Home / Mengapa Syiah Menjawab?

Mengapa Syiah Menjawab?

Mengapa Syiah Menjawab?Boleh jadi para petinggi MUI berdalih begini: kami menjelaskan aliran-aliran sesat agar umat tidak tersesat. Dalil ini sering dikemukakan kaum Bromocorah: rasakanlah maksiat agar kau dapat merasakan taubat. Logika seperti ini persisnya adalah tipuan setan. Dan tipuan ini berasal dari kebodohan azali setan yang mengira bahwa api lebih unggul daripada tanah tanpa bukti apapun.

Dalam hidup ini, ada banyak hal yang sudah pasti kebenarannya. Sedemikian pastinya hingga semua orang, tak peduli dia profesor, tukang cukur atau artis, mengakuinya dan sepakat untuk tak lagi memperdebatkannya. Ambil misal begini: semua kita menerima prinsip “tiada orang (atau benda) yang bisa memberi sesuatu yang tidak dimilikinya”. Kita sepakat kalau kayu tak bakal bisa memancarkan sinar mengingat ia tidak punya potensi cahaya dalam dirinya. Kita sepakat bahwa hanya orang yang berharap batu bisa berbuah stroberi.

Contohnya masih banyak lagi – dan tak bakal ada habisnya. Misal, jika Anda ingin mencium bau wangi, maka yang paling pas adalah datang ke toko-toko minyak wangi atau kebon bunga. Sebaliknya, salah besar dan tersesatlah Anda jika ingin mencium wewangian tapi mencarinya di Bantar Gebang, pembuangan sampah raksasa warga Jakarta, umpamanya.

Bila ditarik ke belakang, kebenaran prinsip semacam itu bakal mengantar kita pada dua hal: prinsip kausalitas yang menolak kesemerawutan dan kekacauan dan hukum dasar habitat.

Kausalitas mengajarkan api selalu akan memberikan panas dan tidak mengeluarkan air kecuali dengan sarana lain di luar dirinya. Air juga tidak bisa mengeluarkan sesuatu yang tidak dikandungnya. Dan begitulah seterusnya, dan begitulah semuanya. Jika mau jujur, dari prinsip dan hukum kausalitas inilah manusia bisa hidup, berpikir, berencana dan bertindak.

Bagaimana dengan hukum habitat? Habitat pada intinya bercerita tentang suatu lingkungan khas bagi berkumpulnya spesies-spesies yang khas. Hanya di situlah spesies-spesies itu berkumpul, hidup, saling mendukung, memperkuat dan tidak mustahil—jika keadaan darurat terjadi—saling memakan dan menghabisi untuk mempertahankan diri.

Dari fakta itu, sembarang orang dengan cepat paham dan sepakat bahwa jika ingin cerdas, ya … orang perlu pergi belajar ke kampus atau berkutat dengan cawan petri di pusat penelitian. Atau paling tidak berkumpul dengan orang-orang cerdas. Sebab akal mengajarkan dari lingkungan seperti itulah biasanya kecerdasan menular. Sebaliknya, jika seseorang bergaul dengan kumpulan orang bodoh, maka jangan salahkan siapa pun jika dia terus bodoh atau makin bodoh. Mengapa? Ya karena orang-orang bodoh melakukan pembodohan, dan orang-orang cerdas-lah yang melakukan pencerdasan. Di dalam lingkungan yang cerdas, radiasi kecerdasan memancar; dan demikian pula sebaliknya.

Bila hukum habitat itu direntang sedikit lebih jauh, kita bakal menemukan betapa pentingnya berhati-hati dengan lingkungan dan pergaulan. Dari lingkungan yang baik menyebarlah kebaikan, dan dari teman yang baik tersiar sifat dan perilaku yang baik pula. Nabi Muhammad saw. pernah berkata man jalis janis (teman dudukmu adalah sejenismu). Seolah-olah Baginda Nabi sedang mengingatkan kita tentang hukum-hukum yang mengatur alam raya ini. Beliau ingin kita mengenali fakta sebuah habitat. Beliau ingin meyakinkan kita bahwa habitatmu sesungguhnya menunjukkan siapa kau—meskipun kau ingin mengelabui dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Siapa pun, termasuk para ulama, tak bisa seenaknya mengubahnya.

Lalu, bagaimana dengan kafir dan pengkafiran? Sesat dan penyesatan? Apakah prinsip dan hukum yang sama berlaku? Ya, sama saja sebenarnya. Prinsip kausalitas dan habitat berlaku pula dalam soal kafir dan pengkafiran, sesat dan penyesatan. Dari orang-orang kafir dan lingkungan kafir, Anda akan menemukan dan menambah kekafiran; dari orang-orang sesat dan lingkungan yang sesat, Anda akan menemukan dan menambah kesesatan. Kemudian, hanya orang-orang kafir saja yang dapat melakukan pengkafiran, persis seperti hanya orang-orang cerdas saja yang melakukan pencerdasan. Dan begitu pula orang-orang sesat saja yang melakukan penyesatan, persis sebagaimana orang-orang yang mendapat petunjuk-lah yang dapat menunjukkan jalan dan arah.

Logika bahasa juga memperkuat kebenaran jalan pikiran itu. Di Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengkafiran dikaitkan dengan proses, cara dan perbuatan mengkafirkan, persis sebagaimana pencerdasan itu dikaitkan dengan proses, cara dan perbuatan mencerdaskan. Jadi, kita takkan mungkin menemukan orang cerdas melakukan pembodohan atau orang bodoh melakukan pencerdasan; seperti juga kita mustahil menemukan orang mukmin melakukan pengkafiran dan orang kafir melakukan pengimanan. Ini faktanya.

Sekarang mari kita geser cermin pikiran di atas dan menghadapkannya ke wajah mutakhir Majelis Ulama Indonesia.

Kini buku dengan logo MUI berjudul “Mewaspadai Kesesatan dan Penyimpangan Syiah” yang telah beredar luas di tengah masyarakat telah menulai hasilnya. Tidak sedikit warga yang semula toleran menjadi intoleran, yangsemula santun menjadi beringas dan yang terlihat beretika menjadi biadab. Buku tersebut telah memberikan semacam label halal dicemooh, dikucilkan dan bahkan diancam serta diteror pada setiap orang Syiah juga istri dan anak-anaknya.

Dengan menerbitkan buku tersebut, MUI sebagai lembaga yang menghimpun ragam pribadi yang dianggap berilmu bisa dianggap sukses memposisikan diri sebagai sentra intoleransi atas nama Islam dan mazhab Ahlussunnah.

Tak lama lagi, lembaga ini akan sibuk menghitung jumlah korban sebagai dampak dari inisiasinya mendorong masyarakat Muslim ke dalam arena destruksi horisontal, konflik sektarian dan runtuhnya kebhinnekaan.

Harus diakui, ini adalah capaian yang luar biasa. Tentu, sebagai  wadah perhimpunan ulama dan agamawan Islam, dampak-dampak negatif yang akan muncul mestinya telah dipeehitungkan dengan matang. Dengan kata lain, dengan sadar ,lembaga ini menganggap nyawa, kehormatan dan ketenangan segelintir warga yang bermazhab Syiah tidak berarti sama sekali.

Beberapa kali sejumlah pribadi Syiah berusaha bersabar dan merawat prasangka baik dengan mendatangi dan melayangkan surat permohonan audiensi untuk klarifikasi terkait buku yangmensesatkan Syiah tersebut. Namun hingga saat ini MUI tidak memberikan respon sebagaimana diharapkan. Hal itu boleh jadi, karena menganggap melayani orang-orang sesat sebagai hal yang tidak perlu bahkan wajib diabaikan.

Bila buku yang baik substansi, kutian dan sistematikanya sangat tidak mencerminkan ketajaman nalar dan pemahaman komprehensif tentang Syiah tersebut ditulis oleh orang-orang yang mencatut nama lembaga MUI dan tidak mewakilinya, mestinya secara resmi ia memberikan pernyataan yang membantah sekaligus menggugat penulis-penulis yang cukup berani mrmberi subjudul  “Buku Panduan MUI” di sampul depannya.

Karena itu, sulit untuk tidak menympulkan bahwa penulisan dan penyebaran buku yang bisa dianggap sebagai “License to Kill” ini ditestui dan direncanakan oleh lembaga MUI Pusat.

Sebagai lembaga non Pemerintah alias LSM, dengan menerbitkan buku yang sarat pendangkalan dan distorsi ini, MUI telah melangkah terlalu jauh dan melakukan blunder yang menyebabkan terbuknya opini sesat bahwa MUI adalah lembaga negara yangberhak dan bertanggungjawab menetapkan Muslim dan tidak tidaknya  setiap warga di Indonesia yang secara konstitusional menjanmin setiap warga untuk menjalani keyakinan berupa maupun aliran.

Bila MUI memang direstui oleh Pemerintah sebagai lembaga semi-negara, maka hal itu bertentangan fengan  amanat UUD dan spirit Pancasila menegaskan bahwa Negara tidak mencampuri urusan agama. Sebaliknya, bila Pemerintah membiarkan intervensi MUI terhadap persoalan keyakinan dan agama, bahkan menjadikan sikap dan pernyataan-pernyataan lembaga tersebut sebagai acuan keputusan dan kebijakannya, maka hal itu bisa ditafsirkan sebagai modus menjadikan negara ini di bawah dominasi sekelompok orang di luar sturkturnya.

Indonesia sebagai mozaik budaya, tradisi, bahasa, agama, krpercayssn, suku,  dan daerah adalah persembahan dari para kusuma bangsa dari ragam agama, suku dan daerah. Mengingkari itu berarti mengkhianati perjuangan dan jerih payah para founding fathers, dan menafikan jati diri bangsa dan sejarah Indonesia.

Selain itu, pemberian wewenang dan posisi pengendalian keyakinan setiap individu rakyat kepada sebuah perkumpulan tertentu yang eksklusif dan terbatas bagi agama dan mazhab tertentu dapat dianggap sebagai menegarakan mazhab dan memazhabkan negara. Dengan kata lain, penyebaran buku tersebut merupakan lonceng kematian spirit kebangsaan dan kebhinekaan.

Itu semua memberikan konfirmasi bahwa bila buku tersebut memang diterbitkan dan disetujui oleh para anggotanya, maka lembaga bentukan Pemerintah Orde Baru ini telah melakukan kudeta terhadap UUD, Pancasila serta kontrak sosial berbangsa dan bernegara. Padahal ia hanya mengklaim mewakili salah satu agama dan salah mazhab dalam himpunan mazhab.

Yang lebih fatal lagi, sebagai lembaga yang secara eksplisit maupun implisit mengklaim sebagai representasi umat Islam dan Mazhab Ahlussunnah, MUI telah menyatakan bahw umat Islam dari mazhab Syiah adalah sesat dan menyimpang.

Pensesatan Syiah oleh lembaga yang dihormati negara dan secara de facto diterima sebagai representasi umat Islam Indonesia bisa menimbulkan sejumlah dampak negatif terhadap para penganut mazhab Syiah di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia.

Pensesatan Syiah bukan hanya berefek di dalam negeri namun bisa menimbulkan guncangan berskala global dan memicu ketegangan antar negara di dunia Islam. Tentu, sangat kecil kemungkinan para ulama dalam lembaga tidak mengetahui sejumlah negara berpengaruh di dunia Islam berpenduduk mayoritas Syiah. Hal itu perlu.dicermati karena sifat universal keyakinan baik agama maupun aliran tidak dibatasi oleh batas-batas negara.

Perlu diketahui, dengan sikap dan penyesatan lembaga yang secara kasat mata newakili sikap Pemerintah terhadap Syiah, Indonesia bisa dianggap sebagai negara pertama yang mensesatkan  Syiah. Sikap ini juga bisa melengkapi dua akibat fatal yang disebutkan diatas.

Menganggap seseorang atau sebuah kelompok sebagai sesat adalah mudah yang bisa dilakukan oleh siapa saja baik ulama maupun yang mengaku ulama juga awam. Namun persoalannya bukan itu. Persoalan yang perlu diperhatikan adalah kredibilitas dan integritas moral pihak yang menyesatkan. Hal ini sangat penting demi memastikan bahwa publik tidak malah menjadi korban pembodohan, radikalisasi dan eksploitasi atribut agama.

Sungguh ironis! Saat bangsa ini menghadapi ancaman disintegrasi dan ekstremisme yang menjadi sumbu aksi kekerasan dan teror atas nama jihad, orang yang berada dalam lembaga keulamaan yang berdiri di Indonesia malah menyebarkan pandangan ekstrem yang mengharamkan dan mensyirikkan penghormatan bendera negara.

Meski demikian, adanya tokoh-tokoh toleran dalam MUI patut mendapatkan apresiasi dan dukungan agar seger membersihkan lembaga itu dari unsur intoleransi dan ekstremisme.

Terpilihnya Prof. DR. Dien Syamsuddin sebagai Ketua Umum, memberikan secercah harapan hadirnya MUI sebagai lembaga dan perhimpunan  ulama yang benar-benar menjalankan fungsi pemersatu dan pengayom serta pewaris para nabi yang bebas dari tendensi politik sesaat dan motif bisnis yang samasekali tidak mencerminkan moralitas dan kewaraan.

Tulisan-tulisan yang dimuat di situs ini tidak ditujukan untuk memberikan bantahan terhadap beberapa orang yang menulis sebuah buku berlogo MUI berisi pensesatan terhadap Syiah dan tulisan-tulisan para “pejuang perpecahan” lainnya.

Buku tersebut terlalu lemah bobotnya untuk ditanggapi karena beberapa alasan:

Pertama: Dari sisi kaedah ilmiah, buku tersebut hanya bisa dihargai sebagai kumpulan penggalan, kliping dan copy-paste yang ditulis secara asal-asalan. Tidak hanya itu, beberapa data yang memadati lembaran-lembarannya benar-benar telanjang dari fakta, terutama trentang nama-nama penulis, lembaga-lembaga, dan tentu saja kutipan buku dan referensi.

Kedua : Dari segi etika penulisan, buku tersebut padat dengan tuduhan serampangan, argumentum ad hominen, provokasi, manipulasi dan ujaran kebencian. Sedeemikian parahnya tuduhan-tuduhan itu, sehingga pembaca yang menggunakan akal sehat tentu bisa mencium aroma dusta.

Ketiga : Tuduhan-tuduhan dalam buku tersebut tak lebih dari recyle dari tuduhan-tuduhan yang sudah berpuluh kali diulang dan dibantah. Malah, buku-buku yang telah dibantah itu lebih “ilmiah” dari buku yang memajang logo MUI Pusat itu.

Meski  demikian, dirasa perlu ditulis dan diterbitkan sebuah buku yang ditujukan kepada umat Islam di Indonesia yang berisi klarifikasi sebagai sebuah ekspresi pertanggungjawaban moral dan apresiasi terhadap umat Islam dan rakyat masyarakat umum yang berhak untuk mendapatkan penjelasan berimbang dari pihak yang dituduh, disesatkan dan dikafrkan.

Kami yakin akal sehat dan hati nurani setiap manusia di negeri tercinta ini akan mengantarkan kepada sikap adil dan objektif. Selanjutnya kami berserah kepada Allah sebaik-baik hakim.

Disarikan dari beberapa tulisan seizin penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *