Home / Download / Ceramah / Jawaban Cerdas Imam Ali, Darimana Kita Mengenal Tuhan ?

Jawaban Cerdas Imam Ali, Darimana Kita Mengenal Tuhan ?

Berikut ini adalah sebagian potongan dari ceramah Syaikh Mutawalli Syarawi (Ulama Al-Azhar) tentang bagaimana Imam Ali menjawab darimana kita mengenal Tuhan :

Sayyidina Ali pernah ditanya :

“Apakah engkau mengenal Tuhanmu lewat Muhammad? Atau engkau mengenal Muhammad melalui Tuhanmu?”
“Manakah caramu mengenal lebih dulu?”

Sayyidina Ali menjawab : “JIka aku mengenal Muhammad melalui Tuhanku, maka aku tak membutuhkan rasul lagi.”

“Apakah engkau mengenal Muhammad melalui Tuhanmu? atau apakah engkau mengenal Tuhanmu lewat Muhammad?”

“Jika aku mengenal Muhammad melalui TUhanku, maka aku tak membutuhkan rasul lagi.”

Lalu apa jawaban dari pertanyaannya?
Itulah yang terjadi jika jawabannya : mengenal Tuhanmu lewat Muhammad.

JIka aku mengenal TUhanmku melalui Muhammad, niscaya Muhammad lebi aku percayai daripada Tuhanku.”

Bukan keduanya sebagai jawaban.

“Tapi aku mengenal Tuhanku melalui Tuhanku (lewat tanda-tanda kehadiran-Nya di alam semesta). “Lalu datanglah Muhammad untuk menjelaskan kepadaku apa yang dikehendaki oleh Tuhanku terhadapku”.

Sumber : Tora Islam

Siapakah Asy-Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi ?

Syaikh Asy-Sya’râwi juga amat cinta kepada keturunan Rasulullah Saw. Ia sering berkunjung ke kawasan al-Husain (sebuah wilayah yang banyak didiami dzurriyyah Rasul), rutin berziarah ke makam Sayyidah Nafisah, dan menghadiri majelis Maulid di halaman Masjid al-Husain.

Suatu ketika, dalam sebuah diskusi keagamaan, ia pernah ditanya: “Bagaimana pendapat Tuan tentang ziarah ahlul bait dan para wali yang merupakan kebiasaan orang-orang Mesir khususnya orang-orang dari dusun yang bertabarruk kepada mereka?”

Seraya meletakkan tangannya di dada seolah-olah berbicara tentang dirinya, ia menjawab: “Kami besar sebagai orang dusun. Selama hidup, kami tinggal di lingkungan ahlul bait dan para wali. Orangtua-orangtua kami, datuk-datuk kami, ibu-ibu kami dan saudara-saudara kami semuanya tinggal di serambi para wali. Kami tidak melihat kebaikan kecuali dari mereka. Kami tidak mengetahui ilmu kecuali di tempat-tempat mereka. Kami juga tidak mengenal keberkahan kecuali dengan mencintai mereka.

Kami mencintai mereka karena mereka berhubungan dengan Allah. Kebaikan datang kepada kami dari orang-orang yang sangat kami yakini bahwa mereka berhubungan dengan Allah. Mereka tidak dikenal kecuali oleh orang-orang yang jiwanya menerima manhaj (syari’at) Allah.

Bagaimana mungkin mereka membolehkan berziarah ke kuburan orang-orang Muslim awam tetapi mengharamkan menziarahi mereka yang dikenal sebagai orang shalih! Ziarah kubur itu diperintahkan. Jika hal itu telah dilakukan untuk orang-orang Muslim awam, apakah orang-orang yang telah dikenal atau orang yang baik dikecualikan dari hal itu, lalu diharamkan menziarahi kuburnya karena ia orang baik? Pendapat ini sungguh tidak masuk akal! Anggap sajalah itu seperti kubur-kubur yang lain dan berdzikirlah kepada Allah di tempatnya.

Kita tidak menentang ziarah. Yang kita tentang adalah hal-hal yang tidak benar yang terjadi di dalamnya. Orang-orang yang meminta sesuatu dari mereka dapat kita katakan berbuat syirik. Tetapi jika ia meminta kepada Allah di makam-makam mereka, apa yang harus dilarang?

Demi Allah, seandainya dalam berziarah itu tidak ada hal lain yang didapatkan selain sekadar pertemuan dengan orang-orang yang tunduk di hadapan Allah, itu sudah cukup bagi saya. Seandainya tidak ada yang saya dapatkan di sana selain bertemu orang-orang yang menggunakan dirinya kembali kepada Allah, itu sudah cukup. Saya akan pergi untuk bertemu orang-orang yang meninggalkan dunia dan makan sekali saja dalam sehari.

Orang-orang yang menziarahi Imam Husain, Sayyidah Nafisah, Sayyid Ahmad al-Badawi atau Syaikh Ibrahim ad-Dasuqi, akan malu melakukan maksiat setelah itu. Mungkin juga perasaan malu itu akan terus menyertainya sepanjang hayatnya.”

Setiap hari Jum’at selama 20 tahun di Masjid Arba’in di kampung kelahirannya dan beberapa masjid di Kairo, ia mengisi sebuah majelis bertajuk “Khawathir Sya’rawi”. Ia berceramah dan mengisi pengajian tafsir al-Quran. Kemampuan orasinya mampu memikat pendengarnya yang terdiri dari kalangan masyarakat biasa. Sungguh pun begitu, para pendengar dari kumpulan kaum intelektual sekuler, seperti Syaikh al-Qimani, senantiasa memperhatikan ceramahnya.

Selepas meninggalkan jabatannya dalam kementerian, ia berkhidmat sebagai ulama al-Azhar. Namun dalam penampilan berpakaian, ia enggan memakai pakaian resmi para ulama al-Azhar dan hanya memakai kopiah dan jubahnya.

Sumber : muslimedianews.com/

About Admin SM

Check Also

Tidak Semua Pecinta Al Husain Itu Mau Berkorban

Sayyid Hasyim Al Haidari : “Banyak manusia yang mencintai Al Imam Husain as. Mereka berinteraksi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *