal di istana negara yang telah dipersiapkan untuknya di Irak. Ali tidak ingin rumahnya lebih dari rumah-rumah para fakir miskin yang tinggal dalam kesederhanaan dan kefakirannya. Ucapan beliau terkait dengan sikapnya dalam hidup mencerminkan hal itu. ‘Apakah aku akan merasa cukup dengan diriku ketika orang-orang mengatakan padaku Amir Mukminin sementara aku tidak pernah merasakan kesulitan-kesulitan yang dialami mereka?.[9]

Penolakan dan keluhuran budi

            Ali bin Abi Thalib mendemonstrasikan kekesatriaan dengan makna puncaknya yang mengagumkan. Kekesatriaan yang dipraktekkannya mencakup semua bentuk keluhuran budi. Penolakan dan kebanggaan adalah dua prinsip dan semangat kekesatriaan. Keduanya merupakan sifat dan sikap Imam Ali bin Abi Thalib AS. Oleh karenanya, ia akan sangat marah bila melihat seseorang diganggu sekalipun orang itu tadinya mengganggu orang lain. Ali sangat membenci seseorang yang berinisiatif untuk menzalimi orang lain sekalipun perilaku itu dapat dipercaya bahwa orang yang akan dizalimi akan membunuhnya.

            Semangat penolakan dan kebanggaan inilah yang melatarbelakangi ia berada di atas angin dalam menghadapi orang-orang Bani Umayyah yang mencaci-makinya di hari ketika mereka berusaha menjatuhkannya dengan caci maki. Ali bin Abi Thalib melarang para sahabatnya untuk melontarkan caci makian kepada Bani Umayyah dengan ucapannya, ‘Aku benci melihat kalian suka mencaci maki. Aku dapat menolerir bila kalian menjelaskan perilaku dan menyebutkan kondisi mereka. Hal yang demikian, menurutku, lebih tepat dan bila salah lebih mudah untuk mengucapkan kata maaf, dari pada kalian mengatakan tempat di mana kalian mencaci mereka. Ya Allah, peliharalah darah kami dan darah mereka. Perbaiki hubungan kami dengan mereka. Tunjukkanlah mereka dari kesalahan yang ada sehingga orang yang tidak mengetahui dapat mengenal kebenaran. Sehingga tidak lagi ada yang melakukan perbuatan jelek dan permusuhan’.[10]

Menjaga harga diri

            Kekesatriaan dan penghormatan terhadap harga diri seseorang yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib lebih sulit ditemukan padanannya dalam sejarah. Kejadian-kejadian penghormatan terhadap harga diri seseorang yang dilakukan Ali dalam sejarah kehidupannya lebih banyak dari yang dibayangkan. Salah satunya pada kejadian ketika Ali bin Abi Thalib menahan pasukannya yang dalam kondisi marah untuk tidak membunuh musuh yang bertobat. Ia juga melarang mereka untuk menyingkap tabir dan mengambil harta. Selain itu, saat ia memenangkan pertempuran dengan musuh bebuyutannya yang mencari kesempatan untuk menyelamatkan diri darinya. Ia mengampuni dan berbuat baik dengan mereka. Ali melarang sahabat-sahabatnya untuk menyiksa mereka walaupun mampu melakukan itu.[11]

Kebenaran dan keikhlasan

            Kebenaran dan keikhlasan adalah dua sifat yang dimiliki Imam Ali bin Abi Thalib AS. Kedua saling terkait satu dengan yang lainnya dalam hubungan yang tidak ada habis-habisnya. Salah satunya menjadi bukti bagi yang lainnya. Kebenaran dalam sifat Ali bin Abi Thalib telah mencapai puncaknya sehingga ia harus merelakan khilafah yang menjadi haknya hilang, dirampas orang. Seandainya Ali bin Abi Thalib mau rela sedetik untuk menggantikan sikap kebenaran yang diyakininya niscaya ia tidak memiliki musuh. Orang-orang yang semula adalah temannya tidak akan berbalik memusuhinya. Ali membuang jauh-jauh apa yang menjadi prinsip Muawiyah dalam perilakunya. Ia berkata, ‘Aku tidak akan mencari muka karena agama yang kuanut. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang rendah dalam urusan keagamaanku’. Ketika terpampang dengan lebar akan tipu muslihat Muawiyah di hadapan masyarakat, Ali mengucapkan kalimat yang hanya diungkapkan oleh orang yang memiliki moral yang agung. ‘Demi Allah! Muawiyah tidak lebih cerdik dari aku. Yang dilakukan oleh Muawiyah adalah kecurangan dan perbuatan tercela. Seandainya kecurangan adalah perbuatan yang tidak tercela niscaya aku adalah orang yang paling curang di muka bumi.’[12] Ali bin Abi Thalib selalu mengingatkan akan keharusan berkata benar dalam kondisi apapun. ‘Salah satu dari tanda-tanda iman adalah selalu berkata benar sekalipun itu membahayakanmu. Tidak kompromi dengan kebohongan sekalipun itu memberimu manfaat.’[13]

Keberanian

            Keberanian Imam Ali bin Abi Thalib AS. bila diungkapkan adalah ide dan pemikiran sementara pada tataran praktis adalah iradah dan kehendak. Poros keberanian adalah melindungi hal yang alami seperti kebenaran dan keimanan akan kebaikan. Semua mengetahui bagaimana tidak ada seorang pahlawan di zamannya yang mampu menang melawannya di medan pertempuran. Keberaniannya menentang maut tidak membuatnya takut menghadapi siapa saja. Lebih dari itu, pikiran akan mati dalam peperangan tidak pernah melintas dalam benak Ali bin Abi Thalib sementara ia dalam posisi berduel dalam medan perang. Ia tidak akan berduel dengan musuh-musuhnya dan mengalahkan mereka sebelum berdialog dan menasihati serta menuntun mereka kepada kebenaran.

            Ali bin Abi Thalib dengan segenap kekuatannya yang luar biasa tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap musuhnya dalam kondisi bagaimanapun. Para sejarawan sepakat bahwa Ali bin Abi Thalib tidak pernah memulai dalam berperang hingga musuh telah terlebih dahulu menyerangnya. Ia senantiasa berusaha sebisa mungkin menyeimbangkan segala urusannya berbarengan dengan kemarahannya dengan cara damai agar tidak terjadi pertumpahan darah, tidak terjadi peperangan.

            Secara alamiah tidak melakukan perbuatan melampaui batas merupakan prinsip dan moral Ali bin Abi Thalib. Ia senantiasa menghubungkan dirinya secara erat dengan fondasi universal yang diyakininya yang dibangun atas pengenalan akan perjanjian dan melindungi tanggungan dan berbelas kasih terhadap manusia sekalipun orang lain mengkhianati perjanjian dan melakukan perbuatan tidak beradab dan tidak ada rasa perikemanusiaan.

            Ali bin Abi Thalib tidak pernah sedikit pun memenangkan rasa permusuhannya atas kebenaran. Hal itu sudah pasti akan dilakukan bila tidak ada lagi tuntunan agung dari sifat memenuhi janji dan kewibawaan serta kedermawanan yang memenuhi jiwanya dalam mengalahkan rasa takutnya.

            Sayangnya, pemilik kasih sayang ini tidak dilindungi oleh sahabat-sahabat yang betul-betul mencintainya. Mereka tidak ingin menjadi seperti Ali bin Abi Thalib dan dirinya. Akhirnya Ali bin Abi Thalib membiarkan mereka dalam kebaikan bumi namun tidak seluruh makhluk. Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Demi Allah! Seandainya aku diberi tujuh iklim di bumi ini namun aku harus bermaksiat kepada Allah dengan merebut sebutir gandum murahan dari mulut seekor semut niscaya aku tidak akan mengabulkan itu. Dunia kalian di sisiku lebih rendah nilainya dari dedaunan yang sedang dikunyah oleh seekor belalang’.[14]

            Ali bin Abi Thalib dalam hal ini, tidak sekedar berkata dan kemudian melakukannya. Namun, ucapannya mengalir dari perbuatan yang alami yang dipraktekkan dan dari perasaan yang dirasakannya. Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling mulia di antara manusia. Ia adalah makhluk Allah yang paling jauh untuk mengganggu makhluk yang lain. Ia paling dekat dengan manusia untuk membantu mereka agar hati nuraninya tidak tersiksa. Bukankah seluruh kehidupannya adalah rentetan peperangan yang berkepanjangan untuk menolong orang-orang yang dizalimi dan lemah? Ia dengan senang hati akan menolong kaum tanpa permintaan pertolongan dari mereka yang selalu menjadi alat produksi dari para penguasa yang mewarisi sistem kesukuan. Apakah pedang tajamnya yang di arahkan ke leher orang-orang Quraisy yang ingin menguasai kekhalifahan, kepemimpinan, posisi dan pengumpulan harta masih belum jelas menjelaskan hakikat ini! Bukankah ia meletakkan khilafah dan kehidupan di atas bumi hanya karena ia enggan berjalan berbarengan dengan pencinta dunia yang selalu memarginalkan kaum lemah dan papa serta yang dizalimi?

Keadilan

            Tidak aneh bila dikatakan Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling adil. Aneh bila Ali bin Abi Thalib adalah kebalikannya. Riwayat-riwayat tentang keadilan Ali bin Abi Thalib adalah harta peninggalan yang tak terkira yang senantiasa mengawasi posisi dan derajat manusia dan semangat kemanusiaan.

            Ali bin Abi Thalib tidak ingin ditinggikan dalam hak-haknya di peradilan. Bahkan ia selalu berusaha agar diadili bila harus karena pengadilan adalah bagian dari semangat keadilan.

            Semangat keadilan dalam diri Ali bin Abi Thalib mengalir hingga merasuki hal-hal yang paling sederhana. Wasiat-wasiat dan surat-suratnya kepada para gubernurnya hampir seluruhnya berisikan pesan untuk berlaku adil. Keadilan telah memenangi pertempuran di dalam hati Ali bin Abi Thalib dan hati para pengikutnya sekalipun mereka dizalimi dan ia disakiti.

Rendah hati

            Salah satu prinsip moral Imam Ali bin Abi Thalib AS. adalah ia senantiasa menyandarkan perilakunya pada kesederhanaan dan menolak pemaksaan. Ia berkata, ‘Teman yang paling buruk adalah yang memaksa orang lain untuk melakukan pekerjaan yang sulit’.[15] Di tempat lain ia juga berkata, ‘Ketika seorang mukmin membuat saudara mukminnya marah, maka hampir dapat dipastikan bahwa ia telah berpisah dengannya’.[16]

            Oleh karenanya, Ali bin Abi Thalib tidak pernah berbuat-buat dalam pandangan yang disampaikannya, nasihat yang dianjurkannya, harta yang diinfakkannya atau harta yang dilarang untuk diberikan. Semua yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sifat alami ini senantiasa dilakukannya sehingga sahabat-sahabat yang mengharap keuntungan merasa putus asa sekalipun dengan tipu daya. Sebagian sahabat menyebutnya orang yang berhati keras, orang yang terasing dan arogan. Kebenaran yang dirasakan dan mengungkapkan kebenaran itu sendiri bukanlah sikap arogan dan bukan pula orang yang terasing dari lingkungannya. Bahkan sebaliknya, sikap menyampaikan kebenaran adalah usaha untuk memerangi sikap arogansi dan ‘ujub (merasa besar hati). Dan, Ali bin Abi Thalib sejak awal senantiasa melarang anak-anak, pembantu-pembantu dan gubernur-gubernurnya untuk merasa takabur dan ‘ujub dengan ucapannya, ‘Hati-hatilah engkau dengan rasa ‘ujub yang menghinggapi dirimu. Ketahuilah rasa ‘ujub (menganggap besar diri sendiri) adalah bentuk dari rasa permusuhan terhadap kebenaran dan salah satu perusak hati’.[17] Ia membenci kecintaan kepada dirinya yang dipaksakan sebagaimana ia membenci kebencian yang di alamatkan kepada dirinya dengan cara paksa. Ali bin Abi Thalib berkata, ‘Dua kelompok yang celaka terkait dengan diriku. Pertama, pencinta yang berlebih-lebihan dan kedua, pembenci yang berlebih-lebihan’.[18]

            Ali bin Abi Thalib maju ke medan pertempuran menghadapi musuh-musuhnya untuk berduel tanpa memakai topi pelindung sementara para musuhnya memakai pelindung dari besi. Tidak aneh bila ia keluar menghadapi mereka dengan keterbukaan jiwa sementara mereka menutupi dirinya dengan tipu muslihat dan riya.

Kesucian

            Ali bin Abi Thalib dikenal dengan hatinya yang sehat. Ia tidak pernah merasa hasut kepada orang lain bahkan kepada musuh bebuyutannya sendiri. Ia tidak punya perasaan jelek bahkan kepada orang yang membencinya karena hasut.

Kedermawanan

            Salah satu moral Ali bin Abi Thalib adalah kedermawanan. Kemuliaannya tidak mengenal batas. Kemuliaan Ali bin Abi Thalib memiliki muatan positif dan sehat sesuai dengan prinsip-prinsip dan tujuannya. Ali bin Abi Thalib tidak akan memuliakan gubernur-gubernurnya yang dihormati lewat harta dan usaha-usaha masyarakat.  Sikap penghormatan dan kemuliaan seperti ini tidak pernah dilakukannya sekalipun dalam hidupnya. Kemuliaan Ali bin Abi Thalib dapat diungkapkan dengan sekumpulan kekesatriaan. Ia memeriksa anak wanitanya dengan seksama bahkan dapat dikatakan sangat tegas karena mempergunakan kalung dari harta Baitul Mal menyongsong hari raya. Ali bin Abi Thalib dengan tangannya sendiri menyirami pohon kurma yang dimiliki sekelompok orang-orang Yahudi Madinah sehingga tangannya melepuh. Upah yang diterima diberikannya kepada mereka yang membutuhkan dan fakir miskin. Sebagian dari upah yang diterimanya dipakai untuk membeli budak-budak untuk kemudian dimerdekakannya.

            Muawiyah secara pribadi menyaksikan akan kedermawanan Ali bin Abi Thalib sambil berkata, ‘Seandainya Ali bin Abi Thalib memiliki sebuah rumah dari emas dan sebuah lagi dari jerami niscaya ia akan menghabiskan rumah dari emasnya terlebih dahulu sebelum rumahnya yang dibuat dari jerami hancur’.[19]

Ilmu dan pengetahuan

            Ibnu Abi Al-Hadid berkata, ‘Apa yang harus aku katakan pada seorang yang berkumpul padanya semua keutamaan, semua perbedaan kembali menyatu padanya dan bagaikan magnet semua pihak tertarik dan mengelilinginya. Ia adalah pemimpin segala keutamaan bahkan sumbernya. Siapa saja yang memiliki sifat-sifat besar pasti mengambil dan mencontohinya dari Ali bin Abi Thalib.

            Paling mulianya ilmu-ilmu yang membicarakan tentang Allah diambil dari ucapan-ucapannya, dinukil darinya, akhir dan awal kembali padanya. Ilmu fikih misalnya, asal dan dasarnya adalah Ali bin Abi Thalib. Setiap fakih dalam Islam adalah keluarga besar Ali bin Abi Thalib dan memanfaatkan ilmu dan fikih Ali bin Abi Thalib. Ilmu tafsir Al-Quran diambil darinya dan dari ucapannya kemudian diperluas. Ilmu tarekat dan hakikat serta keadaan-keadaan tasawuf diambil dari khazanah ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib. Silsilah pimpinan para sufi akhirnya terhenti pada Ali bin Abi Thalib. Ilmu Nahwu dan bahasa Arab yang dikuasai kebanyakan manusia merupakan hasil kreativitas Ali bin Abi Thalib yang didiktekan kepada Abu Al-Aswad Ad-Duali; prinsip-prinsip dan kesimpulannya.’

            Ibnu Abi Al-Hadid menambahkan, ‘Akan halnya kefasihan, Ali bin Abi Thalib adalah tokoh dan pakar kefasihan dan pemimpinnya. Terkait dengan ucapan-ucapannya, Ibnu Abi Al-Hadid memberikan penilaian, ‘di bawah kalam ilahi dan di atas kalam manusia’. Orang-orang mempelajari seni pidato dan menulis darinya. Demi Allah! Tidak ada yang lebih fasih di lingkungan orang-orang Quraisy selain Ali bin Abi Thalib. Bukti kefasihannya adalah kitab yang saya komentari. Buku ini, Nahjul Balaghah, tidak tertandingi dalam kefasihan dan tidak ada yang menyamainya dalam retorika.

            Dilanjutkan lagi, ‘Masalah zuhud dari dunia yang menjadi sifat Ali bin Abi Thalib dapat dikatakan bahwa ia adalah pimpinan mereka yang mengaku zuhud. Kaki, tangan dan otot-otot sampingnya senantiasa sakit karena setiap perjalanan kembali padanya, pakaiannya adalah kain tebal yang kaku, ia tidak pernah kenyang seumur hidupnya dan orang yang berpakaian dan makanannya kasar.’

            Terkait dengan ibadah maka Ali bin Abi Thalib adalah manusia yang paling banyak melakukan ibadah baik salat maupun puasa. Para sahabat mempelajari bagaimana melakukan salat malam, membaca wirid-wirid dan bagaimana melakukan salat-salat sunat. Apa yang dapat kau pikirkan dari seorang lelaki yang secara serius dan berkesinambungan membaca wirid dengan menghamparkan kain untuk salat dan berdoa di perang Shiffin pada malam Harir.[20] Ali bin Abi Thalib pada malam pertempuran itu melakukan salat dan membaca wiridnya sementara anak-anak panah berjatuhan di depannya. Anak-anak panah menembus dan merobek apa saja yang berada di kiri dan kanannya. Ali bin Abi Thalib tidak terlihat bergeming dari tempatnya. Tidak terlihat ada rasa ketakutan sedikit pun dari wajahnya. Ia tidak meninggalkan salatnya hingga selesai melakukannya. Seandainya engkau merenungi doa-doa dan munajat yang dilakukannya, seandainya engkau terhenti sebentar bagaimana ia mengagungkan dan memuliakan Allah swt, pengagungan yang mengandung kekhusyukan, kerendahan dan penyerahan total di hadapan kebesaran dan keagungan-Nya niscaya engkau akan mengetahui seberapa murni keikhlasannya. Engkau akan memahami lewat hati dari siapa ungkapan-ungkapan ini mengalir, lewat lisan siapa terlontar. Ali bin Al-Husein AS. seorang yang mencapai puncak dalam beribadah sehingga di beri gelar Zainul Abidin (hiasan orang-orang yang beribadah) berkata, ‘Ibadahku bila dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan kakekku Ali bin Abi Thalib sama perbandingannya dengan ibadah Ali bin Abi Thalib bila dibandingkan dengan ibadah Rasulullah saw’.

            Bacaan Al-Quran dan kesibukannya membaca dan memahaminya merupakan fokus bab ini. Semua sepakat bahwa Ali bin Abi Thalib menghafal Al-Quran sejak zaman Rasulullah saw sementara belum ada yang menghafalkannya. Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang mengumpulkan Al-Quran. Terkait dengan masalah qiraat (bentuk-bentuk pembacaan) Al-Quran, dapat ditemukan bahwa para pimpinan qiraat ujung-ujungnya berakhir pada Ali bin Abi Thalib AS.

            Apa yang dapat kukatakan tentang seorang yang dicintai oleh ahli dzimmah yang mencintainya sekalipun mereka tidak menerima konsep kenabian. Seorang yang diagungkan para filsuf sementara mereka memusuhi umat beragama. Seorang yang dilukis gambarnya oleh orang-orang Eropa dan Roma di gereja-gereja dalam keadaan memegang pedangnya. Seorang yang dicintai oleh semua orang dan ingin agar orang yang sepertinya diperbanyak. Seorang yang disenangi oleh setiap orang untuk dapat dihubungkan dengannya?

            Aku merasa sulit menyifati seorang yang terlebih dahulu mendapat hidayah dari orang lain. Orang paling awal yang mengesakan Allah setelah Muhammad Rasulullah saw.[21]

[1] . Ibnu Abi Al-Hadid, Muqaddimah Syarh Nahjil Balaghah, jilid 1, hal 3.

[2] . Manaqib Alu Abi Thalib, jilid 2, hal 361, cetakan Dar Al-Adhwa’.

[3] . Lihat: Muqaddimah Syarh Nahjil Balaghah, peneliti Muhammad Abu Al-Fadhl Ibrahim.

[4] . Shubh As-Shalih, Nahjul Balaghah, hal 531, hikmah ke 237, cetakan Dar Al-Hijrah, Qom.

[5] . Bihar Al-Anwar, jilid 77, hal 236, Bab Washiyyah Amir Al-Mu’minin, cetakan Al-Wafa.

[6] . Bihar Al-Anwar, jilid 40, hal 334, cetakan Al-Wafa.

[7] . Idem, jilid 40, hal 327.

[8] . Bihar Al-Anwar, jilid 40, hal 331. bab 97, nomor hadis 13, cetakan Al-Wafa.

[9] . Shubh As-Shalih, Nahjul Balaghah, hal 418, surat ke 45.

[10] . Shubh As-Shalih, Nahjul Balaghah, hal 323, khutbah ke 206.

[11] . Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 276.

[12] . Nahjul Balaghah, khutbah ke 200.

[13] . Nahjul Balaghah, kalimat-kalimat hikmah ke 458.

[14] . Nahjul Balaghah, khutbah ke 224.

[15] . Nahjul Balaghah, hikmah nomor 479.

[16] . Idem, nomor 480.

[17] . Nahjul Balaghah, dari kitab 31, nomor 57.

[18] . Nahjul Balaghah, hikmah ke 117.

[19] . Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 43, hal 414, Tarjamah Ali bin Abi Thalib.

[20] . Malam Harir malam terdahsyat di mana dua pasukan bertemu di peperangan Shiffin. Lihat Muruj Az-Dzahab, jilid 2, hal 389.

[21] . Ibnu Abi Al-Hadid, Muqaddimah Syarh Nahjul Balaghah, hal 16-30, peneliti Muhamamd Abu Al-Fadhl Ibrahim.

About Aba Fatma

Check Also

Muqaddimah Kisah Mubahalah [Dr Hakimelahi ]

Pada tanggal 24 Dzukhijjah, menurut riwayat adalah hari mubahalah. Walaupun ada riwayat lain yang menyebutkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *