Home / Sirah / Sirah Sahabat / Sahabat Dan Tasyayyu’ (2) : Abu Dzar al-Ghifari, Penentang Kapitalis Makkah

Sahabat Dan Tasyayyu’ (2) : Abu Dzar al-Ghifari, Penentang Kapitalis Makkah

Abu Dzar adalah salah seorang tokoh terkemuka Syi’ah yang mempunyai karakteristik tersendiri. Pengalaman disiksa oleh pembesar quraish benar-benar membekas dalam jiwa Abu Dzar. Kejadian itu pula yang telah membentuk  tabiat ke-islamannya yang khas, yang mendorongnya untuk melakukan perlawanannya terhadap  kebiasaan menumpuk harta kekayaan.

Para ulama Syi’ah, di antaranya Muhammad  Husein Kasyif al-Ghitha’, menyebut  kurang lebih tiga ratus sahabat Nabi yang tergabung dalam Syi’ah Ali. Nama-nama  tersebut beliau kumpulkan dari berbagai buku sejarah, seperti Al-Istî‘âb, al-Ishâbah, dan Usud al-Ghâbah.

Mereka yang termasuk di antara Syi’ah generasi sahabat adalah generasi pertama Islam (as-Sâbiqûn al-Awwalûn) seperti Salman al-Farisi, Amar bin Yasir, Abu Dzar al-Ghifari beserta mayoritas ahlus-shuffah yang menghabiskan hidupnya untuk beribadah. Mereka itulah pilar-pilar Syi’ah dari kalangan sahabat.

Syi’ah menganggap mereka sebagai sahabat yang paling setia kepada Imam  Ali. Para sahabat sendiri menganggap mereka sebagai orang yang paling ikhlas terhadap Imam Ali, tentu saja selain Bani Hasyim dan anak turunanya Ali sendiri.

Mereka adalah kaum Dhu‘afâ’ wal-Mustadh‘afîn (orang- orang lemah dan tertindas). Para budak dan orang-orang asing inilah yang dengan penuh keikhlasan setia mengikuti Imam Ali. Mereka pulalah yang pertama kali beriman kepada Allah dan berada di sekeliling Nabi Muhammad  Saw. Merekalah yang mengikuti Ali bukan karena tamak akan kedudukan dan materi namun karena mengikuti wasiat Rasulullah Saw.

Dalam tulisan lalu, kita sudah ulas Sahabat Salman Al-Farisi yang Kehidupan  Salman seolah menjadi  legenda yang diperdebatkan  oleh para sahabat. Konon,  ia pernah  hidup sezaman dengan  para pengikut  pertama  Nabi  Isa (Al- Hawâriyyûn). Bagaimana dengan kisah Abu Dzar yang dikenal sangat peduli dengan masyarakat miskin tersebut?

Abu Dzar al-Ghifari

Abu Dzar adalah salah seorang tokoh terkemuka Syi’ah yang mempunyai karakteristik tersendiri. Dengan terus terang, dia menyatakan keislamannya di Makkah. Itulah yang menjadi sebab ia mendapatkan  siksaan dari para pembesar Quraisy. Hampir  saja ia binasa karena tidak ada orang yang berani menolongnya, jika bukan berasal dari kafilah Ghifar, salah satu kabilah yang menguasai salah satu titik penting di jalur perjalanan yang senantiasa dilalui kafilah dagang Quraisy ke negeri Syam.

Peristiwa tersebut benar-benar membekas dalam jiwa Abu Dzar. Kejadian itu pula yang telah membentuk  tabiat ke-islamannya yang khas, yang mendorongnya untuk melakukan perlawanannya terhadap  kebiasaan menumpuk harta kekayaan. Abu Dzar sadar betul bahwa perlawanan bangsa Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad Saw disebabkan oleh ketakutan mereka akan kehilangan pengaruh  dan harta kekayaan.

Islam adalah agama penyelamat bagi kaum tertindas yang kerap mendapatkan  tekanan dari kekuasaan kaum jet-set Makkah. Karena pertimbangan itulah, Abu Dzar menentang kebijakan Khalifah Utsman. Pada masa kekhalifahan Utsman, secara sadar atau tidak, harta Bait al-Mâl yang dibelanjakannya telah menyebabkan munculnya  kembali golongan aristokrat baru, kelompok  borjuis Bani Umayyah,  musuh  pertama Islam. Itulah  yang kemudian  memicu  timbulnya  ketidak- puasaan di kalangan umat Islam, khususnya para sahabat yang bukan berasal dari satu klan dengannya.

Puncaknya, Utsman tewas di tangan para sahabatnya sendiri. Kenyataan ini perlu ditegaskan di sini. Dongeng berupa sejarah yang selama ini beredar menyatakan bahwa pembunuh Utsman  adalah para pemberontak yang telah terprovokasi oleh Abdullah bin Saba’, seorang pendeta Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Padahal, sebenarnya dokumen  sejarah menegaskan bahwa justru sahabat-sahabatlah yang terlebih  dahulu  mengobarkan  api pemberontakan  terhadap Utsman.  Aisyah, Ummul Mu’mi- nin,  adalah orang yang pertama  kali menyebut  Utsman dengan  sebutan  “Na’tsâl” (Si Tua  Bangka) dan berkata, “Bunuhlah  Si Na’tsâl, karena sesungguhnya ia telah kafir.”

Bahkan, yang memenggal kepala Utsman  adalah seseorang yang, menurut  dongeng, termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.28 Pantaskah seorang yang katanya dijamin masuk surga membunuh saudaranya seiman dengan sadis? Fa’tabirû yâ ulil-abshâr.

Kita kembali ke Abu Dzar. Kedekatan Abu Dzar dengan Imam Ali tampak pada penolakannya untuk  membaiat Abu Bakar pada awal sengketa yang terjadi dalam persoalan khilafah. Lebih jelas lagi ketika Imam  Ali, disertai kedua anaknya beserta saudaranya, Aqil bin Abi Thalib  dan ke- ponakannya, Abdullah bin Ja‘far, melepas kepergian Abu Dzar ke tanah pengasingan, Rabadzah, ketika Khalifah Utsman mengusirnya dari Madinah.

Abu Dzar diusir karena senantiasa melancarkan kritikan pedas terhadap gaya hidup kroni-kroni penguasa saat itu. Abu Dzar kerap mengecam tindakan mereka yang selalu menjual ayat-ayat Al-Quran  demi  memuaskan  nafsu kekuasaan mereka. Sebagai contoh, Muawiyah pernah menafsirkan ayat Al-Quran di bawah ini sekehendak hatinya:

Dan mereka yang menyimpan  emas dan perak  serta tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka sampaikanlah kepada mereka ‘kabar gembira’ dengan siksaan Allah yang sangat pedih.

Menurut Muawiyah, ayat tersebut turun hanya berkenaan dengan Ahli Kitab. Abu Dzar “merasa gerah” dengan tafsiran Muawiyah tersebut.  Dia menentang  keras penafsiran yang serampangan itu. Menurut Abu Dzar, ayat itu diturunkan untuk mereka (Ahli Kitab) dan kita (kaum Muslimin).  Abu Dzar menganggap Muawiyah telah menafsirkan ayat suci menurut  kehendak  nafsunya. Sebagai penjaga kemurnian nilai-nilai Islam, Abu Dzar merasa perlu untuk menampakkan kebenaran kepada khayalak. Karena penentangannya terhadap tafsiran Muawiyah di atas, Abu Dzar menerima “hadiah peng- usiran” dari Madinah dari penguasa saat itu yang masih satu klan dengan Muawiyah.

Abu Dzar menerima ‘hadiah’ tersebut dengan ikhlas demi mempertahankan kemurnian ajaran Islam yang saat itu sudah banyak diselewengkan, padahal wafatnya Rasulullah Saw belum lama. Sungguh  terbukti  benar Nubuwat  Rasulullah Saw yang mengabarkan bahwa Abu Dzar akan meninggal di pengasingan dan dikuburkan di tanah yang tak bertuan.

Dalam pengasingannya Abu Dzar selalu berwasiat kepada para sahabat yang menjenguknya  untuk  selalu setia kepada Imam Ali Kw sebagai panutan dan pemimpin  yang sah bagi kaum mukminin setelah Rasulullah Saw. Demikianlah seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-Hadid dalam kitabnya, Syarh Nahj al-Balâghah juz 3 hlm. 257:

Dari Abi Rafi’; ia berkata, “Aku menjenguk Abu Dzar di Raba- dzah untuk mengucapkan selamat tinggal. Saat hendak pulang, ia berkata kepadaku dan kepada rombongan yang bersamaku,

‘Nanti akan terjadi fitnah. Hendaknya kalian semua bertakwa kepada Allah Swt. Hendaknya kalian setia kepada Syaikh Ali bin Abi Thalib dan ikutlah bersamanya, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw berkata kepadanya, ‘Engkau yang pertama  kali beriman kepadaku,  yang pertama  kali menyalamiku di hari kiamat; engkau ash-Shiddîq  al-Akbar, engkau al-Fârûq yang memisahkan  antara yang hak dan yang batil, engkau saudaraku, menteriku, dan sebaik-baik orang yang aku tinggalkan sesudahku, engkau membayar hutangku  dan memenuhi janjiku.”

 

(Ust Babul Ulum, Merajut Ukhuwah , Memahami Syiah)

About Aba Fatma

Check Also

Kepeloporan Syi’ah dalam llmu Fiqih (1): Orang Pertama Pengarang Kitab Fiqih

Tentang Orang Pertama yang Pengarang Kitab di Bidang llmu Fiqih, Merumuskan dan Menyusun Bab-babnya Ketahuilah bahwasanya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *