Home / Info Syi’ah / Pesan Asyura Nasional : Cinta Ahlulbait Nabi dan Cinta Tanah Air

Pesan Asyura Nasional : Cinta Ahlulbait Nabi dan Cinta Tanah Air

“Asyura tidak hanya duka dan ratapan, tapi gelora, magnet dan spirit perlawanan terhadap Kezaliman dan keberpihakan kepada Keadilan” – Dr. Muhsin Labib

10 Muharram adalah hari dimana Imam Husein as beserta keluarga dan sahabat-sahabat setianya dibantai oleh pasukan  Yazid dan mati syahid dalam keadaan haus dan mengenaskan di padang tandus Karbala.

Umat Islam sedunianya, khususnya mazhab Syiah memperingati, mengenang tragedia berdarah tersebut. Di Iran dan Irak kaum Muslim yang berduka turun ke jalan-jalan dan hadir di mesjid-mesjid untuk memperingati peristiwa heroik Asyura. Sejumlah dermawan memasak dan membagi-bagikan makanan untuk kaum Muslim yang berduka.

Peringatan yang sama berlangsung di Libanon, Afghanistan, Azarbaijan, dan Pakistan. Peringatan serupa juga berlangsung di Eropa, Amerika dan Afrika. Dalam sepirit yang sama, membangkitkan semangat dalam melawan kezaliman dan membela keadilan.

Di seluruh Indonesia, acara Asyura memperingati duka syahid Imam Husain as berjalan dengan lancar dan sukses. Walaupun di beberapa tempat mendapat penentangan dari segelintir orang intoleran yang mengaku muslim.

Istighasah dan Muharram di Cirebon

Salah satunya di Cirebon, Selasa, 11 Oktober 2016, Asyura yang bertema “Istighasah dan Muharram” berjalan sangat aman. Sebagaimana dikutip dari misykat.net, acara dilaksanakan di Convention Hall Cherbon Sae Hotel Zamrud, ruang kapasitas sekira dua ribu itu padat.

istighasah-muharram-syiahmenjawabAcara diawali dengan pengajian dan pembacaan dzikir yang dipandu oleh kiai-kiai sepuh di Cirebon: KH Zaelani (Ponpes Buntet), KH Ibrahim Rozi (Syuriah Nahdlatul Ulama), KH Jajuli (Ponpes Kaliwadas), KH Syamsuddin (Ponpes Plered), KH Nasiruddin (Ponpes Plered), dan KH Nuruddin Siraj (tokoh Nahdlatul Ulama). Serta Kang Jalal (KH Jalaluddin Rakhmat) selaku tokoh Islam nasional dan anggota DPR RI pun turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kang Jalal duduk bersama para kiai sepuh dan menyimak pembicaraan para kiai sepuh.

Acara dibuka dengan pembacaan Al-Quran, shalawat, dan diawali dengan “lagu Indonesia Raya”.  Sebuah wujud penegasan kecintaan terhadap tanah air. Pembacaan Al-Quran dan shalawat disampaikan oleh mahasiswa PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Cirebon. Berlanjut dengan pembukaan dari Ustadz Miftah Rakhmat yang menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para kiai sepuh, mahasiswa, dan masyarakat Islam Cirebon yang bekerjasama dalam penyelenggaraan Istighashah dan Muharraman.

Acara inti Muharraman pun diisi dengan tarian topeng yang mengekspresikan gejolak dan tragedi pembantaian cucu Rasulullah saw: Al-Husain beserta keluarganya di Karbala, Irak. Yang terjadi tanggal 10 Muharram 61 H./10 Oktober 680 M. Berlanjut dengan lantunan syair berbahasa Sunda dengan iringan seruling dan kecapi. Di akhir pembacaan maqtal oleh kang Jalal (kronologi perjalanan kesyahidan Imam Husein as di Karbala yang mengandung aspek moral, politik dan sosial).

Asyura juga berjalan sukses di kota-kota seperti Semarang, Surabaya, Bali, Aceh, Kupang, Wonosobo, Jakarta dll. Asyura yang diperingati muslim Syiah di seluruh Indonesia ini menegaskan bahwa Syiah merupakan bagian integral dari bangsa dan negeri ini. Ekspresi nasionalisme pengikut Ahlulbait di Indonesia dalam peringatan besar Asyura terlihat jelas dan tidak bisa dilepaskan.

Cinta Ahlulbait Nabi saw dan Cinta Tanah Air

“Indonesia Raya” berkumandang membuka setiap acara peringatan haul cucunda Nabi saw , Imam Husain as. Menandakan bahwa kecintaan terhadap Ahlulbait dan kecintaan terhadap tanah air berjalan seiringan dan harmonis. Seperti disampaikan dengan lantang oleh Dr. Muhsin Labib dalam ceramah Asyura Nasional bertema “Syahadah Imam Husain as : Kemanusiaa, Keadilan dan Cinta Tanah Air” di Balai Sudirman, Rabu, 12 Oktober 2016.

“Ini adalah ekspresi mengejewantahkan kecintaan terhadap Ahlulbait dengan menjaga kesetiaan terhadap NKRI” tegasnya. “di Langit, Ahlulbait, di bumi, Indonesia!”, pungkasnya menjelaskan keharmonisan antara iman dan amal.

Sebelumnya, Muhsin Labib lebih dulu menegaskan untuk apa berkumpul memperingati Asyura. “Kita berkumpul di sini tidak untuk berpesta, tidak untuk mendeklarasikan khilafah, tidak untuk pesta-pesta. Kita berkumpul di sini untuk berzikir, hanya untuk menunjukkan bahwa kita mencintai Rasulullah saw.”

Ia melanjutkan “Peristiwa Asyura , peristiwa Karbala, bukan sepenggal peristiwa yang terjadi dalam sejarah. Bukan sebuah fragmen sejarah yang terputus, tapi bagian tak terpisahkan dari perjuangan agung Rasulullah saw. Dan tanpa Muhammad tak ada Husain” tegasnya dengan lantang. [Qasim/Avic]

 

About Admin SM

Check Also

Asyura dan Perjanjian Sykes-Picot

Sykes-picot adalah nama gabungan dari sykes dan picot berasal dari Perancis dan Britnia, yang membuat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *