Home / Hadits / Tafsir Hadits / Menangis, Berduka dan Memukul Dada Sunnah Siapa? (Bagian 3)

Menangis, Berduka dan Memukul Dada Sunnah Siapa? (Bagian 3)

Setelah kita bahas sebelumnya menangis dan berduka dari kacamata Al-Quran, mari kita lihat dari dimensi sunnah Nabi. Apakah klaim Ibn Taimiyah bahwa menangis, berduka dan memukul dada adalah Bid’ah itu benar ?

Menangis dan Berduka dalam kacamata sunnah

Sunan Nasai dan Ibn Majah meriwayatkan hadist dari Abu hurairah yang dinukil oleh Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa bin Ahmad bin Husein Al-Ghaitabi Al-Hanafi didalam kitabnya, Umdatul Qari fi Syarh Sahih Bukhari:

فِي حَدِيث أبي هُرَيْرَة الَّذِي رَوَاهُ النَّسَائِيّ وَابْن مَاجَه عَنهُ، قَالَ: مَاتَ ميت فِي آل رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم، فَاجْتمع النِّسَاء يبْكين عَلَيْهِ، فَقَامَ عمر ينهاهن ويطردهن، فَقَالَ رَسُول الله، صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: دَعْهُنَّ يَا عمر، فَإِن الْعين دامعة وَالْقلب مصاب والعهد قريب
Telah wafat seseorang dari keluarga Rasulullah saww, maka berkumpulah para wanita menangisinya, kemudian datanglah Umar melarang mereka untuk menangis dan mengusir mereka, kemudia Rasulullah saww berkata kepada Umar, “Biarkan mereka wahai Umar! Karena mata pasti akan menangis dan hati bersedih ketika melihat sebuah musibah.”
(Umdatul Qari Syarh Shahih Bukhari, Juz.8 Hal.78, Al-Ghatabi Al-Hanafi, Penerbit: Darul fikr -Beirut-Libanon)

Ketika kerabat dan sanak kerabat terkena musibah, Rasulullah saww membiarkan mereka menangis karena menangis adalah rahmat dan kasih sayang yang Allah swt sematkan dalam bentuk airmata.

Menangis adalah rahmat, bukan pengecut atau cengeng. Nabi Yaqub 80 tahun menangis sampai matanya putih, apakah kaum Wahabi akan mengatakan Nabi Yaqub cengeng? Ya, cengeng karena terlalu “lebay” dalam berduka sehingga bertahun-tahun harus menangis, padahal Yaqub tahu putranya masih hidup dibelahan dunia

Rasulullah saww menangis ketika Hamzah syahid, ketika putranya Ibrahim wafat, ketika menziarahi bundanya Aminah, ketika Jafar bin abi thalib syahid, ketika mendengar dari jibril bahwa putranya, Al-Husein as akan terbunuh, apakah itu semua menandakan bahwa Rasulullah saww cengeng dan pengecut?

Apakah menangis meniscayakan seseorang itu tidak tegar menahan musibah dan bencana? Sejak kapan menangis adalah tanda seseorang itu lemah, pengecut, cengeng dan tidak tegar?

Akal, Fitrah, Al-Quran dan sunnah kenabian menekankan bahwa menangis adalah tanda kita masih manusiawi sebagai manusia. Bahkan orang yang berkoar-koar tegar dan tidak menangis ketika kehilangan orang yang dicintainya atau terkena musibah, sesungguhnya hatinya sedang menangis dan berduka, dan jika dia tidak menangis, baik mata maupun hatinya, maka sesungguhnya ia telah kehilangan fitrah dan kemanusiaannya.

Sumber : Abu Syirin Al Hasan

About Admin SM

Check Also

Menangis, Berduka dan Menepuk Dada Sunnah Siapa? (Bagian 1)

Kaum Wahabi menganggap ritual-ritual yang dilakukan oleh Syiah adalah Bid’ah dan diada-adakan kedalam agama. Menangis …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *