Home / Sirah / Manusia Suci Keenam, Imam Keempat; Imam ‘Ali Zainal Abidin As

Manusia Suci Keenam, Imam Keempat; Imam ‘Ali Zainal Abidin As

sajjad 

Nama                     : ‘Ali

Gelar                     : Zainal Abidin

Panggilan               : Abu Muhammad

Nama Ayah           : Husain bin ‘Ali

Nama Ibu              : Syarh Banu, putri Yazdeger III, Raja Persia

Wiladah                  : Sabtu, 15 Jumadil ‘Ula 36 H.

Syahadah            : Pada usia 58 tahun, di Madinah; diracun oleh al-Walid bin ‘Abdil Malik bin Marwan pada tanggal 25 Muharram 95 H

Haram                    : Jannatul Baqi, Madinah

Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin merupakan Imam Keempat. Panggilan Imam ‘Ali Zainal Abidin adalah Abu Muhammad dan masyhurnya dikenal sebagai “Zainal ‘Abidin”. Ibu Imam Keempat ini adalah seorang putri bangsawan, Syarh Banu, putri Raja Persia, Penguasa terakhir Bangsa Persia pra-Islam.

Imam Zainal ‘Abidin meluangkan dua tahun pertama masa kecilnya di pangkuan datuknya ‘Ali bin Abi Thalib dan kemudian selama dua belas tahun di bawah perlindungan pamandanya, Imam Kedua, Imam Hasan bin ‘Ali. Pada tahun 61 H, dia turut hadir di Karbala, pada saat tragedi memilukan yang menimpa ayahandanya, pamannya, saudaranya, saudara sepupunya, dan komrad setia ayahnya; dan menderita penawanan dan penahanan tanpa belas-kasih di tangan kekuatan setan lasykar Yazid.

Ketika Imam Husain datang untuk terakhir kalinya ke tendanya untuk menyampaikan ucapan selamat tinggal kepada keluarganya, ‘Ali Zainal ‘Abidin sedang berbaring setengah-sadar di dalam selimutnya dan karena sakit ini, ia selamat dari tragedi nestapa Karbala. Imam Husain hanya dapat berbicara singkat dengan kerabatnya di dalam tenda Imam ‘Ali Zainal Abidin dan menunjuk putranya yang sakit itu sebagai Imam setelahnya.

Pengetahuan dan ketakwaan Imam Suci ini tidak ada bandingannya. Az-Zuhri, al-Waqidi dan Ibn ‘Uyainah berkata bahwa mereka tidak dapat menemukan seorang pun yang serupa dengan Imam dalam ketakwaan dan ibadah. Dia sangat sibuk dengan Allah sehingga bilamana ia duduk untuk mengambil air wudu’, raut wajahnya menjadi pias dan ketika berdiri untuk menegakkan shalat, badannya bergetar. Ketika ditanya mengapa, dia menjawab “Belumkah engkau ketahui di hadapan siapa aku berdiri shalat dan dengan siapa aku bercengkerama?”

Bahkan pada hari duka “Asyura”, ketika lasykar Yazid membunuh ayahnya, kerabatnya dan komradnya dan membakar tenda-tenda, Imam Suci ini sedang tenggelam dalam munajat kepada Allah Swt.

Tatkala kekuatan brutal lasykar Yazid mengambil wanita-wanita dan anak-anak sebagai tawanan, mengikatnya dengan rantai, mendudukkan mereka di atas pundak unta-unta tanpa pelana, terikat dengan rantai; Imam Suci ini, meskipun sakit, dibelenggu dengan rantai berat dengan kalung besi di lehernya dan kakinya, dan dipaksa untuk berjalan telanjang kaki di atas duri sahara dari Karbala hingga Kufah dan lanjut ke Damaskus; dan dalam keadaan seperti ini, jiwa Ilahi ini tidak pernah sedetik pun alpa dari beribadah kepada Allah Swt dan senantiasa bersyukur dan bermunajat kepada-Nya.

Amal-salehnya tidak pernah terduga dan sembunyi-sembunyi. Setelah syahidnya, orang-orang berkata bahwa sedekah-jariah yang sembunyi-sembunyi itu terhenti seiring dengan perginya Imam. Laksana datuknya ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Ali Zainal ‘Abidin senantiasa memikul sekantung gandum dan roti di pundaknya yang diberikan kepada kaum miskin dan keluarga-keluarga yang membutuhkan di Madinah dan dia memelihara ratusan keluarga miskin di kota tersebut.

Imam Zainal ‘Abidin bersama dengan Ahlulbait melalui masa-masa kritis dan berbahaya, karena agresi dan kekejian penguasa zalim telah mencapai klimaksnya. Perampasan, penjarahan, perampokan dan pembunuhan sering terjadi di mana-mana. Ajaran-ajaran suci Islam lebih diamalkan di dada-dada mereka. Seorang tiran bengis Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi mengecam setiap orang yang menganjurkan dan memberikan bai’at kepada Ahlulbait; dan mereka yang tertangkap, dibunuh secara kejam. Gerakan Imam sangat dibatasi dan dilarang untuk berjumpa dengan siapa saja. Mata-mata Hajjaj dipasang di berbagai penjuru kota untuk melacak para pengikut Ahlulbait. Mereka menggeledah para pengikut Ahlulbait di setiap rumah dan keluarga dengan sangat teliti.

Imam Zainal ‘Abidin tidak diberikan waktu untuk mengerjakan ibadah dengan tenang, juga tidak diberikan waktu untuk menyampaikan khutbah. Oleh karena itu, Khalifah Tuhan ini menggunakan jalan alternatif yang terbukti sangat bermanfaat bagi para pengikutnya. Jalan alternatif ini berupa munajat dan doa sehari-hari dalam upaya dan usaha untuk taqarrub kepada Allah Swt.

Kumpulan doa yang penuh nilai dari Imam Zainal ‘Abidin dikenal sebagai as-Sahifah al-Kamilah atau as-Sahifah as-Sajjadiyah; dikenal juga sebagai az-Zabur Muhammad. Kumpulan doa ini merupakan khazanah tak-ternilai doa kepada Tuhan dalam bahasa yang indah dan memukau. Hanya orang-orang yang pernah menjumpai doa-doa ini yang tahu keunggulan dan pengaruh baik doa dari doa-doa dan munajat ini. Melalui doa-doa ini, Imam memberikan tuntunan penting bagi orang-orang Mukmin dalam masa pengasingannya.

Pada tanggal 25 Muharram 95 H ketika dia berada di Madinah, al-Walid bin Abdil Malik bin Marwan, penguasa zalim ini melalui orang suruhannya meracun Imam, sehingga Imam syahid akibat racun ini.  Ritus penguburan Imam Suci ini dilakukan oleh putranya yang merupakan Imam Kelima, Muhammad al-Baqir dan jasadnya dikebumikan di pemakaman Jannatul Baqi di Madinah.

Allamah Tabataba’i menulis:

Imam Sajjad (‘Ali bin Husain digelari dengan Zainal Abidin dan Sajjad) merupakan putra dari Imam Ketiga dan istrinya, adalah ratu di antara wanita-wanita, putri Yazdegerd Raja Iran. Imam Sajjad merupakan satu-satunya putra Imam Husain yang selamat, karena ketiga saudaranya ‘Ali Akbar yang berusia dua puluh lima tahun, Ja’far berusia lima tahun, ‘Ali Asghar (atau ‘Abdullah) yang masih menyusu kepada ibunya mereka semua syahid pada tragedi Karbala. Imam juga menemani ayahnya dalam perjalanan menuju Karbala hingga ayahandanya syahid di tempat naas itu.

Namun lantaran menderita sakit dan tidak mampu untuk mengangkat pedang atau turut serta dalam peperangan, ia tertahan untuk terjun dalam perang suci sehingga mereguk cawan syahadah. Dia dikirim dengan keluarganya ke Damaskus. Setelah menghabiskan waktu sebagai tawanan perang dia dikirim dengan hormat ke Madinah karena Yazid hendak menenangkan opini publik. Tapi untuk yang kedua kalinya, atas perintah khalifah Bani Umayyah, ‘Abdul Malik, dia ditangkap dan dikirim dari Madinah ke Damaskus dan kembali lagi ke Madinah.

Imam Keempat, sekembalinya dari Madinah, mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat sama sekali, menutup pintu rumahnya dari orang-orang asing dan menghabiskan waktu untuk beribadah. Dia hanya berhubungan dengan kaum elit Syiah seperti Abu Hamzah ats-Tsumali, Abu Khalid Kabuli dan orang-orang besar lainnya. Dari orang-orang elit Syiah ini menyebarkan ilmu-ilmu agama yang mereka dapatkan dari Imam kepada Syiahnya. Dengan cara seperti ini, ajaran Syiah menyebar dengan baik dan menunjukkan hasilnya pada masa Imam Kelima. Di antara karya-karya Imam Keempat adalah sebuah buku yang disebut sebagai Sahifah Sajjadiyah. Kitab doa ini terdiri dari lima puluh tujuh doa ihwal ilmu Tauhid dan dikenal sebagai “Kitab Zabur Ahlulbait Nabi Saw.”

Imam Keempat syahid (menurut beberapa hadis-hadis Syiah diracun oleh al-Walid bin Abdil Malik bin Marwan melalui anjuran Khalifah Umayyah, Hisyam pada tahun 95 H/712 M setelah menjalani masa Imâmah selama tiga puluh lima tahun.[]

About Aba Fatma

Check Also

Muqaddimah Kisah Mubahalah [Dr Hakimelahi ]

Pada tanggal 24 Dzukhijjah, menurut riwayat adalah hari mubahalah. Walaupun ada riwayat lain yang menyebutkan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *