Home / Sirah / Sahabat Dan Tasyayyu’ (1) : Salman Al Farisi

Sahabat Dan Tasyayyu’ (1) : Salman Al Farisi

“Para ulama Syi’ah, di antaranya Muhammad  Husein Kasyif al-Ghitha’, menyebut  kurang lebih tiga ratus sahabat Nabi yang tergabung dalam Syi’ah Ali. Mereka yang termasuk di antara Syi’ah generasi sahabat adalah generasi pertama Islam (as-Sâbiqûn al-Awwalûn) seperti Salman al-Farisi, Amar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari. Syi’ah menganggap mereka sebagai sahabat yang paling setia kepada Imam  Ali. Mereka adalah kaum Dhu‘afâ’ wal-Mustadh‘afîn (orang- orang lemah dan tertindas). Para budak dan orang-orang asing inilah yang dengan penuh keikhlasan setia mengikuti Imam Ali”.

Sahabat dan Tasyayyu‘

Sebagaimana telah diuraikan dalam artikel yang lalu dengan judul “Syiah Muncul Seiring Lahirnya Islam?” (lbaca selengkapnya di http://www.syiahmenjawab.com/syiah-muncul-seiring-lahirnya-islam/ )  bahwa tasyayyu‘ sudah muncul  seiring dengan kemunculan Islam. Demikian  juga, sahabat yang mendukung  dan sepaham dengan Imam Ali dalam ide dan perjuangan, telah muncul semasa hidup beliau. Sebelum membahas para tokoh Syi’ah yang menonjol  dari kalangan sahabat, ada baiknya kita kaji terlebih dahulu alasan keberpihakan mereka kepada Imam Ali.

Para ulama Syi’ah, di antaranya Muhammad  Husein Kasyif al-Ghitha’, menyebut  kurang lebih tiga ratus sahabat Nabi yang tergabung dalam Syi’ah Ali. Nama-nama  tersebut beliau kumpulkan dari berbagai buku sejarah, seperti Al-Istî‘âb, al-Ishâbah, dan Usud al-Ghâbah.

Mereka yang termasuk di antara Syi’ah generasi sahabat adalah generasi pertama Islam (as-Sâbiqûn al-Awwalûn) seperti Salman al-Farisi, Amar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari beserta mayoritas ahlus-shuffah yang menghabiskan hidupnya untuk beribadah. Mereka itulah pilar-pilar Syi’ah dari kalangan sahabat.

Syi’ah menganggap mereka sebagai sahabat yang paling setia kepada Imam  Ali. Para sahabat sendiri menganggap mereka sebagai orang yang paling ikhlas terhadap Imam Ali, tentu saja selain Bani Hasyim dan anak turunanya Ali sendiri.

Mereka adalah kaum Dhu‘afâ’ wal-Mustadh‘afîn (orang- orang lemah dan tertindas). Para budak dan orang-orang asing inilah yang dengan penuh keikhlasan setia mengikuti Imam Ali. Mereka pulalah yang pertama kali beriman kepada Allah dan berada di sekeliling Nabi Muhammad  Saw. Merekalah yang mengikuti Ali bukan karena tamak akan kedudukan dan materi namun karena mengikuti wasiat Rasulullah Saw.

Untuk menilai tesis di atas, mari kita lihat kembali rekam jejak mereka secara singkat seperti yang termaktub  dalam buku sejarah kehidupan sahabat.

Salman al-Farisi

Kehidupan  Salman seolah menjadi  legenda yang di- perdebatkan  oleh para sahabat. Konon,  ia pernah  hidup sezaman dengan  para pengikut  pertama  Nabi  Isa (Al- Hawâriyyûn). Jika demikian, Salman adalah penghubung antara kaum Masehi dan kaum Muslimin, yang mengabarkan akan munculnya  seorang Nabi baru.

Salman al-Farisi, setelah meninggalkan  agama nenek moyangnya, menjadi pengembara Nasrani dan mulai mencari nabi baru yang kedatangannya ia dengar dari para rahib Nasrani yang pernah ditemuinya.

Ibnu  Hisyam,  dalam Sirah-nya, menyebutkan  bahwa Nabi Muhammad  Saw pernah berkata kepada Salman:

“Bila engkau mempercayaiku, wahai Salman, engkau pernah bertemu dengan Isa putra Maryam.”

Karena itu, tidaklah aneh bila Ibnu Atsir, dalam Al-Kâmil pada bab “Peristiwa Tahun  36 H”,  menulis:  “Pada tahun tersebut  Salman meninggal dunia. Menurut sebagian ber- pendapat, umurnya  250 tahun—ini  yang terkecil. Dikatakan pula umurnya  sampai 350 tahun.”   Umur Salman yang panjang menempatkannya sebagai penyambung the missing link antar nubuwat sebelumnya.

Ada tiga besar agama langit, Yahudi, Nasrani dan Islam. Inti ajaran ketiga agama samawi ini sama. Perbedaannya hanya pada tata cara pelaksanaan cabang ajaran agama masing-ma- sing. Akidahnya sama syariatnya berbeda. Di antara kesamaan akidah ketiganya adalah keyakinan bahwa setiap Nabi memiliki seorang washi. Nabi Bani Israel memiliki seorang washi. Nabi Nasrani juga memiliki seorang washi. Nabi Islam pun pasti memiliki seorang washi. Dan Ali adalah washi-nya Muhammad Rasulullah Saw.

Keyakinan inilah yang menjadi sandaran Syi’ah dalam persoalan adanya wasiat, di antaranya hadits manzilah berikut:

“Kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa.”

Dengan demikian, sempurnalah urutan sanad yang menetapkan wasiat dan imamah untuk Imam Ali. Beliaulah yang mewarisi ilmu Nabi sebagaimana para pengemban wasiat Bani Israel mewarisi nabi-nabi mereka. Karena itulah, Syi’ah ber pendapat bahwa imamah bukan didasarkan pada selera rakyat (umat) sehingga mereka bebas untuk menentukan pilihannya. Imamah adalah kehendak Allah melalui Nabi-Nya dan dengan wasiat beliau, sebagaimana Sulaiman mewarisi Nabi Dawud dan Nabi Yusuf mewarisi Nabi Ya‘kub.

Dari sini, posisinya pada permulaan tasyayyu‘ tampak jelas dalam menisbahkan  hak khilafah kepada Imam  Ali, yang menurutnya, sebagai realisasi kehendak Allah sebagaimana ajaran para nabi sebelumnya.

Salman adalah orang yang rela mengorbankan  seluruh jiwa raganya, baik moral maupun  material, dalam mencari kebenaran sejati. Ia melakukannya walaupun harus meninggalkan tanah kelahirannya. Orang yang dalam pengembaraan panjangnya mengalami berbagai bentuk perbudakan, hingga menjadi  budak Nabi  sebelum  dibebaskan, tentu  seorang mukmin sejati. Memang keimanan Salman tidak dipengaruhi oleh tendensi apapun. Keimanannya benar-benar ikhlas, untuk Allah Swt. Dari sini terbukti bahwa tasyayyu‘-nya Salman tidak disebabkan oleh peristiwa politik, revolusi sosial, ataupun motivasi duniawi lainnya.

About Aba Fatma

Check Also

Cerita Karangan Syiah ?

Tak sedikit saudara-saudara kita yang (masih) menolak fakta sejarah Imam ‘Ali as dicaci maki oleh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *