Home / Anda Bertanya, Syiah Menjawab / Perkara Ghaib: Keyakinan Syiah dan Literatur Sunni

Perkara Ghaib: Keyakinan Syiah dan Literatur Sunni

Sabtu pagi pekan lalu kami temukan komentar anti Syiah. Dia berinisal AL, salah satu akun yang kerjanya berargumen dengan gambar-gambar yang isinya tidak ilmiah, bahkan mengarah pada kebencian dan provokasi.

Ini kutipan komentarnya:
“imam2 syiah orgil ngaku2 tahu hal2 ghaib. Na’udzubillahi mindzalik bnr2 sesat nih syiah.”
______________
MEMBALIKKAN: KITAB-KITAB SUNNI DAN FAVORIT SALAFI WAHABI
Apa konsekuensinya menganggap Syi‘ah sesat hanya karena Syi‘ah meyakini itu? Orang itu mungkin belum tahu bahwa di kitab-kitab Sunni justru ditunjukkan para Imam Ahlul Bait as mengetahui perkara ghaib. Bahkan tokoh Sunni juga meyakini seperti itu berdasarkan catatan kitab klasik. Tak ketinggalan pula idola Salafi Wahabi. Kami tampilkan teks beserta screenshot literatur Sunni

______________
BUKTI PERTAMA

Sejarawan Sunni Ibnul Atsir (w. 620 H) di kitab Usdul Ghabah fi Ma‘rifat al-Shahabah, juz 4 halaman 112, mengutip riwayat ini:

خَرَجَ عَلِيٌّ لِصَلاةِ الْفَجْرِ، فَاسْتَقْبَلَهُ الأَوِزُّ يَصْحَنُ فِي وَجْهِهِ، قَالَ: فَجَعَلْنَا نَطْرُدُهُنَّ عَنْهُ، فَقَالَ: دَعُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ نَوَائِحُ، وَخَرَجَ فَأُصِيبَ.
“(Imam) ‘Ali keluar untuk shalat fajar, lalu angsa-angsa menyambutnya. Angsa-angsa itu berteriak di hadapan beliau. (Perawi) berkata, ‘Kami berusaha menyingkirkan angsa-angsa itu dari hadapan beliau’. Namun beliau berkata, ‘Biarkan mereka karena mereka sedang meratap’. Beliau keluar dan ternyata gugur (syahid saat itu)”

Lalu Ibnul Atsir berkomentar:

وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ عَلِمَ السَّنَةَ وَالشَّهْرَ، وَاللَّيْلَةَ الَّتِي يُقْتَلُ فِيهَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ
“Ini menunjukkan bahwa beliau MENGETAHUI tahun, bulan, dan malam kapan dirinya terbunuh, wallahu a‘lam”
______________
BUKTI KEDUA

Ibnul ‘Abdil Barr (w. 463 H), ulama hadits bermazhab Maliki, mencatat khutbah Imam ‘Ali as dengan sanad shahih dalam kitabnya Jami’ al-Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, juz 1 halaman 464. Berikut bagian awal khutbah:

سلوني، فوالله لا تسألوني عن شيء يكون إلى يوم القيامة إلا حدثتكم به…
“Tanyalah kepadaku! Demi Allah, tidaklah kalian bertanya kepadaku mengenai sesuatu yang akan terjadi sampai hari kiamat melainkan aku akan menyampaikannya kepada kalian…”
______________
BUKTI KETIGA

Ibnul Jauzi (w. 597 H) ulama besar Hanbali di kitab Shifat al-Shafwah halaman 364, menunjukkan kisah awal pertemuan Syaqiq al-Balkhi dengan Imam Musa al-Kazhim as yang saat itu masih muda. Saat Syaqiq mendekati dan ingin menyampaikan nasihatnya kepada Imam Musa al-Kazhim as, malah Imam as tiba-tiba menyebut nama “Syaqiq” dan membaca ayat al-Qur‘an yang isinya menjawab apa yang baru ingin disampaikan Syaqiq:

اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
“Jauhilah kebanyakan prasangka karena sungguh sebagian prasangka merupakan dosa”. (QS. Al-Hujurat, ayat 12)

Kejadian itu membuat Syaqiq berkata dalam hatinya:

إن هذا الأمر عظيم؛ قد تكلم على ما في نفسي ونطق باسمي! و ما هذا إلا عبد صالح
“Sungguh ini perkara luar biasa. Dia berbicara atas apa yang terbetik dalam hatiku. Dia juga menyebut namaku (padahal saya tidak pernah bertemu dengannya). Pasti ia di antara hamba yang shalih”
______________
BUKTI KEEMPAT

Qadhi bermazhab Syafi‘i Tajuddin al-Subki (w. 771 H), di kitab Thabaqat al-Syafi‘iyyah al-Kubra, juz 2 halaman 308, mencatat kisah Abu Turab al-Nakhsyabi (w. 245 H). Abu Turab ialah sufi bermazhab Syafi‘i. Saat menunaikan hajj, setelah dari Arafah ia bermalam di Muzdalifah. Dalam mimpinya ia mendengar suara:

تتسخى علينا وَأَنا أسخى الأسخياء وعزتى وجلالى مَا وقف هَذَا الْموقف أحد قطّ إِلَّا غفرت لَهُ
“Engkau bermurah hati atasKu, padahal Aku Maha Pemurah diantara para pemurah. Demi kemuliaan dan keagunganKu, tidak seorang pun wuquf di Arafah melainkan Aku telah mengampuninya”

Lalu Abu Turab terbangun. Ia menceritakan mimpinya kepada Yahya bin Mu‘adz ar-Razi, penasehat yang terkenal saat itu. Yahya bin Mu‘adz merespon:

إِن صدقت رُؤْيَاك فَإنَّك تعيش أَرْبَعِينَ يَوْمًا
“Jika mimpimu benar, BERARTI HIDUPMU SISA 40 HARI”
______________
BUKTI KELIMA

Di kitab syarah yag terkenal atas hadits-hadits Tirmidzi, Tuhfat al-Ahwadzi, juz 8 halaman 556, Syaikh ‘Abdurrahman bin ‘Abdurrahim al-Mubarakfuri (w. 1353 H) mengutip riwayat firasat dari ‘Abdu Hamid:

خَرَجْتَ أَنَا وَالشَّافِعِيُّ مِنْ مَكَّةَ فَلَقِينَا رَجُلًا بِالْأَبْطَحِ فَقُلْتَ لِلشَّافِعِيِّ ازْكَنْ مَا لِلرَّجُلِ فَقَالَ نَجَّارٌ أَوْ خَيَّاطٌ قَالَ فَلَحِقْتُهُ فَقَالَ كُنْتُ نَجَّارًا وَأَنَا خَيَّاطٌ
“Aku keluar bersama al-Syafi‘i dari Makkah. Lalu kami bertemu dengan seorang lelaki di Abthah. Aku berkata kepada al-Syafi‘i, ‘Tebak apa yang terkait orang itu’. Asy-Syafi‘i berkata, ‘Dia tukang kayu atau penjahit’. Lelaki itu merespon, ‘(Betul), dulu aku tukang kayu dan sekarang penjahit’.”

Ada juga riwayat yang semakna dari Qutaibah. Lalu disebutkan:

وَسَنَدُ كُلٍّ مِنَ الْقِصَّتَيْنِ صَحِيحٌ
“Semua sanad dari dua kisah tersebut shahih”
______________
BUKTI KEENAM

Murid dekat Ibnu Taimiyyah yakni Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 751 H) di kitab Madarij al-Salikin, juz 2 halaman 490, menceritakan:

وأخبرني غير مرة بأمور باطنة تختص بي مما عزمت عليه، ولم ينطق به لساني. وأخبرني ببعض حوادث كبار تجري في المستقبل. ولم يعين أوقاتها.
“(Ibnu Taimiyyah) mengabarkan kepadaku hal yang sebenarnya masih dalam pikiranku, dan aku belum mengucapkannya kepada beliau. Beliau juga mengabarkan kepadaku kejadian-kajadian besar yang akan terjadi di masa yang akan datang. Namun beliau tidak memberikan kepastian waktu terjadinya”

Ibnu Qayyim melanjutkan pengakuannya:

وقد رأيت بعضها وأنا أنتظر بقيتها.
“Saya telah saksikan sebagian yang beliau sebutkan, sebagian lagi masih saya tunggu”
وما شاهده كبار أصحابه من ذلك أضعاف أضعاف ما شاهدته. والله أعلم
“Kejadian yang disaksikan oleh para murid beliau yang lain malah lebih banyak lagi daripada yang saya lihat. Wallahu a‘lam”
______________
BUKTI KETUJUH

Menurut pengakuan Ibnu Taimiyyah di kitab Majmu’ Fatawa, juz 13 halaman 92, ada jin yang mendaku sebagai Ibnu Taimiyyah. Berikut:

كنت في مصر في قلعتها، وجرى مثل هذا إلى كثير من الترك من ناحية المشرق، وقال له ذلك الشخص: أنا ابن تيمية، فلم يشك ذلك الأمير أني أنا هو، وأخبر بذلك ملك ماردين، وأرسل بذلك ملك ماردين إلى ملك مصر رسولا وكنت في الحبس؛ فاستعظموا ذلك وأنا لم أخرج من الحبس، ولكن كان هذا جنيا يحبنا
“Suatu ketika saat saya (Ibnu Taimiyyah) ditahan di penjara Mesir, kejadian seperti ini terjadi terhadap orang-orang Turki daerah timur. Ada seorang berkata, ‘SAYA ADALAH IBNU TAIMIYYAH’

Seorang pemimpin Turki yakin bahwa seorang yang dilihatnya adalah saya (Ibnu Taimiyyah). Maka dilaporkanlah kejadian itu kepada Raja Mardin (Mardin: provinsi di Turki). Untuk memastikan kebenarannya, Raja Mardin mengutus utusan kepada Raja Mesir (karena saat itu Ibnu Taimiyyah dipenjara di Mesir).

Hal itu membuat gempar masyarakat Mesir, padahal beliau (Ibnu Taimiyyah) masih di dalam penjara dan tidak keluar kemana-mana. Kenapa ada Ibnu Taimiyyah juga di Turki?”

Lalu Ibnu Taimiyyah bilang:
هذا جنيا يحبنا
“ORANG ITU ADALAH JIN YANG MENCINTAI SAYA”

Ibnu Taimiyyah melanjutkan:
كنت أدعوهم إلى الإسلام، فإذا نطق أحدهم بالشهادتين أطعمته مما تيسر
“Saya ajak mereka (para jin) masuk Islam, ketika salah satu dari mereka masuk Islam, SAYA BERI MAKAN seadanya”
______________

Menarik bukan? Kalau anti Syi‘ah menganggap Syi‘ah sesat mengenai hal ini, maka sama dengan mereka menganggap para Imam mulia Ahlul Bait as sesat, sejarawan Sunni Ibnul Atsir sesat, ulama mazhab al-Syafi‘i sesat, ulama mazhab Maliki Ibnu ‘Abdil Barr sesat, ulama mazhab Hanbali Ibnu Qayyim sesat dan idola Salafi Wahabi Ibnu Taimiyyah sesat. Sebaiknya mengaca dulu pada kitab-kitab ulama mazhab anda, supaya tuduhan anda tidak berbalik.

Semua kenyataan di atas tentu harus dipahami sebagai kehendak Allah Ta‘ala untuk beberapa manusia dapat mengetahui sedikit dari perkara ghaib. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali jika Dia menghendaki. Namun ada perkara ghaib yang Allah Ta‘ala tidak memberitahukan walaupun kepada para Nabi dan Rasul as seperti kapan terjadinya hari Kiamat.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa‘at di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung” (QS. Al-Baqarah: 255)

Selalu perbanyak bershalawat dan istighfar! Kita niat hadiahkan!
______________

Referensi kitab:

📗‘Izz al-Din Ibn al-Atsir Abi al-Hasan ‘Ali bin Muhammad al-Jazari, Usd al-Ghabah, juz 4 hal. 112, tahqiq: ‘Ali Muhammad Mu‘awwadh dan ‘Adil Ahmad ‘Abd al-Maujud (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.th.)
📗Abi ‘Umar Yusuf bin ‘Abd al-Barr, Jami’ Bayan al-‘Ilm wa Fadhlih, juz 1 hal. 464, no. 726, tahqiq: Abu al-Asybal al-Zuhairi, cet. 1 (KSA: Dar Ibn al-Jauzi, 1414 H/1994 M)
📗Jamal al-Din Abi al-Faraj Ibn al-Jauzi, Shifat al-Jauzi, hal. 364, tahqiq: Khalid Mushthafa Tharthusi (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1433 H/2012 M)
📗Taj al-Din Abi al-Nashr ‘Abd al-Wahab bin ‘Ali bin ‘Abd al-Kafi al-Subki, Thabaqat al-Syafi‘iyyah, juz 2 hal. 308, tahqiq: ‘Abd al-Fattah al-Hulw dan dan Mahmud Muhammad al-Thanahi (Kairo: ‘Isa al-Babi al-Halabi, 1383 H/1964 M)
📗Abi al-‘Ala Muhammad ‘Abd al-Rahman bin ‘Abd al-Rahim al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, juz 8 halaman 556, tashhih: ‘Abd al-Rahman Muhammad ‘Utsman (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.)
📗Abi ‘Abd Allah Muhammad bin Abi Bakr bin Ayyub Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madarij al-Salikin, juz 2 hal. 490, tahqiq: Muhammad Hamid al-Faqi، cet. 2 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1393 H/1973 M)
📗Ahmad bin Taimiyyah, Majmu’ Fatawa, jil. 13 hal. 92, jam‘u wa tartib: ‘Abd al-Rahman Muhammad bin Qasim dan Muhamad (Madinah al-Munawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd li Thaba‘at al-Mushhaf al-Syarif, 1425 H/2004 M)

Ditulis oleh Muhammad Bhagas, sumber : https://www.facebook.com/ratna.umar.5/posts/10209999740981121

About Admin SM

Check Also

Pendapat Ulama Syiah Tentang Kitab “Fashl al-Khitab”

Bismillahirrahmaanirrahiim Allahumma sholli ala Muhammad wa aali Muhammad Kitab Fashlul-Khitab karya Muhadits Nuri selama ini …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *